Kutemukan Cinta Di Ujung Senja

Kutemukan Cinta Di Ujung Senja
Berusaha Membuat Sam Ilfil


__ADS_3

Aku tak langsung menjawab pertanyaan yang di ajukan Tuan Arka, aku memilih menatap penuh tanya ke arah Sam yang kini sedang menatapku, semua itu aku lakukan demi menjaga perasaannya, meski bagaimanapun saat ini aku masih berstatus kekasihnya, rasa cinta yang ada dalam hatiku masih ada untuknya, sekalipun rasa itu tak sebesar dulu, Aku tetap memiliki cinta di sudut hatiku.


"Pergilah!" satu kata yang cukup membuatku lega, setidaknya dia mengerti posisiku saat ini dan dia tahu apa yang aku kerjakan bukanlah hal yang buruk, niatku hanya bekerja dan membuat gadis malang kekurangan kasih sayang di hadapanku ini merasa senang.


"Terima kasih Sam, aku tahu kamu akan mengerti dengan keadaan dan apa yang sebenarnya aku lakukan, kamu mengenaliku jauh lebih baik dari siapapun," sedikit pujian aku tujukan pada Sam agar dia merasa senang.


"Untuk saat ini aku akan memaklumi semuanya, tapi tidak untuk lain hari," ujar Sam yang langsung berdiri meninggalkanku tanpa menoleh lagi ke arahku.


Seperti hari-hari sebelumnya, Tania terlihat begitu bahagia bisa bermain dengan Papanya dan diriku, rasanya aku mulai menyayangi gadis kecil berwajah cantik nan imut yang kini sedang membuat kerajaan dari pasir.


"Terima kasih," ucap Tuan Arka.


Saat ini aku duduk di bangku panjang tak jauh dari tempat Tania yang sedang bermain ayunan.


"Terima kasih untuk apa, Tuan?" tanyaku sambil mengerutkan dahi bingung mendengar ucapan Terima kasih yang baru saja di ucapkan oleh seorang Tuan Arka padaku.


"Terima kasih karena kamu mau menemani Tania, dan maaf, karena aku dan Tania kamu jadi bertengkar dengan pacarmu," Tuan Arka kembali mengatakan sesuatu yang awalnya ku fikir mustahil terucap dari bibir seorang Arka, Tuan yang memiliki kekuasaan juga kedudukan tinggi berterima kasih dan meminta maaf padaku yang hanya seorang asisten rumah tangga sekaligus office girl di tempat miliknya, entah mimpi apa aku semalam hingga bisa bersama Tuan Arka di tempat ini.


"Senja!" panggil Tuan Arka.


"Iya, Tuan," sahut ku yang mulai sadar dari lamunanku sendiri.


"Apa kamu mendengar apa yang aku ucapkan barusan?" tanya Tuan Arka.


"Iya, Tuan," jawabku.


Tadi aku memang mendengar apa yang di ucapkan oleh Tuan Arka, dan karena itu lah aku terdiam mematung memikirkan apa yang sudah aku dengar.


"Kenapa kamu diam dan tidak menjawabnya?" Tuan Arka kembali bertanya.


"Maaf Tuan, tadi saya sempat melamun, jujur saja saya tidak menyangka Tuan bisa mengatakan hal yang awalnya aku kira tidak mungkin aku dengar dari Tuan," aku berusaha mengatakan apapun dengan sejujurnya dan tak ingin membohongi Tuan Arka.


"Maksud kamu apa?" tanya Tuan Arka, dia terlihat binggung dengan apa yang baru saja aku katakan.


"Aku tidak menyangka jika Tuan bisa meminta maaf dan berterima kasih padaku yang sebenarnya tak memiliki kekuasaan apapun ini," kelasku agar Tuan Arka semakin mengerti maksud dari ucapanku.


"Aku juga manusia biasa Senja, punya hati dan akal fikiran yang sama sepertimu," sahut Tuan Arka.


"Aku tahu jkka Tuan Arka manusia biasa, tapi apa yang Tuan miliki dan Tuan dapatkan saat ini membuat Tuan terlihat luar biasa, dan aku bukan apa-apa jika di bandingkan apa yang Tuan miliki saat ini," aku mencoba menjelaskan alasan diriku yang menganggap jika aku dan Tuan Arka memang berbeda dalam hal takdir.


"Pada dasarnya semua manusia itu sama, yang membedakan hanya ketaatannya pada tuhan," ujar Tuan Arka.

__ADS_1


"Itu menurut Tuan, tapi kenyataannya berbeda Tuan, realita mengatakan sebagian besar manusia di bedakan dengan harta yang mereka miliki," aku mulai berani mengutarakan apa yang menurutku benar.


