Kutemukan Cinta Di Ujung Senja

Kutemukan Cinta Di Ujung Senja
Sah


__ADS_3

Aku tak mampu menolak perintah Tuan Arka, bukannya mengundurkan rencana pernikahan, Tuan Arka malah membuat keputusan yang justru membuat semakin bingung untuk menjelaskannya kepada ibu.


"Mau atau tidak ini depan kita akan menikah," ujar Tuhan Arka yang cukup membuatku semakin bingung.


"Tap~tapi bagaimana aku menjelaskan pada ibu? pernikahannya terlalu cepat, Tuan," kalau kau yang merasa jika keputusan Tuan Arka kali ini sangat menyulitkan diriku.


Tapi Tuan Arka tetaplah Tuan Arka yang tidak mungkin mengubah keputusannya, ataupun mengikuti apa yang baru saja aku katakan.


"Tidak usah berfikir terlalu keras, soal Ibu biarkan aku yang menyelesaikannya," ujar Tuan Arka sambil tersenyum ke arahku, sebuah senyum tulus dengan binar kebahagiaan yang tampak jelas di wajahnya, ini pertama kalinya aku melihat senyuman Tuan Arka begitu tulus dan lepas seperti saat ini.


"Baiklah, kalau begitu aku permisi." Pamitku.


Tuan Arka bukanlah laki-laki yang penuh pengertian ataupun penyayang, dia juga bukan laki-laki yang mudah di bujuk, apa yang menjadi keinginannya, maka itu yang akan terjadi, tapi entah mengapa aku masih saja diam dan menerima ajakan Tuan Arka untuk menikah, mungkin daya tarik dan karisma Tuan Arka jauh lebih besar dari pada yang lain, karena itulah aku tidak bisa menolaknya.


Hari demi hari terlewati begitu saja, saat ini aku baru mengerti jika benar ucapan uang memang berkuasa, semua hal yang sepertinya sangat sulit untuk di lakukan menjadi mudah karena uang, penjahit baju pengantin datang sendiri ke rumah dan semua keperluan pernikahan sudah selesai, hanya menunggu jam untuk melangsungkan pernikahan, dan Tuan Arka benar-benar membutuhkan waktu satu Minggu untuk menyiapkannya.

__ADS_1


"Nak, kamu terlihat begitu cantik hari ini, sungguh Ibu bersyukur telah memiliki kamu dalam hidup ibu yang tidak sempurna ini," ujar Ibu Seraya memeluk dan mencoba mengungkapkan segala rasa sayang yang aku yakini ada dalam hatinya.


"Aku juga ikut bersyukur memiliki Ibu seperti dirimu, semoga ibu juga memiliki jodoh yang lain yang akan terus mendampingimu dalam suka maupun duka sampai tua nanti," kalimat yang tidak seharusnya muncul dari bibirku yang sungguh tidak bertanggung jawab ini.


"Senja, Ibu tidak ingin menikah, dan jangan membahas hal yang tidak mungkin Ibu lakukan," sahut Ibu dengan nada lembut tapi penuh ketegasan, sedang aku hanya bisa tersenyum merasa memiliki hiburan yang cukup mengalihkan rasa gugup yang kini menguasai diriku.


Hari yang tidak pernah terbayangkan olehku sebelumnya, orang yang jauh berbeda dari apa yang aku harapkan kini menjadi jodoh yang telah menjadi takdir untukku, hanya satu harapanku semoga setelah ini aku bisa mendapatkan kebahagiaan dalam segala rasa sedih juga kesulitan yang sebelumnya pernah aku alami menghilang.


"Mbak Senja!" Suara Tania kembali menyadarkanku jika waktuku semakin dekat, sebentar lagi semuanya akan berubah, bukan cuma statusku yang akan berubah, tapi seluruh hidupku pasti akan berubah karena aku akan menjadi by seorang istri dan Ibu sambung bagi Tania, gadis kecil yang memiliki kehidupan mewah tapi nasib yang cukup sulit.


