Kutemukan Cinta Di Ujung Senja

Kutemukan Cinta Di Ujung Senja
Menggantikan Ibu


__ADS_3

Harapanku tak pernah luntur, yang aku tahu saat ini aku hanya ingin terus berusaha tanpa mengenal kata menyerah, sama seperti apa yang di katakan oleh Ibuku.


"Loh Ibu kenapa?" tanyaku yang baru saja sampai di depan rumah,


Ibu terlihat berjalan dengan langkah terseok-seok, dia terlihat menahan rasa sakit yang entah apa penyebabnya.


"Ibu kenapa?" aku yang tidak mendapat jawaban kembali bertanya seraya berlari mendekat ke arah Ibu yang berada di depan rumah.


"Hati-hati!" sambung ku sambil merapat ke arah Ibu yang justru menampakkan sebuah senyuman meski dia tengah terluka dan aku yakini jika saat ini dia sedang menahan rasa sakit.


"Ibu kenapa?" aku terus bertanya karena Ibu tak kunjung menjawab pertanyaan yang aku ajukan.


"Tadi ibu tidak sengaja menjatuhkan gelas, dan pecahan gelasnya itu terkena Kaki Ibu Karena itulah Ibu pulang dengan keadaan seperti ini, "jelas ibu.


Ku tatap wajah Ibu dengan tatapan sendu, sungguh hatiku tersayat saat melihat wajahnya, tidak seharusnya Ibu bekerja sekeras sekarang, harusnya beliau beristirahat dan aku yang harusnya menggantikan pekerjaan Ibu.


"Apa lukanya sudah di obati?" aku yang tak pernah bisa melihat Ibu terluka terus saja bertanya hingga aku merasa puas dengan jawaban Ibu dan melihat keadaan Ibu baik-baik saja.


"Tadi sudah di obati, sudah jangan khawatir! Ibu baik-baik saja kok," jawab Ibu dengan ekspresi wajah meyakinkan Ibu menjawab pertanyaanku.


"Senja," sambung Ibu.


"Iya, kenapa Ibu? apa ada sesuatu yang Ibu inginkan?" sahutku.


"Apa Ibu boleh meminta bantuanmu, Nak?" Ibu menjawab pertanyaaku dengan sebuah pertanyaan yang cukup membuatku penasaran.


"Tentu saja, apa yang Ibu inginkan dariku?" sahutku dengan wajah penasaran yang masih terlihat jelas di wajahku.

__ADS_1


"Mungkin dua atau tiga hari ini Ibu tidak bisa bekerja, seandainya kalau Ibu minta bantuan kamu untuk menggantikan Ibu bekerja di sana bagaimana? Apa kamu sanggup?" Ibu menjelaskan apa yang ingin dia katakan.


"Tentu saja, aku akan lakukan apapun yang Ibu minta, jangankan menggantikan Ibu untuk sementara, selamanya pun aku mau, asal Ibu bisa tetap sehat," Jawabku yang menyanggupi permintaan Ibu.


"Alhamdulillah, jika kamu bersedia, nanti Ibu akan tunjukkan di mana Ibu bekerja dan Ibu juga akan jelaskan apa tugasmu di sana," tutur Ibu.


"Aku akan melakukan yang terbaik untuk menggantikan Ibu dan aku akan berusaha agar majikan Ibu tidak kecewa nanti," ujarku penuh semangat dan keyakinan tinggi agar Ibu juga yakin dengan apa yang akan aku lakukan.


"Ibu percaya kamu, Nak," Ibu selalu saja bisa membuat aku bersemangat dan tak bisa menyerah, meski saat ini aku sama sekali tidak bisa beristirahat dengan tenang dan damai tapi aku merasa tidak apa-apa.


"Maafkan Ibu yang tak pernah bisa membahagiakanmu Nak," ujar Ibu seraya mengusap lembut rambut panjangku yang kini sedang terikat indah di belakang.


"Harusnya aku yang meminta maaf padamu, Ibu, bukan sebaliknya," sahutku yang merasa jika saat ini akulah yang seharusnya membantu Ibu, bukan malah terus menyusahkan ataupun menggantungkan diri padanya.


