
"Tapi te~" ucapanku terpotong dengan suara keras yang berasal dari sampingku, siapa lagi jika bukan suara Tuan Arka? dia yang sejak tadi hanya diam sambil memperhatikan apa yang aku dan Nona Tania lakukan tiba-tiba menyela ucapanku.
"Turuti saja apapun yang di minta Tania! selagi dia merasa senang karenanya," suara mengintimidasi berasal dari bibir Tuan Arka cukup membuatku terkejut.
"Baiklah, Tania," aku mencoba memanggil Tania dengan menghilangkan sebutan Nona di awalnya.
Tania yang mendengar panggilan ku sudah berubah langsung tersenyum kemudian memelukku dengan erat. Sedang Tuan Arka hanya diam mematung melihat apa yang di lakukan oleh Tania putri nya.
"Tania, sudah waktunya pulang." suara Tuan Arka kembali menyapa telinga.
"Bagaimana kalau kita antar Mbak Senja juga Papa?" usul Tania yang cukup membuatku terkejut.
"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri," sela ku yang tak ingin diantar Tania ataupun Papanya.
Pulang dengan mobil mewah seperti yang mereka pakai pasti aja menimbulkan pertanyaan atau bahkan menimbulkan masalah di lingkungan rumahku, dan aku tidak ingin hal itu terjadi.
"Ayolah, Mbak!" seperti biasa Tania mulai menggunakan jurus andalannya, yaitu memaksa orang.
Kali ini Tuan Arka tidak berkata apa-apa, tapi tatapan tajam miliknya mulai menghunus mata hingga menembus jantung.
"Baiklah, aku ikut, tapi tolong turunkan aku di gang saja nanti," aku yang kembali terpaksa mengabulkan keinginan Tania meminta syarat.
"Kalau itu terserah nanti Mbak, yang penting Mbak pulang bareng kita dulu," ujar bocah kecil yang seharusnya tak mengerti apapun kecuali bermain bersama teman dan mendapat begitu kasih sayang dari keluarganya.
Tuan Arka tak menjawab ucapanku, dia berjalan masuk ke dalam mobil. Aku dan Tania hanya mengikutinya dari belakang.
"Aku bukan sopir, keluar dan duduk di depan!" titah Tuan Arka aaat melihatku duduk di belakang bersama Tania.
Sejenak aku terdiam, ada rasa terkejut dan juga sungkan yang kini menguasai diriku, bagaimana mungkin aku bisa duduk di depan tepat di samping Tuan Arka yang notabennya seorang majikan.
"Aku tidak suka mengulangi kata-kataku," suara Tuan Arka kembali terdengar.
"Ayo pindah! sebelum tanduk Papa keluar." Bisik Tania yang cukup membuatku kebingungan dan langsung berjalan mengikuti langkah Tania yang lebih dulu pindah di kursi depan, apa yang terjadi saat ini membuatku merasa seperti oranng yang penting dan Ibu dari Tania.
__ADS_1
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju gubuk reyot yang tak seharusnya di datangi oleh orang penting seperti Tuan Arka, yang memiliki kekayaan cukup banyak dan tak ada satu orang pun yang berani melawannya termasuk aku.
"Stop Pa! itu rumahnya," spontan Tania saat melihat rumahku yang hampir saja terlewati.
Tuan Arka langsung menghentikan laju mobilnya membuat aku dan Tania terkejut karenanya.
"Astaghfirullah," suaraku justru lebih mengejutkan Tania dan Tuan Arka yang langsung menoleh ke arahku.
"Maaf," sambungku yang merasa tak enak hati karena sudah mengejutkan Tania dan Tuan Arka.
"Tidak apa - apa Mbak," sahut Tania sambil mengusap pelan punggung tanganku, sedang Tuan Arka hanya melihatku sekilas kemudian mengalihkan pandangannya ke arah rumahku.
"Ayo turun!" sambung Tania yang langsung membuka pintu tanpa ada yang memberi perintah.
"Kamu mau ke mana Tania?" tanya Tuan Arka dengan tatapan penuh rasa penasaran yang terlihat jelas di wajahnya.