"Terima kasih, Mbak Senja, tapi hari ini Mbak Senja jauh lebih cantik dari aku," sahut Tania dengan senyum yang merekah di bibirnya, wajah Tania terlihat begitu bahagia dengan mata yang berbinar dia terus saja menatapku sambil berdiri tepat di sampingku.


"Mbak," sambung Tania yang telah merubah ekspresi wajahnya menjadi serius menatapku penuh harap.


"Iya, kenapa, Sayang?" Sahutku yang kini merubah posisi mengangkat tubuh mungil Tania agar bisa duduk tepat di pangkuanku.

__ADS_1


"Apa hari ini Mbak senja akan menjadi mamaku?" Pertanyaan yang tidak pernah terlintas dalam benakku justru muncul dari bibir Tania, awalnya aku yang mengira jika dia akan menentang atau banyak bertanya atas apa yang sedang terjadi dan mungkin saja Tania akan membenciku jika dia tahu saat ini aku akan menjadi pengganti mama kandungnya.


"Iya, apa Tania senang?" Jawabku sambil melempar pertanyaan yang sebenarnya membuat jantungku berdegup begitu kencang karena merasa khawatir dengan jawaban yang akan diberikan oleh Tania.


"Tentu saja, siapa yang tidak senang punya mama seperti Mbak senja, tidak seperti mama Angel yang selalu pergi meninggalkanku dan bahkan dia sering mengacuhkanku, Mama Angel juga pernah bilang jika kehadiranku hanya menjadi batu sandungan untuk karir yang seharusnya menjadi cemerlang saat ini," ujar Tania yang kini langsung menunduk meneteskan air mata kesedihan yang mungkin saja sudah dia pendam sejak lama.


"Mulai sekarang, Tania bisa menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengan Mama, dan ingatlah! Mbak senja akan berusaha menjadi mama terbaik untukmu," ucapku mencoba menenangkan hati kecil nan lembut milik Tania yang kini kuketahui tengah terluka, aku mencoba menghiburnya sembari mencium lembut pucuk kepalanya mencoba menyalurkan segala rasa sayang yang ada di dalam hatiku, perasaan yang tulus tanpa bisa aku hentikan atau aku buat-buat, perasaan yang mungkin saja muncul karena aku terbiasa bersama dengan gadis kecil yang sebentar lagi akan menjadi putri sambungku.


Aku dan Tania begitu larut dalam sebuah kasih sayang yang muncul karena terbiasa bersama, hingga kami disadarkan dengan suara sang penghulu yang tengah membimbing Tuan Arka untuk mengucapkan ikrar janji suci sehidup semati yang mungkin akan terwujud setelah acara pernikahan ini, suasana yang tadinya riuh kini berubah menjadi tenang dan hening, yang terdengar hanya suara Tuhan Arka mengucapkan ijab Kabul, dengan satu tarikan nafas berubah sudah status dan kehidupanku.


"Selamat ya, Sayang, semoga kamu bahagia, dan keluargamu menjadi keluarga sakinah mawadah warohmah," untaian doa terdengar dari bibir ibu yang sejak tadi berada di belakangku disusul dengan suara Oma yang baru saja masuk ke dalam kamar di mana aku pernah duduk bersama Tania yang ada di pangkuanku dan ibu di belakangku.


"Selamat ya, Nak, Oma ikut bahagia dengan pernikahanmu ini, semoga ini menjadi pernikahan terakhir bagi Arka dan semoga keluarga kalian akan menjadi keluarga yang bahagia hingga maut memisahkan," ujar Oma.


"Amin," sahutku, ibu dan Tania hampir bersamaan.

__ADS_1


"Sekarang sudah tiba waktunya kamu dan Tania untuk menemui Arka, dia sudah menunggumu di sana," tutur Oma yang kini menuntunku bersama ibu dan Tania di depanku berjalan menemui Tuan Arka yang terlihat begitu tampan sedang duduk menunggu di depan penghulu.


__ADS_2