
Sejenak Arka terdiam, Senja memang bisa membuat Tania Bahagia sekaligus merasakan kasih sayang seorang Ibu, selama Senja bersama dengan Tania, Arka selalu memperhatikan setiap perubahan wajah dan senyum juga tawa Tania yang terlihat begitu lepas tanpa beban dan penuh rasa bahagia yang tak di buat-buat.
"Baiklah, besok kita akan piknik bersama, termasuk Mbak Senja, apa sekarang kamu senang Sayang?" akhirnya jawaban yang di tunggu-tunggu oleh Tania akhirnya terdengar juga, dan Arka begitu senang mendengarnya.
"Asyik!! Aku sayang Papa," girang Tania yang langsung meloncat dan sesekali mencium pipi Arka sebagai tanda jika saat ini Tania merasa begitu bahagia dengan apa yang Arka katakan.
Sungguh pemandangan indah yang bahkan akan mengalirkan air mata bahagia pada siapapun yang menyaksikannya.
Author Pov end ....
Pagi indah penuh harapan, kokokan ayam yang terdengar begitu kencang, mengejutkan diriku yang sedang lelap dalam mimpi yang cukup indah.
"Astaga, sudah jam berapa sekarang?" lirihku yang merasa jika saat ini masih malam, atau sudah mau subuh.
"Masih jam empat," sambungnya setelah melihat jam di dalam ponselku.
Dddrrrttt ... dddrrrttt ... dddrrrttt ....
Suara getar sekaligus nada dering ponsel yang baru saja aku letakkan cukup membuatku terkejut, pasalnya saat ini masih jam empat, subuhpun masih kurang setengah jam lagi, siapa yang menelfonku sepagi ini?
Meski ada sejuta tanya dalam benakku, aku tetap memaksakan diri untuk meraih ponsel yang terus berbunyi di atas nakas tak jauh dari tempatku tidur. Meski rasa kantuk masih menguasai, Aku tetap berusaha membuka mata agar tahu siapa yang menghubungiku.
"Hm, hallo, siapa ini?" tanyaku yang kini kembali merebahkan diri di atas kasur sesaat setelah mengambil ponsel di atas nakas, Aku berucap sambil memejamkan mata menikmati setiap rasa ngantuk yang masih menguasai diriku.
__ADS_1
"Nanti pagi datang ke rumahku! tidak usah ke kantor!" suara mengintimidasi Tuan Arka terdengar begitu jelas di telinga, dan karena hal itulah mataku yang sejak tadi tertutup kini langsung terbuka lebar selebar-lebarnya.
"A~apa ini Tuan Arka?" dengan ragu aku bertanya.
"Iya," jawaban singkat Tuan Arka bersamaan dengan putusnya sambungan telfon yang cukup membuatku mendengus kesal.
"Astaga, ada apa ya? kenapq Tuan Arka memintaku datang ke rumahnya? apa ada masalah? jangan-jangan aku mau di pecat lagi, tapi kenapa harus ke rumah Tuan Arka? kenapa mecatnya gak di kantor saya?" aku bergumam sendiri menerka apa yang sebebarnya terjadi, telfon dari Tuan Arka di pagi buta cukup membuatku bingung dan terkejut, pasalnya ini yang pertama kalinya aku mendapat telfon dari Tuan Arka yang notabennya pemilik perusahaan tempatku bekerja.
"Ngomong-ngomong Tuan Arka dapt dari mana ya nomerku?" aku kemvali bergumam sendiri, jika saja di rumah ini ada orang lain selain diriku, bisa aku pastikan jika saat ini dia akan menganggapku gila.
"Senja!!!" suara Ibu terdengar nyaring di telingaku, dsn cukup kengejutkan aku yang tengah larut dalam pemikiranku sendiri.
"Iya, Ibu," sahutku sambil berdiri berjalan ke arah pintu untuk membukanya dan menemui Ibu.
"Siap, Ibu," jawabku dengan senyum yang ku tunjukkan ke arah Ibu, meski aku maaih bingung dengan panggilan telfon di pagi buta tadi, aku tetap harus tersenyum agar Ibu menganggapku baik-baik saja.
"Bu," panggilku setelah swlesai bersiap.
"Iya, ada apa, Nak?" sahut Ibu yang kini duduk di sampingku sambil menatap lekat ke arahku, panggilan Nak yang Ibu sematkan selalu bisa membuat jiwaku merasa tenang dan damai, aku merasa menekukan cinta dan kasih sayang tulus di dalamnya setiap kali aku mendengar Ibu memanggilku seperti itu.
"Setelah ini Ibu mau langsung berangkat bekerja bukan?" tanyaku memastikan jika Ibuku akan langsung berangkat bekerja.
"Tentu saja, memangnya kenapa? kok tumben tanya Ibu mau langsung bekerja atau tidak," jawab Ibu santai.
__ADS_1
"Aku mau bareng ikut Ibu," ucapku.
Mendengar ucapanku, Ibu terlihat terkejut dan bingung.
"Loh, bukannya kamu harus ke kantor, Nak?" tanya Ibu spontan.
"Harusnya aku berangkat ke kantor, tapi pemilik perusahaannya tadi nelfon nyuruh aku datang ke rumahnya pagi ini," aku menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Ibu, tapi bukannya Ibu mengerti dia malah terlihat semakin bingung.
"Bagaimana maksudmu? Ibu sama sekali tidak mengerti dengan ucapanmu," Ibu kekbali bertanya.
Mendengar pertanyaan Ibu membuatku sadar jika aku belum pernah bercerita padanya jika pemilik perusahaan tempatku bekerja itu milik Tuan Arka yang tak lain dan tak bukan majikan Ibuku sendiri.
"Pemilik perusaanku itu Tuan Arka, Ibu, dan tadi pagi dia menelfonku. Memintaku datang kerumahnya pagi ini," aku kembali menjelaskan apa yang memang harus aku jelaskan.
"Wahh, ternyata dunia ini sempit juga ya," sahut Ibu.
"Sempit atau tidak, aku tidak perduli Ibu, yang penting kita bisa hidup lebih baik dari kemarin, itu saja sudah cukup untukku," aku kembali tersenyum ke arah Ibu, berharap dia akan terus baik-baik saja meski dunia ini terasa sempit untuk kami.
Hari ini terasa begitu berbeda, aku yang biasanya berangkat kerja bersama dengan Sam atau naik bus sendiri, kini aku berangkat bekerja bersama Ibu dengan tangan yang saling bertautan, rasanya begitu hangat dan menenangkan jiwa, saat aku bisa menggenggam tangan Ibu, rasanya aku mampu menguasai dunia dan melewati segala cobaan yang tengah menimpaku, Ibu adalah duniaku, dia segalanya.
"Apa setiap hari Ibu jalan kaki seperti ini setiap berangkat dan pulang kerja?" tanyaku saat aku merasa jika jarak yang kami tempuh terasa begitu jauh, meskipun dulu aku juga pernah jalan kaki, tapi aku yakin jika Ibu pasti merasa sangat lelah dengan jarak yang kami tempuh saat ini.
"Tentu saja, Ibu tidak mungkin naik angkot setiap hari, kaki Ibu tak sekuat dulu, " Jawab Ibu dengan senyum yang ku tahu pasti jika ada sejuta lara dan kesedihan yang tersimpan di dalamnya.
__ADS_1