Kutemukan Cinta Di Ujung Senja

Kutemukan Cinta Di Ujung Senja
Tebakan Ibu


__ADS_3

Berada satu mobil dengan Tuan Arka seperti berada dalam peenjara, rasanya sangat canggung dan begitu membingungkan, aku seperti patung yang tak lagi bisa bergerak, bagaimana mungkin aku bisa berada satu mobil dengan orang nomor satu di kantor tempatku bekerja, semuanya terasa seperti mimpi.


Tak ada satupun yang berbicara, Tuan Arka sibuk dengan gawai yang sedang bermakna di tangannya sedang aku sibuk menoleh ke arah luar jendela bermaksud menghilangkan rasa gugup yang sedang menguasai diriku.


"Terima kasih, Tuan," ucapnya setelah sampai di depan rumah.


"Khem," satu deheman cukup menjawab ucapan terima kasih yang baru saja keluar dari mulutku, sungguh Tuan Arka yang ada di hadapanku saat ini sangat sulit untuk di tebak, dan sikapnya berubah-ubah membuatku bingung hingga pusing jika memikirkannya, fikiranku di penuhi dengan kehadiran Tuan Arka yang tiba-tiba, pasalnya tadi dia baru pulang dari rumah bersama Tania, tapi sekarang malah bertemu denganku di jalan yang tak searah dengan jalan pulang, fikiranmu tak bisa aku kendalikan hingga getaran ponsel yang terasa di saku celana yang sedang aku gunakan membuyarkan semua fikiranku.


"Sam, ngapain lagi dia telfon?" lirihku yang masih merasa jengkel dengan apa yang sudah terjadi tadi.


Aku sedang malas menanggapi Sam, rasanya hatiku masih sakit melihat gadis lain di rumahnya, setahun Sam anak tunggal, dia memang memiliki sepupu tapi bukan gadis yang tadi aku lihat, sepupu dia bernama Mawar bukan Sania dan wajahnya juga jauh berbeda dengan gadis yang ku lihat tadi.


"Lebih baik ponselnya aku matikan saja," ujarku yang langsung meletakkan ponselku asal kemudian berlalu membersihkan diri di kamar mandi dan masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.


Entah berapa lama aku tertidur dan berkelana dalam dunia mimpi, hingga matahari yang sejak tadi bersinar terang kini mulai redup.


Tok ... tok ... tok ....

__ADS_1


Suara ketukan pintu mengejutkanku yang masih setengah sadar setelah bangun tidur barusan.


"Iya, tunggu sebentar!" sahutku yang langsung turun dari kasur yang menjadi saksi betapa kerasnya kehidupan yang aku jalani.


"Ibu sudah pulang, astaga, ini jam berapa?" ujarku melihat kedatangan Ibu, sungguh aku tidak sadar sudah berapa lama aku tertidur.


"Apa kamu baru bangun?" tanya Ibu yang aku tahu pasti jika dia mengerti kalau aku baru bangun dari mimpi indah.


"He he he," aku hanya bisa nyengir kuda mendengar pertanyaan Ibu, dia memang makhluk tuhan yang paling tahu dengan apa yang terjadi dan aku rasakan.


"Aku masih kenyang, Bu," jawabku malas, aku langsung masuk ke dalam kamar dan kembali merebahkan diri di atas kasur mencoba menetralkan segala rasa yang ada dalam hatiku.


"Tumben, apa kamu ada masalah?" Ibu memang pintar menebak dan mengartikan segala sikapku.


"Tidak ada," sahutku, entah sejak kapan Ibu ada di dalam kamar, aku tak menyadari apapun karena fikiranmu di penuhi oleh rasa lelah dan ingin segera beristirahat lagi.


"Jangan suka memendam masalah sendirian Senja! ingatlah jika kamu masih memiliki Ibu sebagai tempat bersandar," kali ini Ibu duduk di sampingku sambil mengusap lembut punggungnya, tanpa di minta ataupun di Perintah aku langsung merubah posisiku yang awalnya tidur di atas kasur kini ku letakkan kepalaku di paha Ibu dan menikmati setiap usapan lembut jemarinya yang terus mengusap rambut panjangku.

__ADS_1


"Aku akan menceritakan semuanya jika nanti aku sudah tak mampu lagi untuk menanganinya, tapi selama aku masih mampu biarkan aku menyelesaikan masalah kecil ini sendiri," sahutku.


"Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu, Nak," ujar Ibu yang masih setia mengusap kepalaku, setiap kali Ibu melakukan apa yang dia lakukan saat ini hatiku merasa jauh lebih tenang dan tentram, karena sentuhan tangan Ibu mengandung sejuta ketenangan yang tersalur langsung ke dalam jiwaku.


"Terima kasih atas segala dukungannya Ibu, aku tak akan pernah bisa sekuat ini jika tanpamu," lirihku sambil memejamkan mata menikmati sentuhan tangan Ibu.


Tok ... tok ... tok ...


Sekali lagi pintu rumahku di ketuk, dan aku tahu dengan pasti jika yang mengetuk pintu itu Sam, karena aku dan Ibu jarang sekali kedatangan tamu, apa lagi di jam seperti sekarang.


"Ibu," lirihku mencegah Ibu yang baru saja berdiri dari duduk nya.


"Iya, kenapa, Nak?" tanya Ibu menatapku penuh heran sambil mengerutkan kening tanda jika saat ini dia tengah bingung dengan apa yang aku lakukan.


"Jika yang datang itu Sam, tolong beri tahu dia jika aku baru saja tertidur dan tidak bisa di ganggu," jawabku menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Kenapa? Tumben sekali kamu tidak mau menemui Sam?" tanya Ibu yang kini aku tebak pasti sudah mengerti jika masalah yang ku hadapi saat ini berhubungan dengan Sam.

__ADS_1


__ADS_2