
"Sudah berapa kali aku bilang padamu Sam, aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Tuan Arka, dia atasanku dan aku masih bekerja padanya," aku mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Ini sudah bukan jam kerja dan kalian masih bersama? Aku bukan orang bodoh Senja," ujar Sam yang terlihat tidak percaya dengan apa yang telah aku jelaskan.
"Terserah padamu Sam, aku lelah, dan aku tidak mau berdebat denganmu, percaya atau tidak aku tidak perduli, yang penting aku sudah mengatakan yang sebenarnya padamu, sisanya terserah kamu," cetusku yang merasa lelah dengan tuduhan Sam, semua tuduhan Sam benar-benar membuatku jengah.
"Mari Tuan, jangan penculikan orang yang tidak percaya pada kita! lebih baik selesaikan pekerjaan yang belum selesai," ajakku pada Tuan Arka yang terlihat hanya diam mematung menyaksikan perdebatan yang terjadi antara aku dan Sam.
"Maafkan aku Senja," ucap Tuan Arka sesaat setelah kita berada di dalam mobil dan mobil melaju dengan kecepatan sedang.
Aku memilih duduk di samping sopir seperti biasanya, sedang Tuan Arka duduk di jok belakang.
"Maaf untuk apa, Tuan?" tanyaku yang merasa terkejut dengan permintaan maaf yang secara tiba-tiba di ucapkan oleh Tuan Arka.
"Maaf, karena tugas dariku hubunganmu dengan kekasihku jadi renggang," jelas Tuan Arka.
"Tidak perlu meminta maaf Tuan, hubunganku dengan Sam memang sudah berakhir dan harus berakhir, percuma di pertahankan jika tak ada restu di antara kita," jawabku jujur, entah mengapa rasanya aku nyaman untuk bercerita dengan Tuan Arka, sebenarnya kenyamanan yang aku rasakan bukan tanpa alasan, hal yang membuatku nyaman karena aku yakin jika ceritamu tidak akan bocor ke mana-mana, dan yang terpenting rekan kerjaku di kantor tidak tahu masalah ini, biarlah yang lain tahu aku memiliki kekasih dan tidak tahu kalau aku sudah putus dengannya, aku tidak ingin ada gadis yang cemburu apa lagi melabrakku jika pacarnya berbicara atau berteman denganku, memiliki status pacar orang cukup menjaga diriku dari laki-laki hidung belang dan gadis pencemburu yang bertebaran di tempat aku bekerja.
"Meski begitu aku tetap.meminta maag padamu Senja, karena aku yakin jika kehadiranku dan Tania di hidupmu juga menjadi alasan pertengkaran kamu dengan pacarku itu," Tuan Arka bersikeras meminta maaf padaku.
"Sebenarnya aku dan Sam berpisah bukan karena hal itu Tuan, orang tua Sam tidak merestui hubungan kami hanya karena aku tidak selefel dengan keluarganya," aku mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dengan harapan Tuan Arka tidak merasa bersalah atas putusnya hubunganku dengan Sam, karena yang sebenarnya dia memang tidak bersalah.
"Zaman sekarang masih ada lefel-lefel tidak jelas seperti itu, sungguh terdengar lucu," sahut Tuan Arka.
__ADS_1
"Tentu saja Tuan, harta masih menjadi patokan bagi sebagian besar orang kaya yang tak ingin punya hubungan dengan orang miskin seperti diriku Tuan," ujarku dengan hati yang terasa begitu sakit, bagaimanapun aku masih punya hati dan perasaan saat merasa di rendahan dan tidak di terima hanya karena aku bukan orang kaya.
"Pilihan kamu benar Senja, orang-orang sok kaya seprti itu memang harus di tinggalkan, mereka tidak pantas untukmu," ucapan Tuan Arka kembali membuatku terkejut, akhir-akhir ini sikap dan ucapan Tuan Arka selalu membuatku terkejut dan heran, dia bersikap seratus delapan puluh derajat berbeda dari sebelumnya.
Aku tak lagi menyahuti ucapan Tuan Arka, aku hanya diam mematung menatap jalanan yang terlihat begitu mulus, sangat berbeda dengan jalan hidupku yang terjal dan berbatu.
"Nona, silahkan turun!" suara pak sopir mengejutkanku yang sejak tadi diam mematung, ternyata mobil telah sampai di dalam pekarangan rumah Tuan Arka, dan lebih parahnya lagi aku tidak sadar jika mobil sudah sampai.
"Terima kasih, Pak," sahutku.
"Eh, tunggu Pak!" cegahku saat melihat Pak sopir yang tadi duduk di sampingku hendak pergi meninggalkanku yang baru saja turun dari dalam mobil.
"Ada apa?" sahut pak sopir yang sekarang menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku.
"Saya Pak Santok, bagaimana kalau kamu saya panggil Neng? Neng Senja," sahut sopir yang memang baru aku lihat itu memperkenalkan diri.
"Ide bagus, Pak Santok," ujarku dengan senyum yang mengembang kemudian berlari menyusul langkah Tuan Arka meninggalkan Pak Santo yang terlihat ikut tersenyum ke arahku.
'Kenapa langkah kaki Tuan Arka begitu lebar, aku jadi ketinggalan, padahal aku hanya mengobrol sebentar,' gerutuku dalam hati.
"Tania!" suara Tuan Arka terdengar menggema di ruang tamu.
Mendengar suara Tuan Arka datang beberapa orang asisten rumah tangga menyambutnya mengambil tas dan jaket yang dia pakai.
__ADS_1
"Papa!!!" suara renyah gadis kecil yang penuh dengan keceriaan terdengar, langkah kakinya juga tak luput dari telingaku, Tania berlari mendekat dan langsung menengadahkan tangan memberi tanda jika saat ini dia ingin di gendong.
"Sayang, lihatlah siapa yang datang bersama Papa!" sahut Tuan Arka yang sengaja menurunkan Tania dan memberi tanda keberadaanku yang sempat tak terlihat karena berdiri tepat di belakang Tuan Arka yang memilki tinggi lebih dariku.
"Mbak Senja!" suara Tania terdengar begitu bahagia, begitu pula dengan binar di matanya, Tania benar-benar terlihat bahagia melihat kehadiranku yabg tiba-tiba.
"Hay Tania," sapaku sambil melambaikan tangan lengkap dengan senyum yang ku buat semanis mungkin.
"Pa! turun." Pinta Tania yang langsung di turuti oleh Tuan Arka.
"Mbak tumben datang ke sini? aku kangen tahu pengen main bareng Mbak Senja di kamar lagi kayak dulu." Rengek Tania yang kini berpindah menggelar manja di tanganku.
"Mbak juga kangen pengen main bareng Tania, karena itu Mbak datang ke sini," jawabku.
"Asyik, ayo main Mbak!" seru Tania yang langsung menarik tanganku agar mengikuti langkahnya menuju kamar tidur.
"Pa! Mbak Senja aku ajak main ke kamar!" sambung Tania setelah kita sudah sampai di tangga menuju kamarnya.
Tuan Arka hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat apa yang baru saja di lakukan puterinya itu, sungguh Tania memang gadis ajaib yang memiliki senyum dan keceriaan yang tak tertandingi, padahal dia sedang bersedih karena sang Mama tak bisa mencurahkan rasa sayang sepenuhnya pada Tania.
"Mbak, yo main barbie!" ajak Tania sesaat setelah kiat sampai si dalam kamar.
Aku menemani Tania bermain barbie, mainan yang sejak kecil tak pernah bisa aku miliki meski hatiku sangat menginginkannya.
__ADS_1