
Sam langsung keluar dari mobil menemui orang yang pernah dia suruh untuk menagih hutang ke keluarga Senja.
"Katakan!" titah Sam sesaat setelah dia duduk tepat di depan orang yang sudah menunggunya.
"Tuan, kami meminta sisa bayaran yang pernah Tuan berikan, sesuai kesepakata jika kami berhasil membuat calon istri Tuan merasa berhutang budi dan menakut-nakutinya, Tuan akan membayar sepuluh juta, jadi saya minta lima juta karena waktu itu Tuan membayar kami lima juta," ujar laki-laki yang dulu pernah menagih Senja dan Ibunya.
Tanpa di ketahui Sam, Senja duduk tidak jauh dari tempat Sam duduk, Senja sengaja menutup wajahnya dengan buku menu yang ada di sana.
"Apa? jadi semua yang terjadi ulah Sam sendiri, dia biang kerok dari semua masalah yang ada dalam keluargaku," ujar Senja.
Tanpa banyak kata, Senja langsung berdiri berjalan menghampiri Sam yang duduk tepat di tempatnya duduk.
Melihat Senja yang berdiri dan berjalan menghampirinya cukup membuat jantung Sam berdetak kencang, kehadiran Senja seperti bom molotov yang tengah meledak, mengejutkan Sam.
"Senja," lirih Sam sambil terus menatap Senja yang berjalan ke arahnya, apa yang di lakukan Sam sukses membuat Iwan dan laki-laki yang ada di hadapan Sam ikut menoleh ke arah Senja, raut wajah pias terlihat jelas di wajah ketiganya, Senja berhasil membuat suasana cafe yang semula biasa saja menjadi mencekam, aura kemarahan dan kekecewaan tercampur jadi satu.
"Aku salut dengan actingmu Sam, harusnya kamu mendapat penghargaan karena acting yang kamu lakukan," ujar Senja dengan senyum kepedihan dan air mata yang mengalir tanpa di perintah.
"Senja, aku bisa menjelaskan segalanya," ucap Sam yang langsung berdiri menghampiri Senja dengan wajah bingung bercampur takut, bayang-bayang kepergian Senja mulai membayangi fikiran Sam, sungguh saat ini dia tidak ingin Senja pergi sebelum mendengar penjelasannya.
"Senja, aku mohon padamu dengar kan penjelasanku dulu!" pinta Sam sambil memegang kedua tangan Senja berharap dia akan luluh dan bisa memaafkannya.
__ADS_1
"Apa yang aku dengar sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, Sam," sahut Senja dengan gerakan cepat dan keras melepas genggaman tangan Sam.
Kekecewaan yang di torehkan Sam mampu membuat Senja melupakan segala kebaikan yang pernah di lakukan Sam, laki-laki yang beberapa jam lalu menjadi laki-laki yang paling nyaman untuk Senja bersandar, laki-laki yang di anggap pilihan terbaik dan paling baik yang pernah Senja kenal, semua itu hilang dalam sekejap mata.
"Senja! kamu harus tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan kenapa semua ini bisa terjadi," Sam sedikit berteriak agar Senja mendengar apa yang dia Katakan, saat ini Sam berlari mengejar Senja yang lebih dulu berlari meninggalkannya.
"Aku mohon dengarkan penjelasanku dulu," pinta Sam yang berhasil menggenggam erat jemari Senja.
"Sam, aku mohon padamu, lepaskan tanganku, berikan aku waktu sendiri lebih dulu! aku tidak akan pernah bisa menerima apapun yang kamu jelaskan saat ini, tolong biarkan aku pergi!" Senja memilih untuk memohon pada Sam agar dia mau melepaskannya, karena percuma saja Senja mendengar semua penjelasan Sam saat ini.
"Tapi kamu harus tahu satu hal Senja, aku melakukan semua ini karena aku begitu mencintaimu, dan aku tidak ingin kamu pergi dari sisiku, aku mohon padamu jangan pergi dariku," suara Sam yang memohon pada Senja tak kalah dengan suara Senja yang memohon pada Sam, suara Sam terdengar putus asa.
Tapi rasa kecewa dan amarah yang sedang menguasai hati Senja tak bisa menghilangkan atau bahkan menggoyahkan hati Senja, dengan sekuat tenaga Senja berusaha melepas genggaman tangan Sam, dan pergi meninggalkannya begitu saja.
