Kutemukan Cinta Di Ujung Senja

Kutemukan Cinta Di Ujung Senja
Setengah Hati


__ADS_3

Kruyuk ... kruyuk ... kruyuk ....


Suara perut yang memang belum aku isi sejak tadi pagi kini mulai terdengar, pertanda jika cacing-cacing yang bersemayam di dalam sana tengah berdemo minta di isi.


"Astaga, aku balik makan sejak pagi," lirihku sambil memegang perut yang tengah berbunyi.


Aku lirik jam berukuran sedang yang tergantung indah di dinding tepat di atas ku berdiri.


'Sudah waktunya makan siang, lebih baik aku makan dulu.' batinku.


Kakiku mulai melangkah sesuai dengan perintah fikiran yang kini sedang memikirkan sekotak makanan yang tadi telah di siapkan oleh Ibu. Seutas senyum muncul tanpa aku perintah saat mengingat betapa perhatiannya Ibuku, rasanya begitu mengharukan.


"Khem," deheman seorang laki-laki yang terkadang menjadi alasan kecemburuan Sam terdengar menyapa telinga, siapa lagi laki-laki itu jika bukan Tuan Arka.


"Tuan," spontanku, kenapa Tuan Arka bisa ada di sini? tempat yang jarang di kunjungi orang, koi aku berada di taman belakang, taman yang kebersihannya merupakan tugasku, di jam makan siang seperti ini Taman belakang akan sepi, karena kebanyakan kariyawan berada di kantin, atau keluar mencari warung makan untuk mengisi perut yang kosong.


"Kamu sedang apa di sini?" pertanyaan yang sebenarnya lebih pantas di ucapkan oleh kini terdengar dari bibir Tuan Arka.


"Eh, saya sedang makan siang, Tuan," jawabku sambil menundukkan kepala merasa gugup.


"Makan apa?" tanya Tuan Arka sambil menatap ke arah kotak makan yang saat ini ada di tanganku.


"Bekal, Tuan," jawabku sambil mengangkat bekal yang tadi aku pangku.


"Apa aku boleh mencoba bekal yang kamu bawa?" tanya Tuan Arka.


Mendengar pertanyaan Tuan Arka membuat mulutku ternganga dan tak bisa tertutup, bagaimana bisa Tuan Arka pemilik perusahaan tempat aku bekerja meminta bekal yang tak bisa di bandingan dengan menu makanan yang biasa dia makan, bahkan menunya juga tak bisa di bandingkan dengan menu makan yang selalu tersedia setiap pagi di meja makan yang ada di rumahnya.


"Saya hanya membawa nasi dengan Pepes tongkol, Tuan," jawabku.


Tanpa menyahuti ucapanku Tuan Arka langsung mengambil kotak makan yang masih menggantung di depan perutku.


Aku masih terkejut menatap heran ke arah Tuan Arka, sikapnya sungguh membuatku bingung.


"Tunggu, Tuan!" cegahku saat melihat Tuan Arka hendak menyendok makanan yang sebenarnya sudah aku makan tadi.


"Kenapa?" Tuan Arka menghentikan gerakan tangannya menoleh ke arahku dengan tatapan penuh tanya.


"Itu bekasku, aku sudah makan satu suap tadi," tuturku, rasanya sangat tidak sopan atau bahkan menjijikkan jika makan dari bekasku.

__ADS_1


Tuan Arka seolah tak menggubris ucapanku, dia kembali meraih sendok yang tadi sempat dia letakkan kemudian memakan bekal yang sudah aku makan sesuap.


Cukup lama aku terdiam menatap lurus ke depan melihat pemandangan yang sungguh tak pernah terbayangkan sebelumnya, Tuan Arka nampak lahap dan tak sedikitpun jijik, padahal sendok yang dia pakai sudah aku pakai sebelumnya.


"Permisi, Tuan," suara seorang laki-laki yanh entah kapan datangnya terdengar dari arah samping di mana aku berdiri.


"Hm," sahut Tuan Arka sambil meletakkan kotak makan yang ku lihat sudah kosong tak tersisa sebutir nasipun di dalamnya.


