
"Kenapa Mbak Senja buka pintu belakang?" tanya Tania saat melihat aku hendak membuka pintu bagian belakang mobil.
"Mbak Senja mau duduk di belakang Tania," jawabku yang memang merasa jika aku kurang pantas berada di jok depan tepat di samping Arka yang sedang menyetir.
"Aku bukan sopirmu Senja! duduk di depan bersama Tania!" titah Arka yang terdengar tegas tidak terbantahkan.
"Baiklah," lirihku yang langsung mengikuti langkah Tania untuk ikut duduk di depan bersamanya.
Aku merasa seperti seorang Mama yang sedang duduk dengan putrinya di jok bagian depan dengan Tuan Arka yang menjadi Ayahnya.
'Astaga, kenapa otakku malah mikir yang enggak-enggak gini sih,' batinku yang mulai berkeliaran tanpa arah, hingga membuatku lupa diri dan tidak ingat dengan posisi yang aku punya saat ini.
Mobil terus melaju menuju pasar malam yang sudah aku tunjukkan tempatnya pada Tuan Arka, sepanjang perjalanan tidak ada yang berbicara, Tuan Arka fokus menyetir sedang aku hanya menyahuti setiap ucapan Tania yang sedang menanyakan banyak hal baru yang menurutnya menarik untuk di bahas, hingga mobil sampai di pasar malam yang terlihat cukup ramai, karena hari ini hari Sabtu, jadi ada banyak pemuda pemudi yang menghabiskan waktu malam Minggu mereka di tempat ini.
"Mbak ramai sekali," seru Tania saat melihat sebuah pasar malam yang begitu ramai dengan gemerlap lampu berwarna-warni yang semakin memperindah suasana.
"Mbak aku ingin naik itu, yang itu dan itu juga," sambung Tania sambil menunjuk beberapa wahana yang ada di hadapannya, wajah Tania penuh binar kebahagiaan menatap setiap wahana yang ada di depan mata membuatku semakin merasa bahagia, entah mengapa perasaan bahagia itu muncul saat melihat Tania bahagia meskipun dia bukan anak kandung ku sendiri tapi aku merasa begitu dekat dengannya, mungkin semua itu terjadi karena aku sering menghabiskan waktu bersamanya beberapa hari ini, terbiasa bersama mungkin juga menjadi alasan kenapa aku bisa merasa begitu dekat dengan Tania yang merupakan anak dari majikan ku sendiri.
"Pa, ayo masuk!" ajak Tania yang kini justru terlihat tidak sabar ingin segera masuk ke dalam dan menikmati setiap wahana yang ada di sana.
"Iya, ayo!" sahut Tuan Arka yang langsung menarik tanganku agar ikut bersamanya.
Melihat sikap Tuan Arka membuatku terkejut, sungguh aku tidak pernah menyangka jika Tuan Arka yang biasanya dingin kini langsung meraih tanganku dan mengajakku masuk ke dalam pasar malam.
"Apa Tania mau gula kapas?" tawar Tuan Arka.
"Apa boleh, Pa?" tanya Tania yang terlihat ragu dengan apa yang baru saja di tawarkan oleh sang Papa, biasanya Tania di larang minum es ataupun makan permen, termasuk gula kapas yang saat ini di tawarkan oleh Tuan Arka sendiri.
__ADS_1
"Untuk hari ini Papa akan mengizinkan kamu makan gula kapas dan permen, tapi tidak untuk lain hari," jawab Tuan Arka.
"Asyik, aku bisa makan gula kapas hari ini," seru Tania yang kini beralih memegang tanganku dan memelukku dari samping.
"Apa Tania senang hari ini?" tanyaku saat melihat binar kebahagiaan terpancar jelas di wajah Tania.
"Tentu saja, semua ini karena Mbak Senja, aku bisa bermain di pasar malam dan makan gula kapas," ujar Tania yang kini memelukku lebih erat dari sebelumnya.
