
Ada banyak hal yang tak pernah bisa kita duga ataupun kita sangka, sesuatu yang terlihat mustahil akan terjadi jika takdir sudah menentukan.
"Assalamualaikum," suara Sam kembali terdengar di pagi hari, dia selalu datang tepat waktu.
"Waalaikum salam," jawab Ibuku yang baru selesai bersiap.
Semalam Ibu bercerita banyak hal, termasuk tangisan Tania yang mencariku, tapi aku yang memiliki pekerjaan baru tidak mungkin meninggalkan pekerjaanku begitu saja dan beralih menjadi baby sister.
"Masuklah!" sahut Ibu.
"Senja belum berangkat Kan, Bu?" tanya Sam memastikan jika diriku belum berangkat ke tempat kerja.
"Belum, masuklah dulu! Ibu baru selesai masak. Kita bisa sarapan bersama," ujar Ibu dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
Sam berjalan masuk ke dalam rumah dan langsung duduk manis di meja Makan karena Ibu mengajaknya masuk ke ruang makan.
"Loh, kamu sudah ada di sini Sam?" tanyaku yang baru keluar dari kamar dan melihat Sam sudah duduk anteng di kursi meja makan.
"Iya, Sayang," jawab Sam enteng.
"Sayang? sejak kapan panggilannya berubah Sam?" sahut Ibu yang langsung menatap penuh tanda tanya ke arah Sam yang justru tersenyum manis ke arah Ibu.
"Astaga, Aku sampai lupa belum memberitahu Ibu tentang kabar gembira ini," ujar Sam seraya menepuk pelan jidatnya.
"Kabar apa yang kamu maksud Sam?" Ibu kembali bertanya.
"Aku dan Senja resmi menjadi sepasang kekasih, dan aku ingin meminang senja jika dia sudah siap, apa Ibu menerimaku jadi menantumu?" Sam berucap dengan penuh percaya diri.
Ibu hanya diam tanpa suara, ekspresi wajahnya sangat jelas menunjukkan ekspresi wajah terkejut yang tak bisa di bohongi.
__ADS_1
"Senja, coba jelaskan pada Ibu! apa maksud semua ini?" kali ini aku yang mendapat pertanyaan dari Ibu.
"Benar Ibu, aku menerima ungkapan hati Sam, apa Ibu merestui kami?" menyerah sudah, Aku yang sebenarnya belum siap untuk bercerita terpaksa menceritakan segalanya pada Ibu, meski sebenarnya dalam hatiku masih ada setitik rasa ragu, tapi aku tetap harus bercerita, semua itu karena Sam telah memberitahukan kabar ini pada Ibuku.
"Apa kedua orang tuamu mau menerima Senja? apa mereka tidak malu memiliki menantu dan besan yang miskin seperti kami, Sam?" tanya Ibu yang kini memasang wajah serius menatap lekat ke arah Sam yang justru terlihat santai mendengar pertanyaan Ibu.
Apa yang di fikirkan Ibu sama dengan apa yang ada dalam fikiranku dan apa yang membuatku ragu, tanpa perlu di jelaskan ataupun di ceritakan, Aku dan Ibu bukanlah orang kaya, kami hanya orang miskin yang bekerja demi menyambung hidup, bukan menabung untuk masa depan seperti yang di lakukan oleh kebanyakan orang kaya lainnya.
"Ibu jangan khawatir! Papa dan Namaku tak pernah melarang ataupun menolak apa yang aku minta, apa lagi ini soal pasangan hidup, semua pilihan di serahkan sepenuhnya padaku, karena yang akan menjalani kehidupan nantinya aku, bukan mereka, jadi Papa dan Mama sudah tahu jika calon istriku itu Senja, dan mereka setuju jika aku menikah dengan Senja," Sam menjelaskan sedetail mungkin alarm dirinya berani memintaku menjadi kekasih bahkan pasangan hidupnya.
"Syukurlah, jika memang orang tuamu menyetujuinya, maka aku akan mendukung apa yang telah menjadi keputusan kalian, tapi ingatlah! jaga puteriku satu-satunya ini, buat dia bahagia dan jangan buat dia bersedih!" Ibu memberi restu padaku tapi dengan pesan yang cukup membuatku terharu, dia memang Ibu paling baik sedunia, Ibu paling bisa mengerti diriku.
