
Perlahan tapi pasti, Sam mulai memasukkan ikan asin itu kedalam mulut, awalnya dia diam hingga dua kata yang pasti terucap dari bibir seseorang yang pertama kali makan terdengar.
"Asin banget," ujar Sam, dia terlihat meringis menahan sesuatu, sedetik kemudian Sam langsung menyambar teh yang ada di hadapannya.
"Ha ha ha ha ...." Aku tertawa puas melihat ekspresi Sam yang sebelumnya sudah aku peringatkan.
"Ikan apa ini Ibu? sungguh rasanya asin banget," Sam kembali berkomentar, mungkin bagi sebagian orang Sam ikan asin ini memang tidak enak dan akan terasa begitu asin, tapi bagi sebagian orang lagi, ikan ini cukup enak di nikmati bersama sambal terasi.
Sam yang memang berasal dari keluarga kaya pasti tak pernah memakan ikan asin, sejak dulu hingga saat ini aku tidak pernah melihat menu ikan asin ada di meja makan di rumah Sam.
"Aku sudah bilang, kamu gak bakal suka, jadi jangan di coba! tapi kamu tetep aja kekeh pengen nyoba," aku menyela ucapan Sam.
"Aku fikir tidak akan separah ini rasanya, tapi kenapa kalian makan ikan ini? kenapa tidak makan ikan segar saja?" Sam mengutarakan pendapatnya.
"Ikan ini cukup enak di lidah Ibu dan Senja, selain sebagai selingan ikan ini juga jauh lebih murah harganya, dari pada harus terus-terusan makan tahu dan tempe," jujur Ibu.
"Stop Ibu! Sam, jika kamu tidak menyukainya, makanlah yang lain!" aku kembali menyela percakapan Ibu, jujur saja, meski aku dan Ibu tergolong orang dengan ekonomi minim, tapi pantang bagiku untuk menunjukkan kekuranganku itu, aku tidak ingin Sam atau siapapun tahu jika aku sedang dalam lesu, meski hanya makan ikan tahu, tempe dan ikan asin, aku selalu berusaha menutupinya dari orang luar, biarlah hanya aku, Ibu dan Tuhan yang tahu betapa kerasnya kami berjuang untuk tetap hidup sampai detik ini.
Sam tak lagi banyak bicara mendengar ucapanku, dia yang cukup lama mengenalku dan tahu bagaimana sifatku sebenarnya, lebih memilih diam kemudian melanjutkan makan.
"Ibu, Senja berangkat dulu." Pamitku mencium punggung tangan Ibu di susul Sam melakukan hal yang sama seperti apa yang aku lakukan.
__ADS_1
"Hati-hati! Sam jangan terlalu kencang kalau bawa motornya," Ibu mengingatkan Sam.
"Siap Ibu mertua," sahut Sam dengan senyum yang semakin melebar di bibirnya, ketegangan di meja makan kini telah berlalu, Sam terlihat begitu sumringah dan bersemangat seperti saat pertama kali dia datang tadi.
"Bagaimana? apa jawabanmu Sayang?" pertanyaan yang sejak semalam menyiksa diriku kini kembali di tanyakan oleh Sam, dan aku yang merasa jika memang harus memberinya jawaban kembali berfikir sejenak memastikan jawaban apa yang akan dia berikan.
"Apa kamu akan menunda lagi, Senja?" Sam kembali bertanya, kali ini wajahnya terlihat kecewa menatap sendu ke arahku yang sejak tadi hanya diam tanpa sepatah katapun keluar dari bibirku.
"Tidak, kali ini aku akan memberi jawaban atas apa yang telah kamu katakan," jawabku yang sebenarnya merasa bersalah setelah melihat raut wajah Sam yang di liputi oleh rasa kecewa, apa lagi setelah mendengar namaku yang di sebut membuatku semakin merasa bersalah, tak ada lagi panggilan Sayang dalam pertanyaannya saat ini.
"Apa jawabanmu?" Sam langsung bertanya kembali setelah mendengar ucapanku.
