Kutemukan Cinta Di Ujung Senja

Kutemukan Cinta Di Ujung Senja
Calon Istri?


__ADS_3

"Calon istri?" lirih Tuan Arka yang terlihat heran dengan kehadiran diriku yang kini berdiri tepat di hadapannya sambil menggandeng tangan Sam, sedang aku hanya tersenyum melihat ke arah keduanya tanpa mengeluarkan sepatah katapun karena aku khawatir membuat Sam malu.


"Sepertinya aku pernah melihatmu, tapi di mana ya?" istri Tuan Arka menatap ku lekat, dia terlihat berfikir keras untuk mengingat di mana dia pernah bertemu denganku.


"Angel!" suara seorang pria mengalihkan pandangan kami.


Pria yang cukup tampan dan aku yakini juga berasal dari keluarga kaya sama seperti tamu dan pemilik acara yang sedang aku datangi ini.


"Ah, Alex," sahut Nyonya Angel yang langsung berjalan mendekat ke arah Alex sambil cipika cipiki, keduanya terlihat begitu akrab satu sama lain, entah apa yang terjadi di antara mereka, aku tidak tahu dan tak mau tahu, Tuan Arka yang sejak tadi diam kini memalingkan wajah seolah tak suka dengan kehadiran Alex.


"Bisakah kita menjauh dari mereka?" fisikku tepat di telinga Sam yang langsung mengerti alasan aku ingin pergi dari tempat itu.


"Kalau begitu aku pergi dulu." Pamit Sam setelah memberikan hadiah yang entah kapan dia bawa dan aku juga tidak tahu kapan dia membungkusnya.


"Iya, silakan nikmati pestanya!" sahut Tuan Arka yang terlihat tidak lagi perduli dengan pesta yang tengah berlangsung.


Aku menarik lengan Sam berjalan menjauh kemudian kembali ke kursi dimana tadi kita duduk.


"Kamu terlihat gugup Kenapa, Sayang?" tajya Sam.


"Dia majikan Ibuku sekaligus bos pemilik perusahaan di kantor yang saat ini menjadi tempatku bekerja," aku menjelaskan alasan diriku yang merasa sungkan jika berhadapan dengan Tuan Arka dan Nyonya Angel.


"Terus kenapa jika dia majikan Ibu dan Bos di kantor tempatku bekerja? bukankah kamu ke sini untuk menemaniku? jadi tidak ada hubungannya dengan kita," Sam menjelaskan jika aku tidak di izinkan untuk merasa sungkan atau khawatir, yang terpenting saat ini aku akan menikmati pesta yang sudah aku hadiri.


"Bagaimana kalau sekarang kita pulang saja?" usulku saat aku merasa begitu bosan dengan suasana pesta yang menurutku sangat membosankan ini.


"Apa kamu ingin pulang sekarang?" bukannya menjawab Sam malah balik bertanya.


"Tentu saja, aku sudah lelah dan ingin segera beristirahat," jawabku, aku memang belum beristirahat, bukan hanya itu, aku juga ingin segera beristirahat pasalnya sejak pulang kerja tadi aku sama sekali belum pulang jangankan istirahat mandi saja aku belum.


"Baiklah, kita pulang sekarang." Seperti biasa Sam selalu menuruti apapun yang aku minta, dia lebih memilih menyampingkan kepentingan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Terima kasih," ujarku yang mengerti jika sebenarnya seharusnya Sam tidak pergi begitu saja, karena acara pesta belum selesai .


"Sudahlah jangan berterima kasih untuk hal yang memang sudah menjadi kewajibanku pada calon istriku, apapun yang kamu inginkan akan aku lakukan selagi aku mampu," ujar Sam yang sekali lagi mampu membuat aku tersenyum senang, sungguh aku bahagia mendapatkan kekasih sebaik Sam.


Kami kembali pulang dengan hati yang begitu bahagia, akhirnya aku bisa membuat Sam benar-benar memcintaiku, semoga saja Sam akan terus bersikap seperti saat ini meskipun kami sudah menikah nanti.


"Sudah jangan senyum -senyum sendiri seperti itu!" ujarku sambil menatap Sam yang masih setia tersenyum melihat ke arah kami.


