Kutemukan Cinta Di Ujung Senja

Kutemukan Cinta Di Ujung Senja
Papa Tania


__ADS_3

"Senja!" suara Reyhan menggema di ruangan yang biasa aku sebut pantry.


"Iya, Rey, ada apa?" sahutku seraya menghentikan sejenak aktifitasku yang sedang membuat minum untuk Direktur, ini pertama kalinya aku membuatkan minum untuk orang yang cukup penting di perusahaan ini.


"Kamu sedang apa?" pertanyaan yang sungguh tidak begitu berfaedah keluar dari bibir Reyhan dan sukses membuatku jengkel, tanpa perlu bertanya, harusnya Reyhan tahu jika saat ini aku sedang membuatkan minuman.


"Aku sedang buat minum untuk Pak Direktur," meski hatiku jengkel dengan pertanyaan yang sebenarnya sudah dia tahu jawabannya tanpa harus aku jelaskan.


"Biarkan aku yang melakukannya, kamu kerjakan yang lainnya saja!" ujar Reyhan.


Sudah hampir seminggu Reyhan selalu membuatkan minuman untuk Direktur di kantor ini, padahal dia tahu dengan jelas jika tugas itu merupakan tugasku bukan tugas dia.


"Untuk kali ini aku mohon padamu, biarkan aku melakukannya sendiri, bagaimanapun membuatkan minum ini merupakan tugasku yang memang harus aku kerjakan," aku mencoba menolak dengan halus ucapan Reyhan.


Sejenak Reyhan terdiam menimbang apa yang akan terjadi jika dirinya menuruti permintaan Senja yang sebenarnya memang pekerjaannya.


"Baiklah, tapi sebelum kamu memberikan minuman itu, ingatlah pesanku! jangan pernah banyak bicara ataupun melihat apa yang ada di ruangan itu, kamu cukup menaruh minuman itu dengan mulut tertutup dan berpura-puralah buta saat kau ada di sana," Reyhan memberitahunya seolah akan ada kejadian yang cukup membuatku terkena masalah.


"Apa ada sesuatu yang akan membuatku terkena masalah?" tanyaku yang mulai merasa penasaran dengan apa yang akan terjadi.


"Jika kamu melanggar apa yang aku katakan barusan, maka aku bisa memastikan jika besok kamu akan mendapat masalah," jawab Reyhan yang membuatku merasa sedikit cukup takut, tapi di sisi lain aku malah merasa penasaran dan tertantang untuk terus melanjutkan apa yang ingin aku kerjakan.


"Baiklah, aku akan mengingat setiap kata yang baru saja kamu ucapkan barusan," sanggupkah yang merasa semakin tertantang dengan apa yang di katakan oleh Reyhan.


"Kalau begitu aku pergi dulu." Sambungku yang langsung melangkah pergi meninggalkan Reyhan yang terlihat menatapku dengan tatapan heran.


Meski jauh dari dasar hatiku terdapat rasa khawatir bercampur penasaran, Aku tetap memberanikan diri untuk mengantar minuman ke ruangan Direktur yang katanya sangat menyeramkan.

__ADS_1


Tok ... tok ... tok ....


Perlahan namun pasti aku mengetuk pintu ruang Direktur, awalnya aku iseng karena aku dikit pemilik ruangan itu pasti belum datang, tapi sedetik kemudian permintaanku salah, suara tegas dan penuh kewibawaan terdengar dari luar ruangan meskipun aku belum melihatnya, tapi aku yakin jika pemilik suara itu pasti tampan, tegas dan penuh wibawa.


"Masuk!"


Satu kata terdengar begitu jelas di telinga, mengejutkan diriku yang sejak awal sedang fokus pada pesan Reyhan dan apa yang harus aku lakukan setelah masuk ke dalam ruangan Direktur.


"Permisi," lirihku yang masih saja merasa takut jika terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan ekspektasi.


Direktur yang ku tak tahu siapa namanya itu hanya diam mendengar ucapan permisi yang aku tujukan padanya membuatku semakin takut untuk masuk ke dalam, benar apa kata Reyhan, lebih baik dia yang mengantar minuman ini, kenapa aku begitu keras kepala seperti saat ini, jika dia tak menyukai minumanku nanti bagaimana.


