Kutemukan Cinta Di Ujung Senja

Kutemukan Cinta Di Ujung Senja
Reyhan yang Jahil


__ADS_3

Sebelum aku benar-benar masuk ke dalam kantor, aku mencoba menghilangkan segala fikiran tentang Sam dan segala sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang sedang dia kerjakan.


"Pagi, Mbak Sifa," sapaku saat melihat leader dari teamku juga baru datang.


"Pagi," sahut Mbak Sifa sambil tersenyum manis ke arahku.


"Ternyata kamu cukup rajin juga, pertahankan!" sambung Mbak Sifa sambil menepuk bahuku seolah memberi tahu jika apa yang aku lakukan saat ini baik dan aku harus mempertahankannya.


"Siap, Mbak," sahutku penuh semangat, seolah mendapat asupan gizi yang cukup aku merasa seratus kali lebih bersemangat dari biasanya, ucapan Mbak Sifa memang seperti suplemen di pagi hari.


"Pagi, Senja," kali ini suara Reyhan yang menyapa telingaku, entah sejak kapan dia datang? saat ini dia sudah ada di ruang panti yang biasa kami sebut markas, tempat di mana kami menghabiskan setengah hari dalam enam hari.


"Pagi, Rey," sahutku dengan senyum ramah yang sengaja aku perlihatkan agar Reyhan tidak salah sangka.


"Tumben sendiri, Siska mana?" sahut Mbak Sifa yang langsung menanyakan Siska yang ku tahu jika dia pacar Reyhan.


"Siska tadi masih capek, jadi berangkatnya agak siangan," jawab Reyhan.


"Oh," Mbak Sifa hanya membulatkan mulut menanggapi jawaban Reyhan.


Aku yang mengerti dengan tugas yang harus aku kerjakan langsung melaksanakannya tanpa banyak berbincang.


"Kamu mau ke mana?" tanya Reyhan yang kini berjalan mengikuti langkahku.


"Aku mau ngerjain pekerjaan yang sudah menjadi tugasku," jawabku dengan nada sedikit sinis, memberi isyarat jika memang aku sedang tidak ingin di ganggu.


"Kenapa sikap kamu jadi sinis seperti itu Senja?" tanya Reyhan yang merasa jika saat ini sikapku berubah.


"Maaf Rey, aku hanya tidak ingin Siska kembali salah faham dan menganggapku sebagai seorang pelakor," Aku mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan alasan aku melakukan apa yang baru saja aku lakukan.

__ADS_1


"Pelakor? kapan kamu mengambil suami orang?dan apa kamu merasa mulai menyukaiku? Karena itulah kamu menghindar karena takut jika cinta yang tumbuh dalam hatimu semakin membesar dan menjadi-jadi," Reyhan tak kunjung mengerti dengan ucapan yang aku katakan.


"Rey, please, aku mohon mengertilah!" pintaku yang melihat Reyhan tak kunjung berhenti, dia semakin menjadi-jadi.


"Baiklah, aku akan berusaha mengerti, kalau begitu aku pergi dulu. " Pamit Reyhan yang sebenarnya sudah semengerti dia hanya ingin mengujiku saja.


Aku bernafas penuh rasa lega, akhirnya Reyhan tak mengikuti langkahku lagi, aku kembali melangkah dengan penuh semangat menuju taman di mana aku harus mengecek kebersihan nya.


'Dug'


"Auh, essssttt," Aku merintih merasakan sesuatu yang cukup keras membentur keningku.


"Issshh, kalau jalan itu paksi mata, masak gak lihat kalau ada aku segede ini di depanmu," aku yang merasa kesakitan kengonel sambil mengusap keningku, bagaimana bisa ada orang yang tak bisa melihat jika ada aku yang berjalan di depannya.


"Khem," sahut laki-laki yang menabrakku dengan berdehem, dan akhirnya cukup tahu siapa dia tanpa perlu menoleh ke arahnya lagi.


"Maaf," aku tak lagi punya pilihan, dari pada di pecat atau malah di hukum, lebih baik minta maaf, toh aku tidak akan rugi jika hanya meminta maaf saja.