"Senyum itu ibadah, Sayang," jawab Sam yang selalu saja bisa memengaruhi diriku untuk terus percaya dan tersenyum pada nya.


"Senyum tanpa sebab kamu bisa di anggap gila Sam?" celetuk diriku yang sedikit ngeri melihat senyum Sam saat ini.


"Aku tersenyum seperti sekarang hanya karena aku berada di sampingmu, dan aku merasa bahagia selama aku masih berada di sampingmu," ujar Sam yang membuatku bersemu merah karena malu.


"Apa kamu mau mampir atau mau langsung pulang?" tanyaku saat Sam membukakan pintu untukku.


"Besok saja aku akan datang lagi. Sekarang sudah malam, tidak baik untuk seorang pria bertamu ke rumah seorang gadis," jawaban yang sungguh membuatku senang, Sam sangat mengerti batasan diri agar tak ada yang terlihat buruk.


"Baiklah, terima kasih untuk hari ini, aku masuk dulu." Pamitku berjalan masuk ke dlam rumah.


"Iya, sebentar," suara Ibu terdengar dari dalam rumah.


"Apa pestanya sudah selesai?" tanya Ibu.


"Belum, Bu," jawabku.


"Kalau belum selesai kenapa di tinggal pulang?" Ibu kembali bertanya.


"Aku lelah Ibu, karena itulah aku meminta Sam untuk pulang sekarang, aku ingin istirahat," jawabku jujur.


"Kalau begitu istirahatlah!" jawab Ibu.

__ADS_1


Aku melangkah masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar untuk mengambil handuk membersihkan diri kemudian beranjak pergi menuju dunia mimpi agar aku punya kekuatan untuk menghadapi hari esok.


"Pagi, Ibu," panggilku penuh semangat.


Hari minggu adalah hari yang paling aku tunggu dan aku sukai, sama seperti dulu saat aku bersekolah, bekerja pun aku selalu menunggu hari minggu untuk bersantai dan menikmati masa muda.


"Assalamualaikum," suara Sam terdengar mengusik pagiku, kapan lagi aku bisa lanjut tidur setelah sholat jika bukan sekarang.


Aku tak mengubah posisiku, aku tetap menutup rapat mataku yang terasa begitu ngantuk.


Tok ... tok ... tok ....


Ketukan pintu mengusik tidur pagiku, dan aku tak meresponnya, bagiku saat ini yang terpenting adalah tidur bukan hal lain, sekalipun hal itu berhubungan dengan Sam yang kini masih menjadi kekasihku.


"Senja, bangun, Nak!" suara Ibu terdengar dari luar kamar, padahal pintu kamarku tak ku kunci, tapi Ibu tetap memanggilku.


'Ceklek'


Suara pintu kamar terdengar terbuka, aku yakin Ibu pasti langsung masuk ke dalam kamar karena aku tak merespon panggilannya.


"Sayang, bangunlah!" suara lembut Ibu yang mengerti jika saat ini aku sedang tertidur pulas menikmati pagi hari di hari libur.


"Astaga, anak gadis sudah siang kok masih tidur ya?" ujar Ibu sambil berjalan teru mendekat ke arahku.


"Senja, bangunlah! ada Sam di luar, dia sedang menunggumu." Tutur. Ibu yang cukup membuatku terpaksa untuk bangun.


"Iya, tunggu sebentar Bu, setidaknya lima menit saja," sahutku yang masih merasa enggan untuk bangun.


"Jangan seperti itu, Nak! kasihan Sam yang harus menunggumu sejak tadi," Ibu selalu saja mementingkan anak orang lain yang bertamu dan datang ke rumahku.


Tanpa menyahuti ucapan Ibu, aku langsung duduk mencoba mengumpulkan segala kesadaran agar bisa menemui Sam di ruang tamu.

__ADS_1


"Ibu tunggu kamu di ruang tamu. Sam juga menunggumu di sana," ujar Ibu.


"Memang nya ada apa sih Bu, pagi-pagi Sam sudah datang?" tanyaku dengan mata yang masih setia tertutup.


__ADS_2