"Ini makanan pesanan Tuan." Ujar Samsul yang kini menjadi asisten pribadi Tuan Arka.


"Ambilkan aku air putih!" titah Tuan Arka seraya berdiri meraih makanan yang di bawa oleh asistennya dan melirik sekilas ke arahku.


"Baik, Tuan," aku yang mengerti dengan arti lirikan yang di berikan Tuan Arka langsung melaksanakan perintah yang ku yakini di tujukan padaku.


"Aku Tidak memberi perintah padamu, duduklah!" langkahku terhenti ketika Tuan Arka kembali memberi perintah.


"Sam, ambilkan aku air putih!" Tuan Arka kembali memberikan perintah, kali ini perintah yang di ucapkan Tuan Arka terdengar lebih jelas karena dia menyebut nama orang yang dia perintah.


"Baik, Tuan," sekarang suara asisten Tuan Arka yang terdengar, dengan langkah lebar dia melangkah menjauh meninggalkan aku yang sudah duduk di kursi panjang yang memang di sediakan di tepi Taman dengan kanopi seukuran kursi panjang sebagai penghalang agar siapapun yang duduk di sana tidak kepanasan.


"Makanlah!" sejak tadi aku mendengar Tuan Arka memberi perintah yang membuatku merasa sangat heran, Tuan Arka memakan bekalku dan dia memberikan makanan yang sengaja dia pesan untukku, bukankah rasanya sangat aneh, untuk apa dia memberikan makanan yang dia pesan untukku dan memakan bekal yang pasti rasanya jauh jika di bandingkan, tapi aku yang masih takut hanya bisa diam tanpa bertanya alasan Tuan Arka melakukannya, dia orang yang berkuasa di tempat ini dan aku sebagai kariyawan rendah hanua bisa diam dan melaksanakan perintah yang menurutku masih bisa di terima oleh akal sehat.


"Senja," lirih Tuan Arka yang membuatku langsung tersedak karenanya.


Ukhuk ... ukhuk ... ukhuk ....


"Sam, cepatlah!" suara panik terdengar dari bibir Tuan Arka dan aku yang terkejut karenanya langsung menoleh ke arah Tuan Arka, dia memberikan satu gelas air putih yang di bawa oleh asistennya, seolah mengerti dengan keadaan yang terjadi, asisten Tuan Arka membawa dua gelas air putih.


"Hati-hati kalau makan!" ujar Tuan Arka setelah aku meminum air yang tadi dia sodorkan.


"Maaf Tuan, jika sudah tidak ada yang di perlukan saya permisi." Pamit asisten Tian Arka yang di balas dengan anggukan kepala sebagai tanda jika Tuan Arka mengizinkan sang asisten pergi meninggalkannya.


"Tuan manggil saya ada apa?" tanyaku yang merasa jika Tuan Arka ingin mengatakan sesuatu yang enatah apa.


"Apa kamu tahu bagaimana cara membuat seorang anak lupa dengan Ibunya?" tanya Tuan Arka.


'Astaga, sejak tadi Tuan Arka benar-benar membuatku tak berhenti terkejut, setiap pertanyaan dan perintah yang dia ucapkan sukses membuat jantungku berolahraga, rasanya jantungku akan copot karena terkejut,' batinku merasa sangat terkejut dengan pertanyaan Tuan Arka, mataku ikut melotot menatap penuh keanehan ke arah Tuan Arka.


"Apa pertanyaanku menyakitimu? sampai kamu melotot padaku," ujar Tuan Arka.

__ADS_1


mendengar ucapan Tuan Arka aku menggelengkan kepala sambil memejamkan mata sekejap mencoba meraih kesadaran yang mungkin hampir menghilang.


"Tidak, aku hanya merasa terkejut dan heran dengan pertanyaan yang Tuan katakan barusan," kelasku yang tak ingin Tuan Arka salah faham.


"Aku hanya meminta pendapatmu, Senja," ujar Tuan Arka.


"Kalau soal itu sangat sulit Tuan, karena ikatan batin seorang anak dan Ibu tidak akan pernah bisa di pisahkan apapun alasannya, karena mereka terikat sejak hadir dalam kandungan," tuturku.