"Itu hanya pikiranmu saja, kamu menganggap seeprti itu karena kamu terpengaruh lingkungan, padahal bagiku sama saja," elak Tuan Arka.


"Ada bedanya Tuan," aku masih bersi kerasa dengan pendapat yang menurutku benar.


"Tidak ada," jawaban singkat yang sebenarnya memicu diriku untuk kembali berdebat.


"Tuan saja bersikap berbeda kalau di kantor dan di sini, bukankah semua itu menandakan jika semua di bedakan oleh harta yang Tuan miliki?" aku masih berusaha memenangkan perdebatan yang entah bermanfaat atau tidak.


"Apa yang aku lakukan bukan karena harta yang aku miliki Senja, aku melakukan hal yang menurutmu berbeda hanya karena aku memposisikan diri, di mana aku berada, kalau aku bersikap seperti sekarang pada kariyawanku yang aku khawatirkan mereka akan bekerja sembarangan dan tidak akan patuh pada peraturan yang sebenarnya aku sendiri juga harus patuhi," Tuan Arka kembali menjelaskan apa alasan dirinya bersikap berbeda.


Aku diam memikirkan setiap kata yang terucap dari bibir Tuan Arka, dan apa yang dia katakan memang ada benatnya juga, selama aku mengenal Tuan Arka, dia memang selalu tepat waktu dan ikut mematuhi setiap peraturan yang di terapkan di perusahaan.


"Aku juga menerima gaji sama seperti dirimu, meskipun nilainya jauh lebih besar, tapi aku tidak bisa menggunakan uang perusahaan sesuai keinginan ku, karena itulah sebenarnya kita sama-sama bekerja hanya saja apa yang kita kerjakan dan kita hasilkan berbeda," Tuan Arka kembali membuatku sadar dan mengerti apa maksud dari ucapannya.


"Benarkah? apa itu artinya Tuan Arka juga menerima gaji di tanggal yang sama seperti aku?" tanyaku yang merasa penasaran dengan ucapan Tuan Arka.


"Tentu saja, aku juga menerima gaji di tanggal yang sama seprti kariyawanku, hanya saja nomjnal yang kh dapatkan berbeda, dan itu sistem yang aku jalankan selama ini, aku melakukannya agar perusahaan yang aku bangun dalam keadaan baik-baik saja," Tuan Arka kembali menjelaskan apa yang memang terjadi, dan aku hanya manggut-manggut mengerti mendengar penjelasan Tuan Arka.


"Oh, jadi begitu sistemnya," gumamku yang tak mungkin di dengarvoleh orang lain karena aku mengatakannya dengan sangat lirih.


"Eh, iya," sahutku sambil melangkah mendekat ke arah Tania yang sedang asyik bermain ayunan.


Waktu berjalan dengan cepatnya, tanpa terasa hari mulai siang dan matahari merangkak naik membuat siapapun yang berada si bawahnya mulai merasa panas.


"Tania, sudah waktunya pulang," ujar Tuan Arka.


"Apa aku tidak boleh berada di sini sedikit lebih lama, Pa?" tanya Tania yang terlihat masih enggan untuk pergi dari area bermain.


"Kita harus pulang! bukankah Mbak Senja juga butuh waktu untuk istirahat?" Tuan Arka terlihat berusaha membujuk Tania.


"Apa Mbak Senja lelah?" kali ini Tania berkata sambil melihat ke arahku. Sedang aku yang di tanya mulai bingung, dari pada salah menjawab aku memilih menoleh ke arah Tuan Arka untuk mencari jawaban yang tepat.


Dan ajaibnya Tuan Arka mengerti dengan kode yang aku berikan, dia menganggukkan kepala yang ku anggap sebagai tanda jika aku harus mengiyakan pertanyaan Tania.


"Tentu saja Tania, Mbak Senja ingin istirahat dan menikmati hari libur, sama seperti Senja yang ingin menikmati hari libur dengan bermain di taman Ini, Mbak Senja juga ingin istirahat di rumah," jawabku, dan semoga saja jawaban yang aku berikan benar.


Tania terlihat diam mematung menatap ke arahku tanpa berkata sepatah katapun, hingga akhirnya sebuah jawaban yang aku harapkan muncul dari bibirnya.


"Baiklah, kalau begitu ayo pulang!" ujar Tania yang langsung turun dari atas ayunan dan menggandeng tanganku kemudian melangkah pergi dari area Taman menuju mobil yang sudah terparkir cantik di tempat parkir khusus mobil.

__ADS_1


"Terima kasih Mbak Senja, lain kali kita main lagi ya," pesan Tania sebelum akhirnya dia pergi bersama sang Papa setelah mengantarku pulang.


