
Sesuai dengan keinginan Tania yang hari ini menjadi ratu dalam sehari, Tuan Arka mengajak aku dan Tania mengisi perut terlebih dahulu.
"Ayah, Aku ingin makan soto betawi," celetuk Tania.
"Kita akan sarapan dengan soto betawi, kalau kamu bagaimana Senja? apa kamu mau sarapan dengan soto betawi? atau kamu ingin makan yang lain?" tanya Tuan Arka, meski saat ini Tania yang menjadi ratunya, tapi Tuan Arka tetap menghargai keberadaan dan menanyakan apa aku menyukai pilihan Tania atau tidak, ternyata Tuan Arka tak seburuk yang aku kira, selama ini aku mengira dia hanya baik pada Tania dan bersikap dingin juga arogan pada semua orang, tapi kenyataannya berbanding terbalik dan aku mulai mengerti jika sebenarnya Tuan Arka itu baik, dia bersikap sok arogan dan dingin mungkin agar kariyawan atau semua orang yang bekerja padanya tidak meremehkan dia.
"Kalau saya ngikut aja Pak, saya bukan tipe pemilih kok dalam hal makanan," jawabku yang memang tak pernah pilih-pilih soal makanan, bisa makan hari ini saja rasanya sudah syukur.
"Bagus," sahut Tuan Arka yang kini kembali fokus menatap lurus ke depan dan mengemudikan mobil dengan sangat baik.
Mobil menuju sebuah restauran yang cukup besar dan terlihat mewah, aku saja sampai takjub melihat kemewahan dari desain interior restauran yabg saat ini di datangi oleh Tuan Arka.
"Masya allah, restaurannya bagus banget," lirihku sambil terus menikmati desain interior yang memanjakan mata siapapun yang datang.
"Jangan terlalu memuji sesuatu yang sebenarnya biasa saja, norak," ujar Tuan Arka yang cukup membuatku sedikit syok, baru beberapa menit tadi aku memuji kebaikan dan perhatiannya, sekarang sudah mulai menyebalkan lagi, dasar bos aneh tak bisa di mengerti bermulut tajam pula, dan sialnya aku hanya bisa diam tanpa bisa membalas kata-kata yang keluar dari bibir tajam miliknya.
'Awas saja Nanti, Aku pasti akan membalas semua yang kau katakan hari ini,' batinku mulai mengumpat.
Acara sarapan pagi berjalan dengan lancar tanpa drama ataupun tangis air mata dari Tania, semuanya lancar jaya hingga makanan yang ada di atas piring tandas tak tersisa, kebetulan Tuan Arka dan Tania tadi datang pas aku baru bangun dari tidur dan belum sarapan, karena itulah sarapan hari ini benar-benar terasa nikmat tiada tara.
"Senja!" suara Sam terdengar menusuk telinga dan mengusik diriku yang baru saja mengisi perut dnegan masakan restauran mewah yang terasa begitu lezat, tapi kelezatan makanan barusan menghilang seketika saat aku mendengar panggilan Sam bernada emosi.
"Sam," lirihku sambil menoleh ke belakang di mana Sam berdiri.
Melihat kedatangan Sam, Tuan Arka langsung memanggil pelayan dan membayar semua makanan yang baru saja kita makan.
__ADS_1
"Selesaikan masalah kalian sekarang! aku tunggu kamu di play ground yang ada di sebelah restauran Ini! Ingat! jangan terlalu lama! karena Tania tidak pernah bisa menunggu dan gajimu kali ini akan aku berikan besok saat kamu masuk kerja," pesan Tuan Arka sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan aku yang masih setia duduk dengan jantung berdebar, apa yang di lakukan Tuan Arka pasti semakin membuat Sam curiga.
"Sam, sedang apa kamu di sini?" tanyaku sambil menoleh ke arah Sm yang kini berjalan mendekat dan duduk tepat di sampingku.
"Harusnya aku yang bertanya Senja, sedang apa kamu di sini dengan lelaki tua itu?" bukannya menjawab pertanyaanku Sam malah balik bertanya, wajah Sam yang terlihat marah semakin menambah seram keadaan di tambah panggilan Sam yang kini tak lagi memanggilmu Sayang menandakan jika Sam sedang marah padaku.
"Aku sedang menemani anak majikan Ibu sekaligus bis di tempatku bekerja makan," jawabku jujur.
"Apa dia alasan kamu ingin memutuskan hubungan kita?" Sam kembali bertanya.
"Semua yang aku lakukan dan aku putuskan masalah hubungan kita, tidak ada hubungannya dengan dia Sam," elakku.
