Kutemukan Cinta Di Ujung Senja

Kutemukan Cinta Di Ujung Senja
Merasa curiga


__ADS_3

"Sayang, bangun!" suara lembut Sam menyapa telinga, mengusik kenyamanan yang tengah aku rasakan.


"Hmmm," sahutku yang merasa terusik olehnya.


"Sudah sampai, bangunlah!" sahut Sam.


Perlahan tapi pasti aku memaksakan mata yang sebenarnya masih terpejam untuk terbuka, melihat keadaan dan di mana kini aku berada.


"Maaf, kamu pasti lelah menyimpang kepalaku sejak tadi," ujarku sambil mengusap lembut bahu Sam.


"Sudahlah, Aku tidak apa-apa, yang terpenting kamu baik-baik saja," Sam tersenyum lembut sambil mengusap lembut kepalaku dengan tangan kirinya.


"Terima kasih Sam, aku balik kerja dulu." Pamitku .


"Tunggu!" seperti biasa Sam sering sekali mencegah langkahku.


"Iya, kenapa?" mendengar suara Sam aku langsung berhenti dan menoleh ke arahnya.


"Hati-hati kerjanya, dan jangan terlalu dekat dengan laki-laki! terutama bosmu itu," Sam memberi peringatan padaku.


"Kamu tenang saja, Aku di sini cuma bekerja untuk membantu Ibuku, dan aku tidak pernah berniat untuk mengkhianatimu," yakini agar Sam tak terus-terusan memberi peringatan yang sebenarnya kurang aku sukai.


Pondasi yang kuat sebuah hubungan itu berdasarkan rasa percaya yang tertanam di antara keduanya, jika rasa percaya itu mulai menipis atau menghilang maka sama saja dengan rumah yang tak memiliki pondasi yang kokoh, sekali goyah maka akan menimbulkan kerusakan yang parah.


Aku yang merasa lelah terus di peringati Sam memilih untuk melangkah dengan langkah lebar meninggalkan Sam yang sepertinya masih menatapku di dalam mobil.


Tok ... tok ... tok ....


"Permisi, Tuan," ujarku sesaat setelah aku sampai di ruangan Tuan Arka.


"Masuklah!" suara yang kini sering sekali aku dengar, entah sudah yang ke berapa kalinya aku melakukan hal ini, mengetuk pintu dan mendengar Tuan Arka memerintahkan aku masuk.

__ADS_1


"Tuan, saya sudah mengerti mau menyiapkan konsep seperti apa untuk ulang tahun Tania," ujarku.


"Bagus," sahut Tuan Arka.


Tanpa banyak kata Tuan Arka mengeluarkan sebuah kartu yang aku tahu kartu itu merupakan kartu ATM dari dalam dompetnya.


"Pakai ini! pinnya tanggal ulang tahun Tania" sambung Tuan Arka sambil mengulurkan satu kartu ATM yang tadi dia bawa.


'Tuan Arka serius mempercayakan semua ini padaku?' batinku mulai bertanya-tanya.


"Kenapa diam?" tanya Tuan Arka saat melihatku hanya diam tanpa kata ataupun bergerak sedikitpun.


"Maaf, apa Tuan Arka serius mempercayakan kartu itu padaku?" aku yang tak pernah bisa menyimpan rasa penasaranku langsung mengatakan apa yang kini mengusik hati dan fikiranku.


"Ambil atau kamu yang membiayai semua acara ulang tahun itu?" sungguh sahutan yang tak ingin aku dengar, aku tidak akan punya uang sebanyak itu untuk menggelar acara yang bisa aku pastikan akan menghabisakan uang yang banyak, atau mungkin bahkan gajiku satu bulan pun tidak akan cukup untuk itu.


"Maaf, Tuan," ujarku yang merasa jika apa yang aku lakukan memang salah, Aku memilih untuk langsung mengambil kartu yang di ulurkasn padaku dari pada harus membiayai semua acara dengan uang pribadi kg yang bisa aku pastikan tidak akan cukup.


"Siap, Tuan," aku hanya bisa mengikuti semua perintah Tuan Arka, karena aku hanya karyawan biasa dan dia bos pemilik tempatku bekerja, meski sebenarnya menyiapkan ulang tahun ini bukan termasuk pekerjaanku, tapi aku tetap akan terima selama pekerjaan yang di perintahkan Tuan Arka masih batas wajar dan bisa di terima oleh logika.


Menyiapkan acara ulang tahun seorang diri bukanlah hal yang mudah ada banyak hal yang harus aku kerjakan, karena itulah setelah mendapatkan perintah dan bekal dari Tuan Arka, aku langsung meluncur menuju tokoh di mana menyediakan perlengkapan ulang tahun dan mulai menyiapkan semuanya sendiri.


