
"Kau terlihat begitu lelah Senja, ada apa? apa ada masalah?" tanya Ibu, sesaat setelah aku masuk ke dalam rumah.
"Tidak ada Ibu, Aku hanya merasa lelah setelah seharian bekerja, dan aku ingin segera istirahat," jawabku singkat padat dan jelas, sungguh aku merasa telah bekerja begitu keras hari ini, bahkan pekerjaan yang aku kerjakan tidak ada apa-apanya dengan pekerjaan yang kemarin aku kerjakan, rasanya bukan cuma tubuhku yang bekerja hari ini, tapi jiwa dan kentalku juga ikut bekerja, untung saja kejadian tadi berada di dalam ruang direktur, jika tidak aku pasti akan sangat malu di buatnya.
"Ibu masak apa hari ini?" aku kembali bertanya setelah membersihkan diri, meski tubuhku telah terguyur air dingin yang biasanya langsung merasa segar setelahnya, tapi rasa lelah yang sejak tadi hinggap tak kunjung menghilang meski sedikit berkurang.
"Ibu tidak memasak, hari ini di rumah Oma sangat sepi, Tuan Arka dan yang lain tidak pulang, begitu juga dengan Tania yang ikut Arka, alhasil masakan Ibu tadi siang masih utuh hanya di makan sedikit," jelas Ibu.
Tanpa Ibu beritahu aku sudah mengerti maksud dari penjelasan Ibu yang berarti hari ini aku akan makan enak, karena Ibu membawa makanan dari rumah Tuan Arka.
'Bagaimana bisa ada orang jika Nyonya Angel dan Tuan Arka juga Tania berada di kantor, mereka semua membuatku tidak nyaman dan tidak bebas saat bekerja, huft," aku kembali mengeluh, Aku sadarkan tubuhku di sandaran kursi saat mengingat semua yang telah aku lewati hari ini.
"Jika kamu merasa pekerjaanmu itu terasa begitu berat, dan kamu tidak mampu untuk meneruskannya, jangan di paksakan, Nak! masih ada banyak tempat untuk mencari rizki, tinggalkan saja!" ujar Ibu yang terlihat tidak tega dengan keadaanku saat ini.
"Ibu, aaku hanya menjadi tukang bersih-bersih dan membuat kopi di sana, jadi tidak ada yang berat ataupun memberatkanku, hanya saja, hari ini ada acara di sana, karena itulah aku sedikit kelelahan karena harus bekerja ekstra hari ini," aku mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengan senyum yang ku buat lebar,
"Jika memang pekerjaanmu begitu ringan, kenapa wajahmu seperti kuli bangunan yang baru pulang bekerja?" seperti biasa, Ibu tidak akan pernah puas dengan jawaban yang aku berikan, dia memang serba tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi padaku.
"Ibu, Aku lapar dan menu di meja ini begitu menggoda, bisakah kita makan saja?" aku lebih memilih mengalihkan pembicaraan dari pada terus menjawab ucapan Ibu yang pasti akan berujung kejujuran yang akan membuat Ibu bingung sekaligus terkejut.
"Makanlah dulu! kamu memang terlihat butuh energi," sahut Ibu, Aku hanya bisa nyengir kuda mendengar ucapan Ibu.
Dengan begitu lahapnya aku menghabisakan satu porsi penuh makanan di meja makan kali ini, bagaimana tidak habis, Ibu membawa makanan dengan menu istimewa yang biasanya hanya bisa aku makan jika ada acara tertentu atau di hari-hari besar. Demi menghindari pertanyaan Ibu aku langsung masuk ke dalam kamar setelah makan.
Tanpa terasa, waktu bergulir dengan cepat, setelah kejadian waktu itu aku tak melihat Tania lagi, mungkin dia tidak di izinkan ikut oleh Nyonya Angel, atau mungkin Tania harus sekolah, Aku tak pernah tahu kabarnya lagi.
Tin ... tin ... tin ....
Suara klakson mobil terdengar nyaring hingga ke dalam kamar.
__ADS_1
"Siapa aku, pagi-pagi sudah ribut di halaman orang?" gerutuku saat mendengar klakson mobil kembali terdengar, dengan langkah penuh ketegasan dan sedikit emosi aku berjalan cepat menuju ruang tamu hingga aku bisa melihat siapa yang datang.
