Kutemukan Cinta Di Ujung Senja

Kutemukan Cinta Di Ujung Senja
Makan Bersama Calon Mertua


__ADS_3

"Calon istriku Senja Ma," jawab Sam dengan senyum yang mengembang di wajahnya, tapi senyuman Sam sangat berbanding terbalik dengan ekspresi terkejut yang di tunjukkan oleh Mama Sam.


"Senja?" Mama Sam mengulangi panggilannya.


"Iya, Senja adalah calon istriku Mama," Sam kembali meyakinkan sang Mama jika apa yang di perkirakan sang Mama memang benar adanya.


Wajah Mama Sam semakin tak bisa aku baca, semuanya penuh tanda tanya, wajahnya tampak tanpa ekspresi, tak ada ekspresi senang ataupun sedih bahkan tak ada ekspresi sedih di wajahnya saat itu.


"Sejak kapan kalian menjadi sepasang kekasih?" tanya Mana Sam yang kini menatap penuh tanda tanya ke arah kami berdua.


"Kemarin Tante," jawabku dengan bibir sedikit bergetar melihat wajah Mama Sam yang terlihat tanpa ekspresi dan tak seramah biasanya.


"Memangnya kapan kalian berencana untuk menikah?" Mana Sam kembali bertanya.


"Kalau Sam ingin secepatnya, tapi Senja masih ingin bekerja Ma, jadi aku nunggu jawaban pasti dari Senja," Sam menjawab pertanyaan sang Mama dengan mata berbinar penuh rasa bahagia.


"Baguslah, bekerja lebih dulu memang jauh lebih baik, lagi pula kalian masih muda, jangan terburu-buru menikah!" ujar Mama Sam yang cukup membuatku semakin di belenggu oleh rasa penasaran, dia tidak menolak ataupun membantah apa yang di katakan oleh Sam, tapi dari raut wajahnya dia kurang menyukai ucapan Sam.


Melihat apa yang terjadi, aku tidak bisa berbuat apapun, jangankan bertindak, bertanya saja aku masih merasa sungkan.


"Bukankah Mama menyuruhku segera menikah?" Kali ini Sam yang bertanya.


"Mama memang memintamu menikah, tapi aku tidak secepat ini Sam," ujar Mama Sam.

__ADS_1


"Apa kalian sudah makan?" Mama Sam yang terlihat baru menyadari jika aku dan Sam baru saja datang, menawarkan makanan untuk kami yang menang belum sempat nahan sejak pulang tadi.


"Belum Ma," jawab Sam, sedang aku hanya diam tanpa berani menjawab.


"Bahas nikahnya, nanti atau besok lagi, sekarang kita makan saja dulu." Ucap Mama Sam dengan penuh ketegasan sambil tersenyum dia memberi isyarat agar aku dan Sam mengikuti langkahnya menuju ruang makan.


"Ayo makan!" kali ini Sam yang mengajakku untuk makan bersama keluarganya.


"Sam, lebih baik aku pulang saja dulu. Kamu saja yang makan dengan Mamamu," aku menolak secara halus ajakan Sam yang sebenarnya kurang nyaman untukku, makan bersama beberapa orang kaya membuatku merasa minder dan menghilangkan segala rasa yang kini mulai muncul dalam hatiku.


"Apa Mama tidak marah padaku?" pertanyaan yang sejak tadi muncul dalam fikiranku saat melihat ekspresi wajah Mama Sam yang diam tanpa ekspresi dan tak bersikap seperti biasanya.


"Kenapa harus marah? kamu tidak melakukan apapun dan Mama tidak punya alasan untuk marah padamu Senja," Sam masih berusaha untuk membujuk Senja yang terlihat takut untuk ikut makan bersama anggota keluarganya yang lain.


"Kenapa tadi Mama kamu diam saja?" aku yang tak mampu menahan setiap rasa yang berkecambuk dalam hati.


