
Langkahku terasa berat setelah seharian bekerja membuatku semakin lelah, meski begitu aku akan tetap bersemangat untuk melanjutkan hidupku demi Ibu yang belum bisa aku bahagiakan, hari ini tepat sebulan aku bekerja di perusahaan Tuan Arka, dan aku sangat senang bisa mendapatkan gaji pertama, meskipun aku sendiri masih bingung harusdengan hubunganku yang semakin tidak jelas, Sam tak ingin mengakhiri hubungannya, berkali-kali dia mberi pernyataan jika hubungan kita masih berlanjut, tapi dia tak pernah lagi datang, tapi beberapa orang suruhannya sering datang atas perintah dari Sam. Padahal aku sering mengusir mereka dan mengatakan jika aku sudah tidak ingin punya hubungan lagi dengan Sam, tapi pernyataan ku itu sama sekali tak di gubris.
"Siapa mereka?" lirihku saat melihat beberapa orang berdiri dan mengetuk pintu rumahku dengan sangat kasar dan wajah bengis.
"Siapa kalian?" tanyaku, meskipun jantungku berdetak begitu kencang merasa takut sekaligus terkejut, tapi sekuat tenaga aku mencoba untuk tetap berdiri tegak melawan beberapa orang berbadan kekar yang kini sedang berdiri dengan gagahnya di depan pintu rumahku yang masih tertutup.
"Kamu siapa?" bukannya menjawab para laki-laki itu justru balik bertanya ke arahku.
"Aku orang suruhan Tuan Daniel, rumah ini sudah di gadaikan bertahun-tahun lalu dan sekarang sudah waktunya untuk melunasi semua uang yang dulu pernah di pinjam oleh pemilik rumah ini," seorang lelaki berperawakan tinggi menjawab pertanyaan yang baru saja aku ungkapkan.
"Sejak kapan rumah ini di gadaikan?" aku kembali bertanya karena merasa begitu penasaran dengan apa yang di katakan olehnya.
"Kamu siapa? dan urusanmu apa?" dia kembali menanyakan siapa diriku.
"Aku Puteri dari pemilik rumah ini," jawabku lantang, sungguh aku merasa bertanggung jawab atas apa yang sudah terjadi, kedua orang tuaku pasti menggadaikan rumah ini karena diriku.
"Bagus jika begitu, sekarang bayar hutang orang tuamu!" titah laki-laki tersebut dengan ekspresi wajah yang terlihat semakin menyeramkan.
"Berapa banyak yang orang tuaku pinjam?" Aku kembali bertanya dengan begitu percaya dirinya aku menanyakan besarnya uang yang telah orang tuaku pinjam, kebetulan hari ini aku baru saja mendapat gaji.
"Lima puluh juta, dan kau harus membayarnya sekarang! jika tidak, maka rumah ini akan kami sita dan kamu juga Ibumu harus keluar dari rumah ini!" ujar laki-laki berbadan besar yang kini berdiri tepat di hadapanku itu.
"Apa? lima puluh juta?" spontanku yang merasa jika uang yang di sebutkan laki-laki itu terlalu besar dan aku sama sekali tidak percaya jika kedua orang tuaku memiliki hutang sebanyak itu, meski aku masih merasa heran untuk apa kedua orang tuaku meminjam uang sebesar itu, tetap saja sebagai anak aku merasa bertanggung jawab untuk melukainya, lagi pula jika bukan aku yang melunasinya siapa lagi? Ibuku terlalu tua untuk melunasi atau bahkan hanya memikirkannya saja.
"Senja!" suara Ibu semakin menambah keterkejutan yang masih belum hilang seluruhnya, beliau datang di waktu yang tidak tepat, seharusnya beliau tidak datang sekarang, karena aku tidak ingin Ibu semakin kefikiran dan sakit karena masalah ini.
"Ibu," sahutku yang langsung berlari menyambut Ibu yang terlihat begitu terkejut juga takut melihat ada beberapa orang berbadan besar dan menyeramkan sedang berdiri dengan tegaknya di depan rumah.