Aku tak pernah menyangka jika Sam akan berbuat seperti itu, rasanya hatiku masih tidak bisa menerima jika Sam sekejam itu padaku, apa lagi pada Ibuku, selama ini Sam begitu baik dan terlihat begitu menyayangi Ibu dan diriku, tapi kenapa dia tiba-tiba bisa berlaku sekejam kemarin, aku terus melangkah tanpa arah dengan segudang tanya yang menyelimuti seluruh hatiku.
rasanya di dunia ini tidak ada laki-laki yang bisa di percaya, Sam yang super baik saja bisa berbuat kejam, apa lagi laki-laki lain, langkahnya terus melaju meski aku tak tahu ke mana dia akan membawaku, hingga sampailah aku di sebuah taman duduk di atas bangku dengan pohon rindang di sampingnya seolah memberikan ruang untuk aku yang tengah di selimuti rasa kecewa, air mata tak mau berhenti mengalir membasahi pipi, menandakan jika saat ini aku sedang tidak baik-baik saja, hatiku hancur setelah mendengar orang yang paling aku percaya dan aku cinta ternyata melakukan hal yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya, hanya tangis dan air mata yang mampu meredakan rasa sakit juga kecewa yang sedang aku rasakan, meski mataku tertutup tapi air mata ini tak mau berhenti mengalir.
Perlahan aku membuka mata setelah merasa puas menangis, dan betapa terkejutnya aku ketika melihat sebotol air mineral berada tepat di depan mataku.
"Menangis juga butuh energi, Senja," suara seorang laki-laki yang sangat familiar terdengar dan membuatku reflek menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Tuan Arka," lirihku saat melihat Tuan Arka berdiri tepat di sampingku, entah sejak kapan dia berada di sana? aku tak mengerti kenapa dia bisa ada di sampingku.
"Menangis saja sepuasnya! setelah itu bangkit dan lanjutkan hidupmu!" ujar Tuan Arka seraya berdiri hendak pergi meninggalkanku yanh masih di selimuti rasa penasaran dengan kehadiran Tuan Arka yang tiba-tiba.
"Tunggu, Tuan!" cegahlah yang memang sangat sulit untuk menahan rasa penasaran yang selalu muncul dalam diriku.
"Hm," sahut Tuan Arka singkat, tapi dia tetap menoleh ke arahku dan menghentikan langkahnya.
"Kenapa Tuan bisa ada di sini?" tanyaku.
Bukannya menjawab Tuan Arka malah tersenyum dan berjalan kembali mendekat ke arahku dan duduk di sampingku, meski sikapnya itu membuatku semakin bingung dan penasaran tapi sekuat tenaga aku mencoba memendamnya dalam diam.
"Kamu marah-marah di cafe tanpa melihat ada siapa saja di sana, dan aku sedang melakukan pertemuan dengan client di cafe yang sama, apa kamu tidak melihatku mengikuti langkahnya yang kelimpungan itu?" ujar Tuan Arka.
Apa yang di katakan Tuan Arkasukses membuatku tercengang, dia bilang sedang bertemu client dan pergi begitu saja untuk mengikuti langkahku, bolehkah aku merasa baper? atau berharap Tuan Arka memiliki perasaan lebih padaku jika tak ku ingat kalau Tuan Arka masih memiliki istri.
"Hm," deheman Tuan Arka mengejutkan sekaligus menyadarkan aku jika saat ini aku sedang berbicara padanya.
"Maaf, Tuan," ucapnya sambil menunduk, pasalnya sejak tadi aku sedang menatap wajah Tuan Arka.
"Selesaikan tangismu! setelah itu selesaikan tugas dariku!" titah Tuan Arka yang kini kembali berdiri meninggalkanku sendirian di taman, Tuan Arka memang begitu membingungkan, terkadang dia baik, terkadang kejam, terkadang dingin matang-matang juga penuh perhatian dan hangat, Tuan Arka memang laki-laki yang sulit di tebak.
__ADS_1
"Kenapa aku malah mikirin Tuan Arka?" gumamku sambil meminum air mineral yang tadi di berikan oleh Tuan Arka.
"Ternyata Tuan Arka benar, menangis itu butuh tenaga," sambungku saat air mineral yang ada di tanganku telah tandas tak tersisa.