Kutemukan Cinta Di Ujung Senja

Kutemukan Cinta Di Ujung Senja
Ide Cemerlang


__ADS_3

Aku memperhatikan setiap huruf yang tertulis rapi di sana, sungguh aku merasa kesulitan jika harus menghafalkan semuanya saat ini juga, aku terus berfikir bagaimana aku bisa melakukan pekerjaanku dengan baik tanpa harus mengjafalkannya saat ini juga.


Lima menit waktu yang aku butuhkan, hingga akhirnya aku mendapatkan ide untuk menyelesaikan masalah yang ada di hadapanku saat ini.


"Kenapa aku tidak kefikiran sejak tadi?" spontanku yang mendapat ide cemerlang.


Aku langsung mengambil nampan yang biasa di gunakan untuk membawa minuman jika ada tamu, aku menyahut kertas kosong yang tergeletak di dekat tempat air, dan meraih gunting di sampingnya.


Aku menyalin satu per satu nama yang tertulis di depanku, sebagai tanda jika nanti gelas yang akan aku bawa milik orang yang memiliki nama tersebut, dua nampan cukup untuk membawa semua nama yang tertulis di daftar yang tadi fi tunjukkan oleh Mbak Sifa.


"Selesai," ujarku penuh semangat, tanpa basa basi aku langsung membuat minuman untuk setiap orang di Devisi keuangan kemudian menaruhnya di nampan sesuai dengan nama dan jenis minuman yang sudah selesai ku buat.


"Akhirnya selesai juga," aku kembali berucap merasa lega karena sudah menemukan solusi untuk masalah yang tengah aku alami.


"Hay Senja," sapa seorang laki-laki yang ku tahu bernama Reyhan.


"Oh Hay juga Mas Reyhan," sahutku lengkap dengan senyum manis yang ku tunjukkan ke arah Rayhan.


"Jangan panggil Mas, aku bukan tukang siomay yang harus kamu panggil Mas," ujar Rayhan yang kini berjalan mendekat ke arahku.


"Kalau aku panggil nama kesannya tidak sopan, jadi aku panggil Mas," aku mengatakan alasan memanggil Rayhan dengan sebutan Mas.


"Sudah, panggil nama aja! kita rekan kerja saat ini, jika kamu panggil aku Mas, kesannya ada sekat yang bikin kita gak bisa akrab, anggap aja aku temen sekolahku dulu! jadi kita bisa bekerja dengan santai," ujar Rayhan yang cukup membuatku senang, dengan begitu aku tidak akan merasa canggung dan takut lagi untuk bekerja.


"Baiklah, Reyhan," ucapku sambul tersenyum menanggapi ucapan Reyhan.


"Good job, ngomong-ngomong kamu lagi ngapain?" tanya Reyhan sambil menoleh ke arah nampan yang sudah siap dengan gelas-gelas berisi minuman untuk setiap orang.


"Aku sedang membuat minuman untuk semua orang di Devisi keuangan," jawabku jujur.

__ADS_1


"Apa semua tugas ini dari Mbak Sifa?" Reyhan kembali bertanya.


"Tentu saja, bukankah dia leader kita? jadi dia punya hak untuk mengatur dan memberi perintah untuk kita," aku kembali menjawab pertanyaan Reyhan sesuai dengan apa yang terjadi.


"Ahh, seharusnya kamu tidak melakukan ini sendirian, harusnya ada yang membantumu mengerjakan pekerjaan ini," ujar Rayhan yang kini meraih satu nampan yang ada di sampingku.


"Loh, kamu mau ngapain, Rey?" tanyaku yang bingung melihat kelakuan Reyhan saat ini, yang aku tahu kami bagian office girl memiliki tugas masing-masing, jadi aku bingung melihat Reyhan yang mengambil alih nampan yang seharusnya aku bawa.


"Aku akan membantumu, jadi ayo cepat jalan! sebelum kamu terlambat dan mereka yang suka ngopi sebelum bekerja akan mengomel padamu," ujar Reyhan, mendengar Reyhan mengatakan jika mereka akan marah kalau aku terlambat mengantar minumannya membuatku langsung berjalan mengikuti langkah Reyhan yang lebih dulu melangkah tanpa bisa bertanya lagi.


