
"Terima kasih," ucapku sesaat setelah Sam sampai di depan rumah, aku yang berterima kasih, Sam yang mengerutkan dahi, dia terlihat bingung dengan sikapmu yang terkesan formal dan terlihat seperti orang asing yang berterima kasih setelah mendapat pertolongannya.
Tanpa memperdulikan Sam ataupun menyuruhnya mampir seperti biasa, aku langsung masuk dan menutup kembali pintu rumahku agar Sam bisa segera pergi.
'Maaf Sam, aku benar-benar harus menjauhimu dan biarkan perasaan ini menghilang seiring dengan berjalannya waktu,' batinku
"Jangan suka memendam masalah sendiri!" Ibu selalu saja datang di waktu yang teramat tepat.
"Bu, sebenarnya aku sedang bingung sekaligus berusaha melupakan dan menjauhi Sam saat ini," hiburku pada Ibu yang langsung melotot sempurna mendengar kejujuran yang ku sampaikan.
"Loh, kenapa tiba-tiba kamu ingin menjauhi Sam, Nak?" pertanyaan yang sudah ku tebak pasti keluar dari bibir Ibu kini benar-benar keluar.
Aku tak kunjung menjawab pertanyaan Ibu, aku masih menimbang baik buruknya jika aku bercerita pada Ibuku saat ini.
"Sam, anak yang baik dan bertanggung jawab, kenapa kamu ingin menjauhinya? dia juga terlihat setia dan begitu menyayangimu," Ibu terlihat begitu penasaran bercampur bingung mendengar kejujurannya dan dia kembali bertanya seraya mengatakan apa yang Ibu ketahui.
"Sam memang baik seperti yang Ibu katakan, tapi keluarganya berbanding terbalik Ibu, Mama dan Oma Sam tidak menyukaiku karena aku tidak sederajat dengan mereka, aku bukan orang kaya, jadi Mama dan Oma Sam tidak menyukaiku," aku yang tak ingin Ibu berfikiran buruk tentangku memilih untuk mengatakan yang sebenarnya dari pada harus berbohong dan menyembunyikan semuanya dari Ibu.
Dan benar saja, Ibu langsung terdiam, hal yang tak ku inginkan kembali terjadi, aku tak ingin Ibu menyalahkan dirinya atas apa yang sudah terjadi.
"Seandainya Ibu bisa punya harta yang melimpah dan seandainya Ayahmu masih hidup, Ibu yakin kehidupan kita tidak akan seperti saat ini, dan kamu tidak akan di pandang rendah seperti itu, keluarga Sam pasti akan menerimamu dengan baik," ujar Ibu dengan raut wajah yang di penuhi kesedihan dan aku benar-benar menyesal telah bercerita padanya.
"Sudahlah, semua yang terjadi sudah tertulis jauh sebelum kita di lahirkan Bu, semua ini sudah takdir yang memang harus kita jalani, tidak perlu menyesal ataupun menyalahkan diri, Aku bahagia menjadi puteri Ibu, dan aku bersyukur di lahirkan dari rahim Ibu," mendengar ucapan Ibu, Aku langsung berjalan mendekat ke arah Ibu kemudian memeluknya dengan sangat erat. Aku mencoba menyalurkan semua rasa sayang yang ada dalam diriku, berharap Ibu tidak menyesal lagi.
"Aku juga bersyukur memiliki puteri sepertimu, Nak," balas Ibu yang juga memelukku tak kalah erat.
__ADS_1
Kami saling berpelukan menyalurkan setiap rasa sayang yang kami miliki, meski aku dan Ibu hidup sederhana, tapi aku bersyukur karena bisa merasakan indahnya sebuah kasih sayang.
"Sekarang lebih baik kamu makan dulu. setelah itu kamu bisa istirahat," tutur Ibu yang kini menuntunnya ke arah ruang makan untuk makan bersama.
Author Pov ....
"Papa!!" suara renyah Tania selalu menyambut kedatangan Arka yang baru saja datang.
"Sayang," sahut Arka yang langsung menggendong Tania dan membawanya kembali masuk ke dalam rumah. Karena saat ini mereka sedang berada di teras rumah.