Apa yang aku katakan memang kenyataan, dan aku tak pernah berbohong.
"Jika memang tak ada hubungannya, kenapa kamu bisa berhubungan begitu dekat dengan puteri bosmu?" Sam terlihat masih tidak percaya dengan apa yang aku katakan.
Sam sejenak terdiam sambil menatap lekat ke arahku seolah mencari kejujuran dalam diriku. Sedang aku hanya bisa berharap dia mengerti jika aku tidak berbohong padanya.
"Apa buktinya jika kamu memang tidak ada hubungan apapun dengan laki-laki tua itu?" Sam terlihat masih tidak percaya, tapi dia masih berusaha untuk tetap mempercayaiku.
Aku bingung harus menunjukkan apa sebagai bukti jika aku dan Tuan Arka sama sekali tidak ada hubungan apapun selain hubungan seorang majikan dan karyawannya.
"Tania!!!" aku yang bingung memilih Tania sebagai bukti kuat agar Sam tak lagi mencurigainya dan percaya dengan ucapanku. Aku yang mendapat ide cemerlang memanggil Tania, tapi Tuan Arka yang pasti tahu jika saat ini Sam dan aku tengah mendebatkan sesuatu mengerutkan dahi melihat ke arahku, dia terlihat bingung karena aku memanggil Tania.
"Iya Mbak Senja," sahut Tania yang kini berjalan mendekat ke arahku karena aku melambaikan tangan tanda jika aku ingin dia mendekat.
__ADS_1
"Kemarilah!" pintaku dengan senyum penuh kelembutan aku memanggil Tania
"Apa urusan Mbak Senja dengan Bapak ini sudah selesai?" tanya Tania yang cukup membuat perutku geli dan aku ingin tertawa karenanya.
"Aku masih muda gadis kecil, panggil aku kakak!" sahut Sam ketus, dia terlihat kurang suka di panggil Bapak oleh Tania.
"Dia masih kecil Sam, percuma, sekalipun kau jelaskan dia tidak akan pernah mengerti," aku yang tak ingin suasananya menjadi keruh memilih untuk menengahi permusuhan yang terpancar dari wajah Sam dan Tania.
"Sudah, Tania," jawabku seraya mengangkat tubuh mungil Tania dan mencium lembut pucuk kepalanya.
"Kalau sudah, kenapa Bapak ini tidak pergi, Mbak?" sekali lagi Tania bertanya dan memanggil Sam dengan sebutan Bapak.
"Tania, Mbak cuma minta kamu katakan yang sebenarnya! Mbak Senja ke sini di ajak Papa Tania atau Tania?" tanyaku yang ingin segera menyelesaikan permasalahanku dengan Sam.
"Mbak Senja ke sini aku yang ajak, dan aku memang suka pergi sama Mbak Senja karena Mamaku selalu sibuk bekerja, dan Mbak Senja orangnya baik, karena itulah aku senang mengajaknya pergi, memangnya kenapa, Mbak?" Tania menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi sambil melempar pertanyaan ke arahku.
"Tidak ada apa-apa, Kakak ini mengira Mbak Senja pergi sama Tania karena di ajak sama Papa Tania," aku mencoba lebih meyakinkan Sam jika aku dan Tuan Arka benar-benar tidak ada apa-apa.
"Papa tidak ngajak Mbak Senja, yang ngajak Mbak Senja itu Aku, dan aku yang meminta Papa untuk jemput Mbak Senja," sekali lagi Tania mengatakan apa yang sebenarnya terjadi dan Sam terlihat percaya dengan apa yang di katakan oleh Tania.
"Apa masalah kalian sudah selesai?" suara Tuan Arka terdengar dari belakang tempat aku duduk, tadi Tuan Arka. terlihat pergi ke dalam restauran, mungkin dia pergi ke toilet.
"Sudah, Tuan," jawabku, jujur saja, Aku sedang malas dan tidak ingin berdebat lebih panjang dengan Sam, karena itulah aku memutuskan untuk mengatakan jika masalah antara aku dan Sam sudah selesai, dari pada aku terus berdebat dan pada akhirnya bertengkar di depan umum, lebih baik aku menghindar dan mengatakan jika semuanya sudah selesai.
"Bagus," ujar Tuan Arka tegas.
__ADS_1
"Apa sekarang kita bisa pergi dan melanjutkan rencana yang sudah di buat oleh puteriku?" sambung Tuan Arka yang terlihat kurang suka dengan Sam yang terus saja mengusik ketenanganku.