"Senja bangun, Nak!" suara bernada tinggi milik Ibu sudah lama tak ku dengar, hingga pagi ini aku kembali mendengarnya.


"Lima menit lagi Ibu," sahut ku, rasanya sangat malas untuk bekerja, bukan karena aku tak lagi butuh uang, tapi aku merasa lelah dengan segala drama kehidupan yang harus aku jalani tanpa bisa aku hindari, hari ini sudah seminggu berlalu setelah kejadian di cafe, di mana Sama mengira aku memiliki hubungan spesial dengan Tuan Arka yang merupakan majikan sekaligus bos di tempatku bekerja.


Sejak saat itu Sama menjadi lebih over protective, sikapnya jauh berbeda dari sebelumnya, Sam yang lembut dan pengertian seolah menghilang entah ke mana, Sam selalu datang setengah jam sebelum aku berangkat dan tepat sepuluh menit sebelum jam kerjaku habis, dia juga mengecek ponselku hampir setiap hari tanpa ada jeda seharipun, di tambah chat juga telfon yang bisa dia lakukan berkali-kali dalam satu hari, hingga aku merasa tak memiliki ruang untuk berkumpul atau bahkan berbincang dengan temanku, Sam kini berubah menjadi sangat menyebalkan dan aku tak menyukai perubahan itu.


"Senja, ayo bangun! Sam sudah menunggumu di ruang tamu," tutur Ibu.


Aku hanya bisa menghembuskan nafas kasar mendengar penuturan Ibu, Sam semakin menjadi-jadi. Dengan langkah berat aku memaksakan diri untuk bangun dan menemui Sam di ruang tamu, awalnya aku merasa risih dan malu jika harus bertemu dengan Sam sebelum membersihkan diri setelah bangun tidur, tapi setelah sifat Sam yang berubah membuatku malas untuk terus tampil cantik di hadapan Sam, rasanya aku ingin mengakhiri hubungan yang menurutku sudah tak sehat ini, tapi hatiku masih memiliki cinta dan Sam yang tak ingin berpisah denganku membuatku terpaksa untuk tetap mempertahankan hubungan yang sebenarnya tak baik untuk di teruskan.


"Kamu baru bangun, Sayang,? " tanya Sam saat melihatku masuk ke dalam ruang tamu dengan baby doll panjang yang aku pakai.


"Hm," jawabku singkat sambil duduk tak jauh dari tempat Sam duduk, dengan sikapku ini dalam sudut hatiku ada harapan Sam merasa ilfil dan berniat untuk meninggalkanku.


"Kenapa malah di sini? cepat mandi! aku akan mengantarmu," ujar Sam yang cukup membuatku merasa heran dengan apa yang di lakukan oleh Sam, bukannya ilfil dia malah menunjukkan sebuah perhatian yang mampu membuatku berfikir kembali untuk meninggalkannya.


"Iya, iya," sahut ku sambil melangkah meninggalkan Sam yang masih setia duduk di kursi, sedang aku berjalan masuk ke dalam rumah untuk bersiap berangkat bekerja.


"Emang enak banget ya masakan Ibu aku?" tanyaku yang merasa heran dengan Sam yang selalu lahap dengan apapun yang di masak oleh Ibu, meski menunya sederhana dan pasti jauh berbeda dengan menu yang ada di rumahnya, Sam tetap makan dengan lahap.


"Masakan Ibu selalu bisa membuatku ketagihan dan ingin kembali makan di sini," jawab Sam dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


"Bilang aja kalau enak makan di sini karena gratis," ujarku.


"Bu, putrimu mulai menyudutkan aku," Sam mulai mengadu dan mencari pembelaan.


"Senja gak boleh gitu! Sam sering kok ngasih Ibu yang dan membawa makanan untuk kita," bela Ibu.


Sedang Sam tersenyum puas menatap ke arahku yang kini menampakkan wajah jengkel.


"Ishhh, Ibu selalu saja membela Sam, Puteri Ibu itu aku bukan Sam," keluh ku yang merasa Ibu selalu membela Sam setiap kali aku dan Sam berdebat.


"Sudah, jangan ribut lagi! lebih baik sekarang kalian makan dan cepat berangkat sebelum terlambat," Ibu memang orang tua terbaik yang pernah aku kenal, setiap kali kita bertengkar dia selalu menjadi penengah di antara kami.


"Hati-hati, jaga diri dan hati!" pesan Sam setelah aku turun dari sepeda motor kesayangannya.


"Iya, kamu juga hati-hati! jangan ngebut!" balasku yang tak ingin di anggap tidak memiliki perhatian dan egois.


"Siap, Sayang," sahut Sam dengan senyum manis yang terpampang jelas di wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2