"Aku janji Ibu, Senja adalah gadis yang paling aku sayangi, jadi ibu jangan khawatir! aku pasti akan selalu berusaha membahagiakannya," sanggup Sam.
"Ibu, Aku berangkat dulu. Ibu hati-hati di jalan jika berangkat nanti." Pamitku memotong pembicaraan Sam yang terlihat tidak akan ada usainya jika aku hanya diam tanpa menghentikan semuanya.
"Iya, kamu juga hati-hati! yang semangat kerjanya." Ibu menyahuti ucapanku dengan pesan penuh kasih sayang yang selalu menyejukkan hatiku.
"Bu, aku juga pamit mau ngantar calon istriku." Sam yang sejak tadi diam kini ikut berdiri dan melangkah pergi berjalan di belakangku.
"Loh, motor kamu mana?" tanyaku saat aku tak melihat motor kesayangan Sam yang biasa dia gunakan untuk menjemputku.
"Motorku sedang ku series, jadi hari ini kita naik mobil aja." Jawab Sam yang langsung menarik tanganku melangkah mendekat ke arah mobil yang terparkir di depan rumah, awalnya aku kira itu mobil milik tamu tetangga yang memang sering parkir di depan rumah.
"Emang kamu bisa nyetir mobil?" tanyaku yang memang ragu dengan kemampuan Dan menyetir mobil, pasalnya selama ini aku tidak pernah melihat Sam membawa mobil, dia selalu membawa motor yang katanya itu motor kesayangan dirinya.
"Jangan meragukan kemampuan suamimu ini Sayang, aku itu lelaki serba bisa, jangankan menyetir mobil, membimbingmu sampai surga nanti aku juga bisa," jawaban yang cukup membuatku geleng kepala, Sam selalu saja berbicara seenaknya.
"Terserah kamulah, tapi awas ya kalau sampai kamu gak bener nyetirnya!" aku memberi peringatan pada Sam agar dia lebih berhati-hati saat menyetir.
__ADS_1
"Aku udah bilang, jangan khawatir! aku akan menyetir dengan sangat baik, lagian tumben ucapan kamu sadis amat," sahut Sam.
"Aku masih ingin makan nasi Sam, aku belum punya bekal ke surga bersamamu," jawabku asal.
"Ishhh kamu ini, aku juga belum tahu rasanya surga dunia, gak mau uru-buru juga ngerasain surga di akhirat," jawab Sam dan aku hanya menggelengkan kepala kembali mendengar jawaban dari Sam.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, dan benar saja apa yang di katakan oleh Sam, dia menyetir mobil dengan sangat baik, dan aku merasa nyaman duduk di sampingnya.
"Aku kerja dulu." Pamitku saat hendak turun dari mobil.
"Tunghu! jangan keluar dulu!" cegah Sam yang cukup membuatku bingung.
"Ada apa lagi?" tanyaku.
"Salim dulu sama calon suami!" titah Sam yang cukup membuatku bingung.
"Sejak kapan aku harus salim ke kamu Sam?" sahutku yang merasa aneh dengan permintaan Sam saat ini.
"Sejak sekarang, kamu sudah sah jadi calon istrimu, jadi mulai sekarang biasakan untuk salim sebelum pergi." Ujar Sam seraya mengulurkan tangan lengkap dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya.
Aku melakukan apa yang Sam minta, dan ide jahil pun muncul di benakku, setelah mencium punggung tangannya aku iseng menengadahkan tangan ke arah Sam.
"Apa?" tanya Sam bingung, dia tidak mengerti dengan isyarat yang aku berikan.
"Bukankah sebagai calon suami yang baik harus memberi uang saku pada calon istri?" sahutku, Sam yang mendengar ucapanku langsung merogoh dompet yang tersimpan di dalam kantong celananya.
Tanpa sengaja aku melihat ada banyak uang lembar berwarna merah tertata rapi di dalamnya.
'Ternyata Sam banyak uangnya juga,' batinku.
__ADS_1
Sam memberikan lima lembar uang berwarna merah ke hadapanku, tapi aku yang memang tak berniat memintanya langsung menutup mobil melenggang pergi meninggalkan Sam yang mungkin merasa bingung dengan sikapku saat ini.