
"Pelan-pelan saja, Tania!" aku mencoba mengingatkan Tania yang berlari sedikit lebih kencang dari biasanya.
"Aku ingin cepat sampai di sekolah, Mbak," jawab Tania yang terlihat berlari kecil masuk ke dalam mobil.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap Tania yang begitu bersemangat berangkat ke sekolahnya.
"Memangnya di sekolah ada apa? sampai kamu bersemangat seperti itu?" tanyaku sesaat setelah sampai di dalam mobil.
"Aku ingin Mbak Senja tahu kalau aku termasuk murid favorit di sekolahan, dan Mbak Senja juga harus lihat, Aku termasuk murid pintar di sana," ujar Tania dengan semangat dan binar kebahagiaan yang terlihat jelas di wajahnya.
"Wahh, benarkah? Mbak Senja baru tahu kalau Tania termasuk murid yang punya segudang prestasi dan kelebihan," sahutku.
"Aku memang yang terbaik di sekolah," seru Tania lagi, dia memuji dirinya sendiri dan aku senang mendengarnya.
"Mbak Senja senang dan bangga bisa kenal dengan murid berprestasi seperti Tania," pujiku sambil mengusap lembut kepala Tania yang sudah rapi nan indah. Sedang Tania semakin melebarkan senyuman mendapat pujian dariku, sungguh aku merasa saat ini Tania memang butuh kasih sayang, bukan lagi harta ataupun fasilitas mewah.
"Ayo turun!" ajak Tania dengan semangat yang sama seperti saat aku dan dia baru keluar dari rumah.
"Iya, sebentar," sahutku yang kini turun mengikuti langkah Tania.
Benar saja, apa yang di ceritakan Tania, dia gadis kecil sejuta pesona, aku yakin semua teman Tania menyukainya bukan hanya karena Tania cerdas, tapi keramahan dan kerendahan hati yang di miliknya membuat siapapun merasa tenang juga tentram di sampingnya.
"Tania!" panggilku dengan suara lirih aku mencoba mengalihkan perhatian Tania.
"Iya, ada apa Mbak?" sahut Tania menoleh ke arahku dengan satu ice cream coklat di tangannya yang terus di jilat.
"Tania terlihat begitu sempurna, teman yang banyak, cerdas, mobil bagus, rumah bagus, Papa dan Mama yang lengkap, juga Nenek yang selalu ada untuk Tania," ujarku.
Sejak tadi aku berfikir bagaimana cara mencari tahu apa yang paling di sukai dan di inginkan Tania, hingga aku menemukan sebuah pertanyaan yang ku yakini tidak akan membuat Tania curiga.
"Mbak Senja benar, Aku memang memiliki segalanya, tapi aku tidak memiliki cinta seorang Mama, Aku rindu kasih sayang Mama," keluh Tania.
"Mama Tania sedang berjuang untuk masa depan Tania, jadi jangan bersedih! sekarang Mbak Senja punya tiga permintaan khusus untuk Tania, dan Tania bebas mengatakan permintaan yang ingin Mbak kabulkan!" aku yang tak ingin Tania ters-terusan bersedih memilih untuk langsung mengungkapkan ide yang sempat terlintas dalam benakku.
"Permintaan?" bukannya senang Tania malah terlihat bingung dengan permintaan yang aku berikan.
"Iya, Tania bebas meminta apa saja sama Mbak Senja, dan Mbak Senja akan mengabulkan permintaan itu selama Mbak sanggup untuk mengabulkannya," jelasku.
Tania terlihat diam mematung mendengar penjelasanku, dia terkejut dengan apa yang aku jelaskan, tapi satu menit kemudian, Tania langsung tersenyum dan mulai mengatakan semua yang dia inginkan.