"Aku menerimanya Sam, tapi aku memiliki syarat yang ku harap kamu bisa terima," aku mengutarakan jawaban yang sudah aku fikirkan semalaman itu, baik dan buruknya sudah aku fikirkan dan semoga Sam mau menerima syarat yang biasa di berikan oleh pasangan kekasih.
"Aku hanya minta kita tunangan lebih dulu Sam, setidaknya beri jarak satu atau dua bulan lagi agar kita bisa melangsungkan pernikahan, Ibuku tidak punya tabungan sama sekali, jadi aku butuh waktu untuk mengumpulkan uang, sangat tidak mungkin membebankan seluruh biaya pernikahan ke Ibu, aku tidak tega dan tidak akan pernah bisa tenang jika hal itu terjadi," aku mengatakan alasan yang sebenarnya aku alami, dan ku harap Sam bisa mengerti juga menerima syarat yang aku berikan.
Sejenak Sam terdiam, dia terlihat berfikir dan entah apa yang di fikirannya, aku tidak tahu.
"Bagaimana kalau seluruh biaya pernikahan di rumahmu aku yang menanggungnya?" usul Sam, dia terlihat begitu tidak sabar untuk segera mempersunting diriku yang sebenarnya belum siap seratus persen untuk menikah.
"Sam, aku tidak ingin terlihat hina di hadapan keluargamu, biarkan aku dan Ibu yang berusaha sendiri untuk mencarinya," tolakku.
__ADS_1
Melihat tatapan Mama Sam kepadaku saja sudah sedikit membuatku ragu untuk meneruskan hubungan ini atau tidak, tatapan kurang suka yang tertutupi suara lembut dan senyum penuh kepura-puraan di hadapan Sam menjadi penyebab utama diriku untuk berfikir kembali apa aku harus melanjutkan semua ini atau berhenti sampai di sini saja.
"Jangan pernah bilang ke siapapun tentang hal ini! rahasiakan semuanya! baik itu dari keluargaku atau dari siapapun itu," Sam kembali memberi usulan.
"Sam, aku tidak ingin menyusahkan siapapun saat aku menikah nanti, sekalipun dia adalah calon suamiku sendiri, aku sudah terbiasa mandiri dan aku harap kamu bisa mengerti dengan prinsipku ini," ujarku, sejak Ayah meninggal aku di didik menjadi wanita mandiri oleh Ibuku, karena itulah aku tidak ingin menyusahkan Sam atau siapapun juga, termasuk Ibu.
"Baiklah, jika itu yang kau inginkan, maka aku tak akan pernah bisa mengenalnya," Sam terlihat begitu pasrah dengan apa yang terjadi.
Sedang di belahan dunia yang lain ....
Seperti biasa pagi hampa menemani Arka, dia memiliki istri tapi terasa bujang, semua itu bukan tanpa alasan, Angel terlalu sibuk dengan pekerjaan dan dunianya sendiri hingga bukan cuma Tania yang merasa kesepian tapi juga Arka.
"Membosankan," keluh Arka saat melihat sebingkai foto terpajang rapi di tembok tepat di depan tempat Arka tidur.
'Ting'
Satu notif pesan chat terdeteksi masuk ke dalam ponsel Arka.
'Tuan, Nyonya Angel bertemu dengan Tuan Alex semalam,'
Kabar buruk di pagi hari sudah cukup membuat Arka bad mood, Alex adalah sahabatnya sewaktu SMA, dia memang menyukai Angel sejak dulu, ketiganya sempat terjerat cinta segitiga hingga akhirnya Arka yang menang dan dapat menikahi Angel, tapi dua bulan yang lalu, Angel dan Alex sering bertemu dan saat itu pula Angel semakin jarang di rumah, perasaan cinta yang dulu tumbuh begitu subur di hati Arka kini perlahan memudar, rasa muak mulai menyeruak ke dalam diri Arka, tapi Arka tak bisa egois dan meninggalkan Angel begitu saja, karena masih ada Tania yang butuh sosok Angel di kehidupan Arka.
__ADS_1
"Sialan!!" umpat Arka sambil melempar asal ponselnya di atas kasur.