"Ada apa ini, Senja?" tanya Ibu sambil memegang dadanya.
"Ohh, jadi anda pemilik rumah ini, apa anda masih ingat jika punya hutang pada bos kami?" tanya laki-laki itu.
Aku memelototkan mata berharap laki-laki itu mengerti untuk tidak mengatakan semuanya pada Ibuku.
__ADS_1
"Iya, Aku masih mengingat nya," jawab Ibu.
Laki-laki itu terlihat tidak perduli dengan isyarat yang aku berikan, dia terlihat semakin senang karena bisa menagihnya langsung pada Ibuku.
"Bagus jika kamu masih mengingatnya, sekarang, bayar hutangamu!" titah laki-laki itu.
Sungguh saat ini ingin rasanya aku menendang dan melempar jauh para lelaki berparas bengis yang ada di hadapanku sambil mengancamnya agar tidak kembali lagi ke rumahku ini.
"Aku mohon padamu, tolong beri kami waktu untuk mendapatkannya, setidaknya aku bisa menyicil hutang itu," pinta Ibuku dengan ekspresi wajah memohon yang cukup membuat hatiku tercatat sambil, rasanya sangat sakit, luka tak berdarah dan tak berbekas jauh lebih menyakitkan dari pada luka luar yang sangat mudah untuk di obati.
"Kami sudah cukup memberimu waktu, sudah sangat tidak mungkin untuk kami memperpanjang waktu lagi, jadi bayar sekarang atau kalian keluar dari rumah ini?" sarkas laki-laki yang kini terlihat jauh lebih kejam dari sebelumnya.
Sekarang bukan waktu yang tepat untuk aku bertanya pada Ibu masalah uang yang entah di gunakan untuk apa, hingga mereka memiliki hutang sebesar itu, tapi aku harus segera mencari jalan keluarnya.
"Aku hanya punya ini, bisakah kalian memberi kita waktu untuk membayar sisanya?" aku langsung menyerahkan seluruh bajuku tanpa fikir panjang, bagiku saat ini membayar hutang jauh lebih baik dari pada harus diam dan membiarkan mereka mengusirku dan Ibu.
"Bukankah aku sudah mengatakannya tadi, hutang kedua orang tuamu sudah mencapai lima puluh juta, dan kamu hanya membayar empat juta setengah," ujar laki-laki itu, dia terlihat tidak suka dengan uang yang aku berikan tadi.
"Hanya itu yang aku punya saat ini, beri aku waktu lagi dan aku janji pasti akan membayar lunas hutang itu," aku yang memang tidak memiliki uang lagi, mencoba meminta keringanan dan meminta perpanjangan waktu agar aku bisa membayar hutang yang sungguh mengejutkanku itu.
"Aku mohon Tuan, beri kami waktu untuk mencari sisanya," aku yang tidak punya pilihan lain mencoba memohon dengan harapan laki-laki itu mau mengabulkan permintaanku.
"Tidak bisa gadis cantik, kamu dan Ibumu harus melukainya SEKARANG!!!" balas laki-laki itu dengan tegas dan tak terbantahkan.
Aku dan Ibu hanya bisa diam dan saling menatap penuh kebingungan dan kepedihan yang kini bercampur jadi satu, dapat dari mana kita uang sebesar itu, biarpun di beri waktu untuk menyidik aku juga tidak mungkin melunasi nya dengan waktu singkat, uang lima puluh juta bukan nominal yang sedikit bagiku, gajiku saja hanya sekitar empat jutaan dalam satu bulan, sangat mustahil aku bisa melunasi nya dalam waktu dekat.
"Hey!! jangan hanya diam!!! bayar sisanya sekarang!!!" suara laki-laki itu menyadarkanku jika saat ini aku sedang tidak bermimpi dan masalah yang menghadangku saat ini masih belum selesai dan aku harus segera mencari solusinya.