"Mbak, aku ingin kue hart yang besar dan berbahan cokelat, ada Papa, Mbak, kalau bisa Mama juga hadir dan Oma. Terus aku ingin liburan di pantai bareng semua keluargaku, dan yang terakhir, Aku ingin membagikan makanan dan minuman untuk anak-anak yang kurang beruntung di luar sana," Tania mulai menjelaskan apa yang dia inginkan, terdengar sederhana memang, tapi sangat bermakna dan aku kagum dengan keinginan yang dia ucapkan.
"Mbak!" Tania menggoyangkan tangan mencoba menyadarkanku yang tengah melamun di tempatku.
__ADS_1
"Eh, iya," sahutku.
"Kenapa malah Mbak Senja yang melamun?" tanya Tania yang kini menatap penuh rasa penasaran ke arahku.
"Mbak tidak melamun, Mbak hanya salut saja dengan permintaan sederhana yang Tania katakan barusan, meski sederhana tapi cukup memiliki makna yang dalam," jawabku.
"Makna itu apa ya Mbak?" tanya Tania.
Astaga! berbicara dan mendengar setiap ucapan Tania membuat siapapun lupa dengan siapa dia berbincang saat ini, meski terdengar bijak dan penuh kedewasaan, tetap saja Tania adalah gadis kecil yang tengah tumbuh dan belum mengerti dengan arti kata makna yang terucap.
"Mbak tidak bisa menjelaskan secara detail, suatu saat nanti, Tania pasti akan mengerti arti kata makna tersebut, lebih baik sekarang Tania masuk ke kelas, karena bel jam istirahat sudah berbunyi," tuturnya dengan senyum manis yang ku perlihatkan ke arah Tania.
"Ishhh, Mbak Senja bikin Tania penasaran saja," keluh Tania.
"Sudah, cepat masuk ke kelas!" sahutku.
"Eh, Tania tunggu!" sambungku setelah mengingat jika diriku harus pergi untuk menyiapkan segalanya, pasalnya ulang tahun Tania tinggal dua hari lagi, sungguh Tuan Arka tidak memiliki perasaan ataupun fikiran, dia menyuruhku menyiapkan ulang tahun di waktu sesingkat ini.
"Ada apa Mbak?" sahut Tania sambilmenghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku.
"Mbak mau langsung pergi. Tania pulangnya sama sopir ya," jelasku.
"Loh, kok sama sopir sih? memangnya Mbak Senja mau ke mana?" Tania terlihat tidak rela dan ingin pulang bersamaku.
"Baiklah, Mbak hati-hati di jalan!" pesan Tania sebelum akhirnya aku benar-benar pergi meninggalkannya di sekolah.
Aku melangkah dengan langkah ringan menapaki jalan raya sambil bergulat dengan fikiranmu sendiri, rencana demi rencana sudah tersusun indah di kepala, menunggu instruksi dan dana dari Tuan Arka.
TINNNN ....
Suara klakson mobil mengejutkan diriku yang sedang fokus menatap jalan sambil memikirkan semua rencana ulang tahun Tania. Sebuah mobil ki***g in****a berwarna hitam yang ku tahu keluaran terbaru berhenti tepat di sampingku yang kini menghentikan langkah karena terkejut dengan klaksonnya.
'Siapa sih? ganggu orang lagi fokus aja,' batinku memprotes tindakan sang sopir yang menurutku tidak sopan dan seenaknya itu.
Perlahan kaca mobil bagian belakang terbuka dan nampaklah Sam yang duduk dengan santai sambil tersenyum ke arahku.
"Masuklah, Sayang!" titah Sam.
Aku masih terdiam menatap ke arah Sam, bukannya tidak mau atau menolak, Aku hanya heran dengan apa yang di lakukan oleh Sam, Mobil yang dia naiki juga baru aku lihat, apa Sam membeli mobil baru? atau dia memang punya mobil itu sejak lama tapi hanya aku yang tudak tahu kalau dia punya mobil semahal itu.
"Sayang!!!" sekali lagi Sam memanggilku.
"Ayo masuk!" sambungnya.