"Apa kamu tidak punya tugas sendiri Rey?" aku yang tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya akhirnya mengutarakan apa yang sedang mengusik hatiku.


"Punyalah, dan aku sudah mengerjakan tugas yang di berikan oleh Mbak Sifa, jadi jangan khawatir!" Reyhan kembali menjawab pertanyaanku dengan sikap santai.


"Aku hanya tidak ingin kamu terkena masalah karena membantuku," aku kembali berkata jujur.


Sungguh aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika Reyhan terkena masalah karena diriku.


"Sudah, jangan di fikirkan! Aku tidak akan di pecat hanya karena membantumu," cicit Reyhan seolah mengerti dengan apa yang aku fikirkan.


Aku tersenyum manis ke arah Reyhan yang kini ikut tersenyum menanggapi senyumanku.


"Permisi!! amunisi datang." Ujar Reyhan seraya masuk ke dalam ruangan, dia terlihat sudah terbiasa dan akrab dengan semua orang yang ada si dalam ruangan itu.


"Wah Rey, dia siapa? gebetan baru lagi?" sahut seorang wanita yang terlihat sudah dewasa dan sepertinya dia sudah menikah.


"Calon Bu Gita, kenapa? cantik ya?" sahut Reyhan yang cukup membuatku terkejut, melihat dari sikap dan cara bicara Reyhan aku sudah bisa menebak jika dia memang playboy cap kadal buntung.


"Jangan sarana kamu Rey! kalau kedengaran Siska baru kapok kamu," sahut seorang pria yang ku taksir seumuran dengan Reyhan.

__ADS_1


"Ampun Pak Zul, jangan di laporin! ini rahasia di antara kita saja," sahut Reyhan.


"Ngomong-ngomong, siapa namanya Rey?" satu orang yang sejak tadi diam dan hanya memperhatikan interaksi yang terjadi di antara kita kini menyahut.


"Jangan tanya ke Aku! lebih baik kamu langsung kenalan saja Za!" bukannya langsung memberitahukan namaku, Reyhan malah menuduh gadis yang dia panggil Za itu bertanya sendiri padaku.


"Gay Mbak, namaku Senja, aku OB baru di sini, aku harap kita bisa bekerja sama ke depannya," melihat Reyhan yang enggan memperkenalkan diriku membuatku terpaksa mengenalkan diri sebelum mereka bertanya.


"Wang nama yang cantik, sesuai dengan orangnya," sahut seorang wanita yang tadi di panggil Gita oleh Reyhan.


"Hay Senja, perkenalkan namaku Riza,"


"Aku Bu Gita,"


"Dan Aku Zulkifli, kamu bisa manggil aku Zul yang tamfan," ujar Zul dengan senyum cantik yang tergambar jelas di wajahnya.


Aku hanya tersenyum sambil mengangguk menanggapi ucapan setiap orang di Devisi keuangan ini, melihat keramahan yang aku dapat saat ini membuatku yakin jika kedepannya aku pasti akan betah bekerja di tempat ini.


"Lah, kenapa nampanmu ada namanya gitu Rey?" tanya Riza saat melihat nampan Reyhan yang sengaja di letakkan di mejanya, sedang Reyhan meletakkan minum untuk Bu Gita.


"Biasa itu hasil karya Senja, dia takut ketuker pas ngasih minum, al hasil ada nama kalian di nampan itu agar Senja tidak salah memberikan minuman kalian," Reyhan menjelaskan kenapa ada tulisan nama di nampan yang dia bawa.


"wah kamu kreatif juga ya Senja, gak kayak orang di depanku ini," jawab Riza sambil memberi isyarat dengan dagu menunjuk ke arah Reyhan.


"Sudahlah, jangan mengungkit masa lalu, tidak baik Za," sahut Reyhan yang justru membuatku penasaran.


"Memangnya Reyhan kenapa Mbak?" tanyaku yang tak bisa menahan diri karena penasaran.


"Tanyakan saja pada Reyhan kenapa? jangan tanya ke saya! karena saya tidak mau Reyhan ngambek dan pada akhirnya tidak mau membawakan minum untukku," jawab Riza sambil tersenyum ke arahku.

__ADS_1


__ADS_2