"Semua ini bukan karena Mbak Senja, tapi karena Papa sayang sama Tania," sahutku yang mencoba menyadarkan Tania betapa sang Papa menyayanginya.
"Mbak Senja benar, aku Sayang Papa," kali ini Tania memeluk Tuan di Arka begitu erat setelah melepas pelukannya padaku.
"Sudah, acara pelukannya di lanjut nanti, lebih baik sekarang kita beli gula kapas dulu," seru Tuan Arka yang langsung menggenggam erat tangan sang putri kemudian melangkah mendekat ke arah penjual gula kapas yang ada di hadapannya itu.
"Pak! gula kapas dua," ujar Tuan Arka sesaat setelah sampai di depan penjual gula kapas.
"Kenapa Tuan membeli gula kapas sebanyak itu?" tanyaku yang merasa dia gula kapas bukanlah jumlah yang baik untuk di konsumsi oleh anak-anak seperti Tania.
Bukannya menjawab, Tuan Arka hanya tersenyum ke arahku, sebuah senyum manis yang sangat jarang aku lihat, sebuah senyuman yang terlihat begitu menawan, adai saja dia lebih sering tersenyum, semua orang pasti akan menyukainya.
"Berapa?" tanya Tuan Arka sesaat setelah dua gula kapas selesai di buat.
"Dua puluh ribu rupiah," jawab sang pedagang.
Mendengar jawaban sang penjual, Tuan Arka langsung mengambilkan uang berwarna biru untuk di berikan pada sang penjual.
"Tuan, ini kembaliannya." Ujar sang penjual sambil mengulurkan uang pecahan yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Ambil saja!" sahut Tuan Arka acuh seraya pergi meninggalkan penjual gula kapas yang tersenyum senang dan mengucapkan kata terima kasih berulang kali.
"Ini untukmu." Tuan Arka memberikan satu gula kapas ke arahku.
"Untukku?" sahut ku bingung dengan apa yang baru saja dia lakukan.
"Kenapa? kamu tidak suka?" sahut Tuan Arka.
"Tidak, aku suka gula kapas, terima kasih Tuan," jawabku yang langsung mengambil alih gula kapas yang ada di tangannya.
"Ini untukmu putriku," ujar Tuan Arka begitu manis ke arah Tania yang tersenyum senang mendapat gula kapas dari Tuan Arka.
"Makasih Papa," seru Tania yang langsung membuka dan melahap gula kapas yang baru saja di berikan oleh Tuan Arka.
Tuan Arka hanya tersenyum sambil mengusap lembut kepala Tania, mencoba menyalurkan setiap perasaan yang dia miliki padaTania.
"Pa, ayo naik biang lala!" ajak Tania yang kini menarik tangan Tuan Arka dan juga tanganku.
Permainan yang paling aku benci sekaligus aku takuti, sungguh dari sekian banyak permainan, bianglala adalah permainan yang paling ingin aku jauhi, semua itu karena aku yang takut ketinggian tidak mungkin untuk menaiki wahana itu.
"Maaf Tania, Mbak Senja tidak bisa ikut," ucapku mencoba menolak ajakan Tania yang cukup membuatku sport jantung sebelum memulai.
"Kenapa Mbak Senja tidakmau ikut?" tanyaTania yang langsung menatapku dengan ekspresi wajah kecewa.
"Em, Mbak tunggu di sini aja, biar bisa lihat Tania naik ke atas," jawabku yang tak bisa mencari alasan untuk tetap menolak permintaan Tania.
"Ikutlah! Tania terlihat begitu berharap kamu bisa ikut bersama dengannya," kali ini Tuan Arka yang meminta, aku tak begitu memperhatikan ataupun mendengar ucapan Tuan Arka, yang aku tahu saat ini aku harus bisa melawan rasa takutku agar bisa ikut bersama Tuan Arka dan Tania naik biang lala.
__ADS_1
"Apa kamu takut?" Tuan Arka kembali bertanya padaku yanh sedang diam sambil melihat ke arah biang lala yang tengah berputar.