__ADS_1
Aku yangs sejak tadi sibuk dengan pemikirannya sendiri kini perlahan berjalan masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah di buka oleh Sam.
"Kamu dari mana?" tanya Sam.
"Aku baru selesai mengantar Tania sekolah," jawabku jujur.
"Mengantar sekolah? kenapa harus kamu yang mengantar sekolah? memangnya baby sister Tania ke mana?" tanya Sam yang langsung mengubah posisi duduknya mengarah ke arahku. Aku yang memang merasa tak melakukan kesalahan memilih untuk berkata jujur yang baru aku sadari jika kejujuran itu akan menyulut api cemburu dalam diri Sam.
"Aku mendapat tugas baru untuk menyiapkan ulang tahun Tania dan aku perlu tahu apa yang paling di inginkan oleh Tania agar aku tidak melakukan kesalahan saat menyiapkannya." Aku mengatakan semuanya dengan jujur tanpa ada yang di lebih-lebihkan ataupun di kurangi.
'kepalang basah lebih baik berendam sekalian,' batinku berucap.
"Apa tugas merencanakan. ulang tahun juga termasuk tugas yang harus di lakukan oleh office girl?" selidik Sam dengan tatapan mata yang mulai memakan menghunus ke dalam jantung.
"Aku tidak mengerti Sam, yang aku tahu saat ini aku hanya bekerja sesuai dengan perintah Tuan Arka, dan aku akan melakukan perintah yang menurutku masih wajar dan tidak melewati batas, lagi pula aku tidak bisa langsung menolaknya Sam, Tania juga terlanjur dekat denganku," aku mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi berharap Sam mau mengerti dengan apa yang terjadi.
"Dekat dengan Tania atau Papanya?" sinis Sam, Aku sangat mengerti apa yang di maksud oleh Sam, dan aku juga tahu kalau saat ini dia tidak pernah suka jika aku dekat dengan Tuan Arka dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya.
"Sam, Aku bukan orang yang tega merebut suami orang lain, lagi pula aku sudah memiliki pilihanku sendiri, untuk apa aku memilih orang yang bahkan sudah menjadi milik orang lain," aku yang merasa lelah mendengar kecemburuan Sam yang tidak ada putusnya memilih untuk mengatakan jika dia adalah pilihanku dana ku tudak akan mendua atau berpaling pada orang lain.
Sam langsung tersenyum meski samar setelah mendengar ucapanku dan aku merasa lega karena bisa di pastikan setelah ini Sam tidak akan membahas masalah ulang tahun Tania.
"Kamu mau ke mana?" tanya Sam.
"Aku mau pergi ke kantor." Jawabku singkat.
"Pak, kita pergi ke kantor Senja dulu!" titah Sam.
"Baik, Tuan," jawab sang sopir.
Aku yang merasa familiar dengan suara seseorang yang sedang menjadi sopir memilih untuk mengintipnya.
"Oh," gumamku saat aku tahu jika sopir yang ada di jok depan adalah sopir yang biasanya mengantar aku dan Sam.
"Sam," panggilku.
"Hm," sahut Sam.
"Aku lelah, bolehkah aku tidur di sini? setelah sampai nanti tolong bangunkan!" pintaku.
Aku tahu jarak antara Kantor dan tempat aku saat ini memiliki jarak yang cukup jauh, karena itulah aku memilih untuk beristirahat lebih dulu selama perjalanan, lumayan menghemat tenaga.
Sam tak menyahuti ucapanku, dia langsung menarik bahu dan meletakkan kepalaku di bahunya, sungguh saat ini aku merasa Sam adalah pilihan terbaik untuk hidupku jika aku tak mengingat bagaimana sikap keluarganya.
__ADS_1
Bersandar di bahu Sam memang sangat nyaman dan aku langsung terlelap sesaat setelah Sam mengusap lembut bahuku, aroma maskulin dari dalam diri Sam memberi rasa nyaman dan aman tersendiri bagiku, Sam sungguh laki-laki terbaik yang pernah aku kenal.