'Apa itu Sam?' batinku menatap mobil mewah yang ada di hadapanku saat ini.
Tok ... tok ... tok ....
Suara ketukan pintu mengejutkanku yang tengah bersembunyi di balik selambu untuk mengintip siapa yang datang.
'Ceklek'
Dengan cepat aku buka pintu yang kini berada tak jauh dari tempatku berdiri.
"Sam," lirihku, tapi masih bisa di dengar oleh Sam meski ku yakin suara yang dia dengar begitu kecil.
"Pagi Sayangku," sapa Sam dengan tatapan penuh cinta dan rindu yang terjadi satu dan terlihat jelas di wajah Sam.
"Aku baru pulang dari kota B, Aku sengaja langsung datang ke sini setelah dari sana agar bisa pulang bareng calon istriku ini," ujar Sam.
"Jadi kamu belum pulang sama sekali?" tanyaku penasaran, dua hari yang lalu, Sam berpamitan untuk pergi keluar kota menyelesaikan tugas dari sang Mama untuk mengecek perkebunan yang ada di sana.
"Belum," jawab Sam enteng, tapi ekspresi Sam jauh berbeda dengan ekspresi yang aku tunjukkan, Aku begitu terkejut mendengarnya, karena seharusnya Sam pulang lebih dulu untuk menemui Mamanya. Bukan malah di sini.
"Sudah, jangan fikirkan diriku! lebih baik sekarang kamu siap-siap! kita akan berangkat sekarang!" Sam memaksaku untuk bersiap ikut bersamanya. Dan aku yang mendengar ucapan Sam langsung berdiri melenggang pergi meninggalkan Sam yang masih setia duduk di kursi.
Aku hanya butuh waktu lima menit untuk mengganti baju dan bersiap ikut bersama Sam, untung saja Ibu pernah membelikanku gaun selutut yang cukup bagus meski harganya tidak begitu mahal, tapi gaun yang di belikan Ibu ini cukup pas di badanku.
"Sam!" aku mencoba mengajak Sam yang terlihat melamun.
"Eh, iya," sahut Sam.
__ADS_1
"Ayo berangkat!" ajakku yang melihat Sam masih saja diam sambil menatap lekat ke arahku.
"I~iya, ayo!" Sam terlihat begitu terkejut menatap ke arahku.
"Kamu kenapa Sam?" tanyaku menatap bingung ke arah Sam yang terlihat masih setengah sadar dengan tatapan yang masih lurus ke arahku.
"Are you okey?" sekali lagi aku bertanya saat melihat Sam dengan keadaan yang sama.
"Aku terpana dengan penampilanmu hari ini, Sayang," jawab Sam yang sukses membuat pipiku memerah malu karenanya.
"Kita mau berangkat atau diam di sini melanjutkan gombaĺanmu?" tanyaku yang sebenarnya ingin menutupi rasa malu dan saling yang saat ini aku rasakan.
"Ayo berangkat!" Sam langsung meraih tanganku mengajakku keluar dari rumah kemudian membukakan pintu mobil mempersilahkan aku masuk ke dalamnya.
Aku hanya tersenyum menatap penuh rasa syukur ke arah Sam yang kini sedang fokus menyetir. Apa yang Sam lakukan tadi cukup membuatku salah tingkah dan sedikit menghilangkan rasa nervous yang ada dalam hatiku.
"Jangan terus menatapku seperti itu!" ujar Sam yang terlihat menutupi rasa nervous karena sejak tadi aku tatap.
"Emang ada larang untuk seorang pacar yang lagi nandang pacarnya sendiri?" sahutku yang mempertanyakan apa yang Sam katakan.
"Tidak ada," jawab Sam singkat.
"Jadi aku bebas donk, mandang pacar aku," ujarku dengan nada lembut.
"Bebas, tapi jangan salahkan aku kalau tiba-tiba aku berhenti dan menc***mu saat ini juga," tegas Sam yang cukup membuatku membulatkan mata sempurna, bagaimana mungkin Sam akan menci***mku di mobil tepat di tepi jalan pula, seketika aku bergidik ngeri mendengarnya, kemudian aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah lain agar Sam tidak melakukannya.
Sam langsung tertawa sesaat setelah mengucapkan kata-kata yang cukup membuatku takut itu.
"Kamu kenapa tertawa?" tanyaku menatap aneh ke arah Sam yang justru terlihat santai.
__ADS_1