Perlahan aku mengangkat wajah mencoba melihat siapa yang sebenar nya menabrakku tadi, dan benar saja, orang yang menabrakku itu Tuan Arka, orang yang paling penting sekaligus putera pemilik perusahaan ini.


'Mampus, aku akan terkena masalah saat ini, ' batinku kembali berkomentar.


"Jalan pakai kaki dan fokuskan matamu! jangan biarkan tubuh mungilmu itu menabrak orang lain lagi!" ujar Tuan Arka kemudian berlalu meninggalkan diriku yang kini sedang merasa bingung dan menahan emosi, tubuhku mematung dan tak mampu untuk berdiri.


'Siapa yang menendang? siapa juga yang di Salahkan?' batinku lebih banyak berucap kali ini.


Mengomel dan marah bukanlah hal yang tepat untuk di lakukan saat ini, karena bagaimanapun juga, aku tidak mungkin langsung marah padanya.


"Are you okey Senja?" suara lembut seorang pria terdengar sesaat setelah Tuan Arka pergi meninggalkan diriku yang masih setia berdiri di tempat tanpa ada gerakan.

__ADS_1


"Eh, Pak Zul, aku oke kok," jawabku sambil tersenyum ke arah Pak Zul yang kini berjalan mendekat ke arahku.


"Untung saja, Tuan Arka tidak sedang bad mood," ujar Pak Zul.


"Memangnya kalau bad mood kenapa Pak?" tanya ku.


"Kamu akan dapat hukuman tidak terduga darinya, atau kamu bisa di pecat jika Tuan Arka sedang bad mood," Pak Zul menjelaskan apa telah terjadi. sampai separah itu?" tanya aku merasa aneh dengan perkataan Pak Zul yang menurutku terlalu berlebihan.


"Percaya atau tidak terserah padamu," sahut Pak Zul dengan ekspresi wajah masa bodoh, juga acuh taacuh yang terlihat jelas di wajahnya.


"Idih, ternyata Tuan Arka serem juga," ujarku bergidik ngeri jika mengingat apa yng akan di lakukan Tuan Arka jika sedang bad mood.


Tapi apa yang di katakan Pak Zul sangat berbeda dengan kenyataan yang telah di lewati oleh Senja, selama ini dia memang mengenal Tuan Arka, meskipun perkenalannya bukan sebagai tan atau bahkan pacar tapi sebagai Tuan dan pembantunya, tapi aku cukup mengerti sedikit tentang Tuan Arka, meski terlihat kejam dan tegas, tapi Tuan Arka memiliki sisi lembut yang tak semua orang bisa lihat, dia begitu perhatian pada Oma dan terutama pada Tania.


"Hey, hello!!"


"Astaga," aku terkejut mendengar suara Pak Zul yang sedang berusaha menyadarkanku dari lamunan yang entah sejak kapan aku lakukan.


"Ada apa, Pak?" tanyaku menatap bingung ke arah Pak Zul yang kini malah tersenyum ke arahku.


"Kenapa jadi melamun seperti itu?" sahut Pak Zul sambil mehatapku penuh curiga dan goda, Pak Zul sengaja tersenyum sambil menaik turunkan alisnya mencoba mrnggodaku.


"Semua minuman sudah selesai aku buatkan, kalau begitu aku pamit balik ke pantry." pamitku yang langsung melenggang pergi menuju pantry tanpa meminta pendapat yang lain tentang kepergianku.


"Kenapa harus terburu-buru? sini duduk dan selesaikan obrolan kita," sahut Pak Zul yang terlihat masih belum puas ingin terus berbicara denganku.


"Maaf Pak, ada banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan setelah ini, jadi aku pamit dulu." Aku mencoba menghindar dari Pak Zul yang terlihat masih belum puas berbicara sekaligus menggoda diriku.


"Baiklah, kalau begitu aku langsung pergi menyelesaikan pekerjaanku, yang sempat tertunda,"

__ADS_1


__ADS_2