"Bagaimana jika Ibunya tidak pernah menginginkannya? atau bahkan Ibunya tidak pernah perduli dengan kehadirannya," Tuan Arka kembali bertanya.


'Kenapa pertanyaan Tuan Arka begitu sulit?' batinku.


Pertanyaan yang terdengar sederhana tapi sangat sulit untuk aku jawab, batinku terus bertanya setelah mendengar pertanyaan Tuan Arka.


"Maaf, sebelumnya, apa pertanyaan Tua Arka ada hubungannya dengan Tania dan Nyonya Angel?" aku yang lagi-lagi tak mampu menahan rasa penasaran langsung mengatakan pertanyaan yang mungkin akan menimbulkan amarah atau emosi Tuan Arka.


"Iya," jawab Tuan Arka singkat.


Sungguh aku tak menyangka Tuan Arka terlihat tidak marah atau bahkan terusik dengan pertanyaan yang aku ungkapkan.


"Aku tidak bisa memberikan jawaban Tuan, mengingat Tania masih sangat mendambakan kehadiran Nyonya Angel, saya sendiri sempat mencari tahu apa yang paling di inginkan Tania untuk pesta ulang tahunnya, dan jawaban Tania sungguh membuatku terenyuh, jujur saja aku kasihan dengan gadis kecil itu, dia sangat ingin Nyonya Angel hadir dan mengucapkan selamat ulang tahun padanya juga memberikan sedikit waktunya untuk mencurahkan kasih sayang yang memang seharusnya dia dapatkan," jelasku.


"Bantu aku! Tania sangat menyukaimu, bahkan dia begitu dekat denganmu, bantu aku agar Tania bisa melupakan Mamanya, atau setidaknya bantu aku agar dia tidak terlalu sedih jika Mamanya nanti pergi," pinta Tuan Arka.


Perintah Tuan Arka kali ini membuatku bingung, apa maksud dari perintahnya itu? bagaimana mungkin aku bisa membuat Tania lupa pada Mamanya? orang yang sudah melahirkannya.


"Kenapa aku Tuan? apa Tuan tidak salah memilih? bagaimana aku bisa membuat Tania lupa sedang aku bukan siapa-siapa, aku orang yang baru masuk dalam hidup Tania," aku mengatakan apa yang aku rasakan, termasuk keraguan yang memang seharusnya aku rasakan mengingat jika aku dan Tania memang baru bertemu.


"Tania bukan tipe anak yang mudah akrab dengan orang, dia tak pernah dekat dengan orang lain selain Oma dan aku sebelumnya, tapi hal itu tidak berlaku padamu, dia begitu dekat denganmu meski kalian baru saja bertemu, jadi aku harap kamu bersedia membantuku, aku siap membayarnya berapa saja asal kamu melakukan apa yang aku minta tadi," ujar Tuan Arka.


"Ini bukan soal bayaran atau hal-hal yang berbau harta Tuan, tapi ini soal perasaaan yang tumbuh tanpa bisa kita atur atau bilang kan begitu saja, rasa sayang dan cinta Tania pada Nyonya Angel tumbuh dan hadir karena sudah takdir dari sang pencipta," aku mencoba menjelaskan apa yang aku rasa benar.


"Cobalah dulu! bisa atau tidak bukan masalah bagiku, setidaknya aki sudah berusaha sisanya kita serahkan pada takdir," Tuan Arka terdengar begitu putus asa dan aku tak bisa menolak apa yang di minta Tuan Arka.


"Baiklah, aku akan berusaha untuk membantu Tuan, tapi aku tak bisa menjanjikan apapun, aku hanya bisa berusaha dan takdir bukan aku yang buat," ujarku.


"Bagus, mulai hari ini aku memberimu kebebasan untuk bertemu Tania kapanpun dan di manapun, kamu juga bebas keluar masuk rumahku," ujar Tuan Arka.


"Saya akan berusaha sekuat tenaga dan berusaha melakukan semua yang terbaik untuk tugas yang Tuan berikan," ucapku, meski aku masih merasa bingung dengan apa yang akan aku lakukan, tapi aku berusaha menerima meski dengan setengah hati.

__ADS_1


__ADS_2