'Dia,' batinku saat melihat Papa Tania duduk dengan anteng sambil fokus menatap ke arah tumpukan kertas yang ada di atas meja.


'Kenapa aku bertemu lagi dengan makhluk menyebalkan ini lagi?' batinku kembali berucap sambil terus berdiri menunduk menyembunyikan wajah agar tak terlihat olehnya.


Dengan langkah sedikit cepat aku segera menaruh minuman yanga da di tanganku ke atas mejanya sambil terus menunduk.


"Tunggu!" suara Papa Tania kembali terdengar, sungguh situasi yang kurang tepat untukku menunjukkan dien tugas ku.


"Iya, ada apa Tuan?" sahutku menoleh ke arah Papa Tania tapi dengan kepala yang masih setia menunduk.


"Apa kamu karyawan baru?" sahutnya yang langsung melempar tatapan ke arah ku yang langsung menunduk menyembunyikan wajah agar dia tak mengenaliku.


"Iya, Tuan," jawabku yang kini sedikit gemetar efek rasa takut yang semakin besar.


"Untuk hari ini kamu aku maafkan, lain kali jangan meletakkan minuman ini di sini!" Papa Tania memberitahu aku di mana letak kesalahanku.

__ADS_1


"Baik, Tuan?" jawabku yang menyanggupi peringatan Papa Tania yang kini kembali fokus menatap tumpukan kertas di hadapannya.


"Keluar!" Papa Tania kembali memberi perintah agar aku segera keluar dan meninggalkan ruangannya.


Mendengar perintah Papa Tania aku langsung berjalan cepat keluar dari dalam kandang singa yang baru saja aku masuki.


"Huft," ucapku seraya mengusap pelan dadaku yang tiba-tiba berdetak lebih kencang dari biasanya karena merasa lega dengan apa yang baru saja dia alami.


"Pantas saja Reyhan melarangku mengantar minum ke ruangan Direktur, sepertinya dia terlihat seperti singa betina yang kelaparan, mengingat bagaimana sikap kejam yang di tunjukkan oleh Papa Tania.


"Kamu kenapa Senja?" sapa Mbak Sifa yang baru saja lewat tepat di sampingku.


"Aku baik kok Mbak," jawabku gugup karena saat ini aku tidak ingin menambah musuh atau apa lah itu, aku malas untuk menghibah seorang direktur yanga ada di ruangan tak jauh dari tempatku berdiri.


"Jika kamu baik-baik saja, kenapa sekarang malah terlihat ketakutan, Senja," Mbak Sifa begitu merasa jika saat ini aku sedang menyimpan sesuatu.


"Aku tidak takut Mbak, hanya sedikit terkejut dengan apa yang aku lihat, ternyata Tuan Direktur di sini cukup sangat tegas," ujarku yang membelokkan setiap kata agar Mbak Sifa tidak tahu arti cinta yang tengah tumbuh di hati keduanya.


"Tuan Direktur memang seperti itu, kamu jangan kaget apa lagi takut, karena sebenarnya Tuan Direktur itu baik dan lembut," Mbak Sifa mencoba membesarkan hatiku agar aku bisa bekerja dengan tenang tanpa rasa takut yang memang sedang aku alami.


"Terima kasih, Mbak," ucapku dengan penuh keikhlasan.


"Yang semangat kerjanya!" hardik Mbak Sifa.


"Pasti, Aku bukan gadis kecil yang akan terus menangis dan diam, menyerah dengan keadaan," ujarku yang masih ingin memasak.


"Bagus! jika kamu seperti ini terus maka aku bisa pastikan kalau kamu bisa bekerja lebih lama di sini," ujar Mbak Sifa sambil menepuk bahuku pelan kemudian melangkah peegi meninggalkan aku yang justru terpaku menatap kepergiannya, sungguh aku tidak pernah menyangka jika akan kembali bertemu dengan Papa Tania, Aku harap setelah ini dia tidak memperlakukan diriku dengan buruk.

__ADS_1


__ADS_2