"Ada apa ini?" tanya seorang pria yang sangat aku kenal tanpa menoleh ataupun melihat wajahnya aku sudah bisa mengerti siapa dia.
"Nak Sam," lirih Ibu yang langsung menoleh ke arah Sam yang baru saja datang. Padahal sudah beberapa minggu ini Sam tidak pernah datang, entah kebetulan atau bagaimana? dia datang di waktu yang sebenarnya tidak tepat, aku yang kurang suka jika harus berhutang budi lagi pada Sam berharap jika yanh datang saat ini bukan dia.
"Kamu siapa lagi?" kali ini laki-laki itu memfokuskan diri menatap Sam dengan tatapan tajam mengintimidasi.
__ADS_1
"Apa kamu juga anak dari Ibu itu?" sambungnya.
"Iya, Aku anaknya," jawab Sam tegas tanpa ragu dan fikir panjang.
"Bagus, Ibumu punya hutang, dan kau harus segera melunasinya, jika tidak, rumah ini akan kami sita," laki-laki yang sejak tadi membuatku emosi itu kembali menjelaskan duduk permasalahannya pada Sam.
"Berapa hutangnya?" tanya Sam dengan tegas dan gagah dia terlihat begitu percaya diri menanyakan hutang kedua orang tuaku.
"Lima puluh juta," jawab laki-laki itu.
"Hanya lima puluh juta, kamu sampai ingin merebut dan mengusir Ibuku?" ujar Sam dengan nada dan ekspresi mengejek.
Mungkin bagi Sam nominal uang lima puluh juta bukanlah uang yang terlalu besar, mengingat dirinya merupakan pengusaha sekaligus petani daun teh yang sukses.
"Jangan banyak bicara! jika kamu merasa nominal itu tidak terlalu besar, maka sekarang bayar hutang Ibumu! jangankan banyak ba**t!" sahut laki-laki itu, saat ini wajahnya terlihat sangat jelas jika dia marah atas ejekan yang baru saja di lontarkan oleh Sam.
"Kamu mau aku transfer atau aku beri cek?" tawar Sam.
"Aku tidak suka transfer ataupun cek, kamu bisa memberi uang itu secara cash saat ini juga!" jawab Laki-laki itu.
"Baiklah, tunggu di sini!" titah Sam yang kini berjalan sedikit agak jauh dari tempat kami berdiri, tapi aku dan Ibu juga yang lain masih bisa melihat dia yang kini sedang mengambil koper yang ada di mobilnya, aku tahu jika Sam pasti mampu membayar hutang Ibuku, tapi aku tidak ingin Sam ikut campur dalam urusanku, apa lagi jika Sam membayar hutang itu, Aku akan semakin sulit untuk melepaskannya.
Sam kembali sambil membawa koper, gaya nya terlihat begitu tampan dan penuh wibawa, tapi aku yang merasa jika Sam bukanlah jodohku dan mengingat sikap keluarganya, rasanya aku ingin mencegah Sam untuk tidak mendekat dan memberikan uang itu saat ini.
"Ini, hitung sekarang!" Sam memberikan koper berisi uang yang baru saja di keluarkan dari dalam mobil.
Tumpukan uang berwarna merah tertata rapi di dalam koper membuat mataku kembali melebar, pasalnya ini pertama kalinya aku melihat uang sebanyak itu sepanjang hidupku dan aku merasa sangat terpukau sekaligus terkejut melihatnya.
"Bagus, uangnya cukup dan ini untukmu!" laki-laki itu mengembalikan uang yang tadi aku berikan.
"Ini sertifikatnya, lain kali jangan pernah telat bayar hutang biar kami tidak perlu datang ke sini lagi," pesan laki-laki itu sebelum pergi dan meninggalkan rumahku yabg kini terasa membingungkan.
Aku yang ingin menghindar dari Sam justru malah di pertemukan di waktu yang tidak tepat seperti saat ini.
__ADS_1
"Maaf, Aku sudah merepotkanmi" ucapku sambil menunduk saat melihat wajah Sam yang terlihat tersenyum karena sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.