"Aku mau turun dan masuk ke rumah Mbak Senja." Jawab Tania enteng.
"Apa Papa lupa kalau hari ini adalah hari minggu," sahut Tania yang sepertinya cukup membuat Tuan Arka diam seribu bahasa, dia hanya menghembuskan nafas kasar mendengar ucapan Tania yang aku sendiri tidak tahu apa hubungannya permintaan Tania dengan hari minggu.
"Tanyakan dulu pada Senja, apa dia mau menerima kita sebagai tamu!" titah Tuan Arka yang terlihat tidak berdaya dan tidak mampu menolak apa yang di minta oleh Tania, dia hanya bisa menuruti keinginan Tania.
"Mbak mau kan nerima aku sebagai tamu?" Tania kembali menunjukkan wajah imut penuh harap yang selalu menggoyahkan hatiku.
"Tentu saja aku merasa senang sekali jika Tuan dan Tania berkenan mampir di gubuk reyot milikku ini," jawabku yang memang tidak akan pernah bisa menolak keinginan Tania.
"Asyiiikkk, Mbak aku ingin di buatkan camilan seperti kemarin!" pinta Tania yang cukup membuatku bingung, pasalnya aku lupa apa yang sudah Ibu hidangkan untuk majikan kecil penuh derita ini.
"Memangnya Ibu membuatkan apa untukmu?" tanyaku yang memang tidak tahu apa yang sudah Ibu berikan padanya.
"Bik Lastri membuatkan gorengan yang banyak isinya Mbak, ada wortelnya dan entah ada apa lagi, yang aku tahu cuma wortel dan bentuknya bulat Mbak," Tania mencoba menjelaskan makanan yang ingin dia makan.
"Astaga, apa yang Ibu masakkan untukmu?" ujarku sambil menengadah mencoba berfikir apa yang sudah Ibunya berikan untuk Tania.
__ADS_1
"Mungkin yang dia maksud ote-ote," sahut Tuan Arka yang kini duduk di depan kap mobil.
"Oh, aku akan membuatkan camilan itu untukmu," ujarku.
"Asal Tania tidak terburu-buru, Mbak bisa memnuatkannya untukmu, tapi Tania harus sabar menunggunya karena membuat camilan ote-ote cukup memakan waktu yang lama.
"Aku akan setia menunggu sampai camilan itu siap untuk di makan," jawaban Tania terdengar begitu tegas dan meyakinkan diriku.
"Baiklah, ayo masuk!" kali ini aku yang mengajak Tania masuk ke dalam rumah.
"Maaf, rumahnya berantakan," ujarku saat melihat Tuan Arka sibuk memperhatikan setiap jengkal rumahku.
"Hm," jawab Tuan Arka.
Sungguh jawaban yang cukup membuatku bingung, dan aku sama sekali tidak mengerti arti dari deheman Tuan Arka.
"Silahkan duduk, dan nikmati minumannya." Aku memberikan satu teh hangat dan satu kopi sesuai dengan minuman yang Tuan Arka sukai.
"Hm," sahut Tuan Arka.
Mendengar sahutan Tuan Arka yang membuatku bingung sekaligus jengkel membuatku memutuskan untuk membiarkan Tuan Arka dan Tania melakukan apa yang mereka mau tanpa ada niat untuk mengganggu.
Sebenarnya hari ini adalah hari liburnya, tapi aku harus tetap bekerja membuat camilan untuk kedua orang tamu yang kini duduk tenang di kiri ruang tamu.
"Apa aku boleh ikut membuatnya?" tanya Tania yang tiba-tiba muncul tepat di belakangnya dan sukses membuatku terkejut karenanya.
"Astaga, ada apa lagi Tania?" sahutku yang langsung menoleh ke arahnya.
"Apa aku boleh membantu Mbak Senja?" tanya Tania
"Boleh, ayo masuk!" aku yang merasa tidak pernah punya masalah dengan Tania langsung membuat makanan pesanannya dengan Tania dan sedikit mengajari Tania bagaimana cara membuatnya.
"Wahh Mbak Senja hebat!!" seru Tania saat ote-ote yang sejak tadi ada di atas penggorengan sudah aku ambil.
__ADS_1