
"Pagi Neng Senja! sudah lama gak pernah datang ke sini, ke mana saja, Neng?" sapa Pak Santo, satpam yang biasa ku sapa dan membukakan pintu untukku ketika aku bekerja di rumah Tuan Arka menggantikan Ibu.
"Pagi, Pak," aku menyahuti sapaan Pak Santo sambil tersenyum ramah ke arahnya.
"Ada panggilan darurat Pak, jadi aku harus datang," sambungnya menjawab pertanyaan Pak Santo.
Aku berjalan masuk ke dalam rumah bersama Ibu dengan langkah ringan, meski ada keganjalan yang kini menguasai hatiku tapi aku tetap melangkah masuk ke dalam rumah yang lebih mirip istana ini.
"Mbak Senja!!!" teriakTania sesaat setelah dia melihat aku dan ibu yang berjalan teoat di sampingku.
"Tania," sahutku yang reflek merentangkan tangan saat Tania berlari ke arahku.
"Aku kangen sama Mbak Senja," cerocos Tania yang kini mengaoungkan kedua tangannya ke leherku yang nasih berjalan menuju rumah Tania.
__ADS_1
"Tania, turun!" titah Tuan Arka saat melihatku berjalan mendekat ke arahnya yang kini terlihat aku berjalan sambil menggendong Tania.
"Pagi, Tuan," aku memberi hirmat Tuan Arka yang kinimenatapke arahku.
"Hm," sahut Tuan Arka.
"Masuklah dulu!" sambung Tuan Arka seraya masuk ke dalam runa sambil memberi isyarat agar aku dan Ibu masuk ke dalam rumah.
"Mbak, aku senang mbak ada di sini," celoteh Tania dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Kita sarapan dulu ya, Mbak," pinta Tania dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya.
"Mbak sudah sarapan tadi, bagaimana kalau sekarang Tania saja yang Mbak suapin?" usulku yang tahu dengan pasti jika Tania selalu saja terlihat bahagia setiap kali aku menyuapi nya.
__ADS_1
"Asyikk!! di suapi Mbak Senja," seru Tania dengan wajah penuh bahagia dia bersorak.
Tuan Arka terlihat senang melihat puterinya tersenyum bahagia, meski aku tak tahu isi hatinya, tapi aku tahu dengan pasti jika Tuan Arka merasa senang karena Tania yang tengah tersenyum penuh rasa bahagia bisa bersama denganku,
"Ada apa, Tuan?" tanyaku setelah Tania dan keluarganya sarapan pagi tadi bersama dengan anggota keluarga yang lain, kini aku berasa di ruang kerja Tuan Arka yang ada di rumahnya setelah Tuan Arka memintaku untuk menemuinya.
"Ini untukmu." Tuan Arka memberikan satu amplop sedikit tebal ke arahku.
"Apa ini, Tuan?" aku yang tak mengerti dengan amplop yang di berikan oleh Tuan Arka kembali bertanya.
"Itu upah untukmu hari ini," jawab Tuan Arka.
"Upah untuk apa? Aku sama sekali belum bekerja? dan di kantor Tuan Arka pun aku belum genap satu bulan bekerja di sana, ini gaji untuk apa? Apa aku di pecat?" fikiranku melayang jauh di atas awan, amplop cokelat berisi uang yang cukup banyak meski aku sama sekali belum membuka atau bahkan memeegangnya.
__ADS_1
"Hari ini kamu lembur, temani aku dan puteriku piknik! dan uang itu sebagai imbalannya," Tuan Arka menjelaskan apa maksud dirinya memberikan amplop berisi uang ke arahku.
Aku yang terkejut dengan apa yang Tuan Arka katakan hanya bisa diam mematung di hadapannya tanpa bisa berkata ataupun bergerak, rasanya bivirku keluh dan tubuhku kaku sangat sulit untuk di gerakkan, Aku hanya bisa diam menatap Tuan Arka yang kini malah sibuk menandatangani kertas yang menumpuk di hadapannya.