"Baiklah, aku akan makan di sini, tapi ngomong-ngomong Papa kamu ke mana? sejak aku sampai tadi aku sama sekali belum melihatnya," aku kembali bertanya karena sejak tadi aku tak melihat Papa Sam sejak aku datang tadi.


"Papa ada kerjaan di luar kota, lusa dia pulang, sudah jangan fikirkan hal-hal yang tidak pasti terjadi, lebih baik sekarang kita makan." Sam langsung menarik pergelangan tanganku dan mengajakku melangkah menuju meja makan yang terlihat begitu besar juga cukup mewah.


"Kenapa banyak sekali makanannya?" bisikku tepat di telinga Sam.


Meja makan yang cukup panjang di penuhi berbagai menu makanan, tapi sayang di meja makan itu hanya ada Mama Sam seorang.

__ADS_1


"Duduklah! Kita makan bersama!" suara lembut Mama Sam menyapa telingaku.


"Ayo duduk!" seperti biasa, Sam memperlakukaku seperti seorang ratu, dia menarik kursi untukku agar aku bisa langsung duduk dan mengambil makanan.


Apa yang di lakukan Sam, sama sekali tak mempengaruhi Sang Mama yang terlihat masih fokus menghabiskan makanan yang ada di hadapannya.


"Makan yang banyak Sayang!" Sam kembali berucap, kali ini suaranya sedikit pelan, karena itulah aku tersenyum menanggapinya.


Makan sore yang sangat menegangkan bagiku, selain karena aku baru pulang dari kantor, di dalam rumah pun aku masih merasa dag dig dug, apa lagi melihat tatapan tajam Mama Sam tadi, sungguh ingin rasanya aku berlari dan mencari tempat lain untyk berlindung, tapi Sam tetap kekasihnya saat Ini, meski Aku merasa ada sedikit rasa penyesalan yang muncul dalam benakku, kenapa tadi aku setuju berusaha untuk mampir ke rumah Sam lebih dulu, tapi rasa kesal itu masih bisa aku tahan dan ku ganti dengan senyum yang terlihat begitu tulus.


"Aku ingin pulang sekarang, Sam," ucapku yang tak ingin terus berada si sana.


"Kenapa kamu selalu terburu-buru Sayang?" bukannya langsung setuju, Sam malah terkesan menawar.


"Kasihan Ibu yang sudah menungguku, aku yakin jika saat ini dia pasti sedang menunggu kedatangan kita, lagi pula aku juga belum pamit padanya jika ingin mampir ke rumahmu lebih dulu," Aku mencoba mengatakan apapun yanga ada dalam benakku saat Ini, tak ada yang lebih penting kecuali Sam mengantarku pulang.


"Baiklah, kita pulang sekarang." Jawab Sam yang langsung berdiri dari tempatnya duduk.


Saat ini aku duduk di depan ruang yang mirip dengan ruang keluarga, setelah makan bersama tadi, Mama Sam berpamitan untuk kembali ke kamar menyelesaikan urusannya, sedang aku dan Sam memilih untuk duduk bersantai di depan televisi yang terus menyala.


"Kenapa kamu ngajakin pulang mulu sih? bukankah lebih baik kita habiskan waktu lebih banyak berdua dari pada bersama banyak orang," Sam bertanya dengan nada sedikit mengeluh, pasalnya aku memang tidak betah di rumahnya.


"Kamu mau nganter aku pulang atau aku jalan pulang sendiri saja?" Aku berusaha memberi pilihan pada Sam yang terlihat masih enggan untuk mengantarku pulang.

__ADS_1


"Iya, Iya, Aku akan mengantarmu pulang, tunggu di sini!" jawab Sam yang memilih mengalah kemudian benar-benar mengantarku pulang kembali ke rumah, dan benar saja, Ibu sudah siap di kursi tepat di teras rumah sambil memperhatikan setiap orang yang datang


"Ibu," sapaku yang langsung berjalan mendekat ke arah Ibu kemudian mencium punggung tangannya.


__ADS_2