"Sudahlah, jangan menyalahkan diri! lebih baik sekarang kita berusaha agar bisa hidup jauh lebih baik lagi," ujar Ibu yang terus saja mengusap lembut rambutku, seolah memberi kekuatan agar diriku bisa jauh lebih kuat dan bersemangat lagi.


"Ini baru puteri Ibu, istirahatlah! supaya besok kamu bisa merasa jauh lebih segar dan bersemangat untuk menggantikan Ibu sementara," ucap Ibu.


"Baik, Bu," jawabku seraya memapah Ibu agar dia masuk ke dalam rumah dan bisa ikut beristirahat juga.


Sesuai dengan perintah Ibu yang menyuruhku untuk istirahat, aku langsung masuk ke dalam kamar setelah mengisi perut dan membersihkan tubuhku yang mulai terasa lengket ke dalam kamar, aku mulai merangkai mimpi dan mencoba mencari ketenangan hati lewat mimpi indah yang ku harap hadir malam ini.


Hingga malam usai, aku yang merasa jauh lebih baik kini sedang bersiap menggantikan tugas Ibu untuk bekerja.


"Apa kamu sudah siap, Nak?" tanya Ibu dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


"Sudah, Ibu," jawabku yang memang sudah siap dengan baju yang menurutku sopan dan pantas di gunakan untuk bekerja.

__ADS_1


"Tunggu, Bu!" cegahku saat melihat Ibu berjalan dengan kaki yang tidak normal keluar dari kamarnya.


"Iya, kenapa, Nak?" sahut Ibu menatap aneh ke arahku.


"Apa tidak sebaiknya Ibu diam di rumah saja? biar Senja yang pergi, Ibu tinggal berikan alamat di mana Ibu bekerja," ujarku yang tak tega jika harus melihat Ibu berjalan dengan langkah terseok-seok seperti saat ini.


"Sebenarnya kemarin aku sudah izin dan berpesan jika yang akan datang itu kamu, tapi aku ingin mengantarmu khawatir jika nanti kamu malah merasa tidak enak hati atau merasa takut untuk langsung masuk ke dalam rumah itu," Ibu menjelaskan alasan dirinya yang ingin mengantarmu pergi.


"Ibu tenang saja, aku tidak akan pernah merasa takut ataupun tidak enak hati, lebih baik sekarang Ibu kasih tahu aku saja di mana alamat rumah majikan Ibu? biar aku sendiri yang berangkat." Ujarku yang tidak ingin menyusahkan Ibu.


"Tunggu sebentar!" ujar Ibu terus melangkah masuk ke dalam kamar kemudian keluar dengan secarik kertas yang berisi alamat majikan Ibu.


"Senja pamit dulu, Bu." Pamitku sambil meraih tangan Ibu dan mencium punggung tangannya.


"Hati-hati di jalan!" pesan Ibu yang ku sahut dengan jempol yang ku acungkan sebagai pertanda jika aku baik-baik saja.


Langkahku terasa ringan berjalan melewati trotoar, aku memilih berjalan kaki karena jarak antara rumahku dan rumah majikan Ibu tidak terlalu jauh, lebih hemat ongkos meski tenagaku cukup terkuras karenanya tapi aku merasa baik-baik saja.


Sebuah bangunan terlihat mewah dan menjulang tinggi di antara bangunan-bangunan yang lain, menunjukkan bahwa betapa kayanya mereka dan betapa berkuasanya pemilik Rumah itu.


"Apa benar ini rumahnya? " tanyaku sambil menatap rumah yang begitu megah dihadapanku saat ini.


Cukup lama aku berdiri mematung menatap kemegahan rumah yang ada di hadapanku ini hingga seorang satpam berlari membuka gerbang dan menghampiriku.


"Anda siapa? apa ada yang bisa saya bantu?" tanya satpam yang pernah name tag Santo.


"Maaf saya anak dari Sulastri pembantu di sini, dan Saya datang untuk menggantikan tugas beliau di sini." Aku menjelaskan tujuanku datang dan berdiri di depan gerbang megah yang saat ini sedang terbuka.

__ADS_1


"Tunggu sebentar!" ujar Pak Santo seraya mengambil ponsel dan menghubungi seseorang yang entah siapa? aku hanya diam memperhatikan apa yang di lakukan Pak Santo tanpa banyak bertanya.


__ADS_2