"Pa," panggil Tania, kali ini wajah Tania berubah buram, wajar ceria penuh binar kebahagiaan yang tadi terlihat kini perlahan menghilang.
"Ada apa, Sayang? apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Arka dengan ekspresi wajah bingung juga panik.
Tania tak menjawab pertanyaan Arka, dia memilih diam dan memeluk Arka dengan erat tanpa mau berbicara sedikitpun.
"Iya, ada apa Arka?" sahut Oma yang langsung berjalan mendekat ke arah Arka dan meninggalkan kegiatannya merapikan bunga.
"Oma, apa ada sesuatu terjadi pada Tania selama aku pergi?" tanya Arka.
Oma sejenak diam dan terlihat enggan untuk bercerita, karena sejujur apapun Oma bercerita, Arka tidak akan pernah percaya jika Oma berbicara tanpa bukti. Sedang Arka yang tidak bisa menahan diri karena rasa penasaran yang menguasai hatinya langsung berjalan menuju kamarnya. Tanpa sepengetahuan siapapun Arka ternyata telah meletakkan cctv di tempat-tempat yang menurut pemikiran Arka banyak di gunakan oleh Tania, selama ini Tania sering sekali terlihat murung tanpa Arka tahu penyebabnya, karena Tania tak pernah mau bercerita.
"Sittt ..." Arka mengumpat ketika melihat betapa cueknya Angel pada Tania, padahal Tania darah dagingnya sendiri, tapi Angel tetap saja bersikap acuh di belakang Arka.
Sejak dulu, Angel tak menginginkan kehadiran Tania dalam hidupnya, sebuah kesalahan yang dia lakukan bersama Arka hanya karena terbawa oleh suasana, memunculkan Tania di antara keduanya.
__ADS_1
Angel yang merasa jika Tania adalah penghambat karirnya membuat dia begitu benci pada gadis kecil yang sebenarnya sangat menyayanginya dan mengharapkan kasih sayang darinya, selama ini Angel mau menikah dengan Arka hanya karena harta dan terlanjur hamil, rasa cinta yang ada hanyalah topeng yang dia gunakan untuk terus berada di samping Arka, karena hanya dengan menikah dengan Arka, uangnya tak pernah habis dan karirnya semakin cemerlang, semua itu terjadi karena Arka selalu ada di belakang Angel untuk mendukungnya dalam berkarir.
"Ada apa, Pa?" tanya Tania yang kini berjalan masuk ke dalam kamar setelah tadi di tinggal di ruang keluarga.
"Tidak ada, Sayang," jawab Arka yang tak ingin melihat puterinya semakin bersedih.
"Pa, Aku belum makan, bagaimana kalau Papa temani aku makan?" ucap Tania.
"Apapun yang kamu inginkan Sayang," Arka yang tak ingin melihat puteri kesayangannya merasa sedih mencoba menghiburnya, Arka mencoba mencurahkan semua kasih sayang yang dia miliki untuk Tania.
"Ayo buka mulut!" titah Arka yang kini menyodorkan satu sendok penuh makanan yang ada di tangannya.
"Aaaa," Tania membuka mulut lebar menerima usapan dari sang Papa dengan senyum yang melebar.
"Papa mendapat info dari Bu Guru, besok Tania libur ya," ujar Arka mencoba memastikan jika info yang dia dapat memang benar.
"Iya, Pa, kata Bu Guru, besok libur karena ada rapat guru antar sekolah," Tania yang memang cerdas menjelaskan informasi yang di katakan oleh sang Papa.
"Bagaimana kalau besok kita piknik?" usul Arka yang memang sengaja mengosongkan semua jadwal meeting dan pekerjaannya khusus untuk menemani Tania.
"Papa serius mau ngajak Tania piknik?" Tania yang merasa jika Papa nya itu sangat sulit memiliki waktu untuk bersamanya merasa terkejut sekaligus ragu.
"Tentu saja, Papa akan temani Tania piknik seharian besok," jawab Arka.
"Asyik, Aku bisa piknik," sorak sorai Tania dengan wajah penuh kebahagiaan dia bersorak.
__ADS_1
"Apa besok kita bisa pergi bersama Mbak Senja?" tanya Tania yang merasa jika pikniknya akan terasa lengkap jika Senja ikut bersamanya.