Author Pov ....


Sam merasa jika dirinya saat ini sedang berada di lemas, Mama dan Omanya sempat berkata jika saat ini mereka kurang setuju dengan pilihan Sam yang ingin menikah dengan Senja, gadis yang menurut mereka tidak selevel dan memiliki pendidikan rendah juga berasal dari keluarga tak mampu, apa lagi saat Mama Sam tahu Ibu Senja bekerja menjadi asisten rumah tangga di rumah relasi kerjanya membuat Mama Sam semakin ragu, tapi Sam yang terlanjur mencintai Senja tak bisa meninggalkannya begitu saja, Senja sudah mengisi hati dan hari-hariya bertahun-tahun yang lalu, dan sangat tidak mudah atau bahkan tidak mungkin bagi Sam untuk menyerah dan mengakhiri semuanya.


"Tuan," panggil Iwan sopir pribadinya.


"Hmm," sahut Sam singkat.


"Orang yang Tuan suruh untuk menjadi depkolektor di rumah Nona Senja menghubungi saya, mereka meminta sisa pembayaran yang belum Tuan selesaikan," jelas Iwan sekertaris pribadinya.

__ADS_1


"Mereka mau bertemu di mana?" tanya Sam yang memang merasa belum menyelesaikan pembayaran atas apa yang sudah di kerjakan oleh orang suruhannya itu.


"Mereka ada di jalan A, tepat di depan tokoh perlengkapan ulang tahun yang menjadi langganan Nyonya," jawab Iwan.


"Kita ke sana sekarang." Titah Sam.


Sebenarnya Sam sudah menyiapkan uang yang dia janjikan pada para preman yanh sengaja dia suruh datang ke rumah Senja, sertifikat rumah milik Senja sebenarnya sudah di tebus oleh Sam, dia berencana memberikannya sebagai hadiah pernikahan saat dia dan Senja sudah menikah nanti, tapi rencana itu harus di urungkan karena Senja meminta putus darinya tanpa Sam tahu apa penyebabnya.


Dulu saat keduanya masih sekolah Sam tidak sengaja mendengar percakapan antara Ibu Senja dnegan seseorang yang Sam tahu dia memang tukang kredit sekaligus menerima gadai barang atau surat-surat penting dengan bunga yang tidak terlalu tinggi juga dengan syarat yang mudah tanpa di survei, sejak saat itu Sam memiliki rencana untuk menepisnya dan memberikannya pada Senja di waktu yang tepat, Sam yang mengerti dengan keadaan Senja juga Ibunya memiliki keyakinan jika kedua wanita itu tidak akan mampu untuk menebus sertifikat rumah yang di gadaikan karena itulah dia memutuskan untuk menepisnya tanpa sepengetahuan Ibu Senja, meski sedikut sulit untuk meyakinkan orang yang memegang sertifikat itu tapi pada akhirnya Sam berhasil mendapatkannya dan menggunakannya di waktu yang tepat.


"Tuan, kita sudah sampai," ujar Iwan.


Sam yang sejak tadi sedang fokus menatap layar ponselnya langsung mengalihkan pandangannya ke arah Iwan.


"Tunggu aku sebentar lagi!" titahnya,


Sam kembali menyelesaikan pekerjaan yanh membuat dirinya tidak menyadari jika saat ini dia sudah sampai di tempat tujuan.


Sedang di sisi lain, terlihat seorang gadis sedang berjalan dengan langkah pasti dan ringan menuju sebuah tokoh perlengkapan ulang tahun. Satu hal yang tidak gadis itu mengerti, kenapa ada mobil Sam yang terparkir di pinggir jalan.


"Loh, bukannya itu mobil, Sam?" gumam Senja.


Iya, gadis itu Senja, dia baru saja sampai setelah naik bus dari kantornya menuju tokoh perlengkapan ulang tahun yang memang paling terkenal di kotanya.


"Iwan!" panggil Sam sesaat setelah dia turun dari dalam mobil.


"Mereka di mana?" sambung Sam.


"Mereka sedang menunggu kita di dalam cafe Tuan," jelas sang sopir.


Senja yang merasa penasaran dengan apa yang di lakukan Sam saat ini memilih untuk masuk dan mengikuti langkah Sam. Senja seolah lupa segalanya, yang Senja tahu saat ini dia ingin melihat apa yang di lakukan Sam di sana.

__ADS_1


"Loh, bukankah mereka orang yang ke rumah dan memintaku juga Ibu untuk melunasi hutang yang bahkan aku tidak tahu untuk apa juga kapan orang tuaku berhutang," gumamku dengan mata menyipit merasa curiga dengan apa yang di lakukan ole Sam di tempat itu..


__ADS_2