
Tuan Arka kembali setelah pergi beberapa menit, kali ini dia menggenggam sesuatu yang aku terka uang.
"Bawa ini dan belilah sesuatu yang bermanfaat atau makanan yang sehat, jangan jajan sembarangan!" ujar Tuan Arka mengingatkan aku dan Tania sambil memberikan satu ikat uang berwarna merah muda dari tangannya.
"Tuan, ini terlalu banyak," aku yang merasa jika uang yang di berikan Arka memang terlalu banyak memilih untuk mengatakannya langsung dari pada memendamnya.
"Bawa saja! Tania suka meminta sesuatu yang tak terduga, ku tidak ingin kamu bingung karena sifatnya itu," jelas Tuan Arka.
"Papa benar, Mbak, bawa saja uangnya! ayo pulang!" Tania bersikap seolah dia akan pulang ke rumahnya sendiri.
"Ibu, semua sudah siap, ayo pulang!" ajakku pada Ibu yang sejak tadi diam mematung di depan dapur menunggu aku dan Tania.
__ADS_1
"Mbak, kita pulangnya naik mobil Papa ya," celetuk Tania.
"Terserah Tania saja, Mbak Senja ikuti kata Tania," jawabku yang tak mau ambil pusing soal kendaraan yang akan kami naiki, biasanya kami naik angkutan umum atau bahkan jalan kaki jika pulangnya terlalu malam, tapi kali ini aku memilih untuk naik mobil sesuai dengan permintaan Tania yang aku tahu pasti tidak pernah naik angkot sebelumnya.
"Mbak Senja sama Bibik biasanya pulang naik apa?" tanya Tania saat dia berada di dalam mobil.
"Mbak biasanya jalan kaki atau naik angkot," jawabku.
"Angkot itu apa Mbak?" tanya Tania dengan ekspresi penuh penasaran menatap ke arahku.
"Akhirnya sampai juga," seru Tania dengan semangat yang terlihat berkobar. Sedang aku merasa tidak yakin dengan Tania yang betah berasa di rumahku, selain sempit di rumahku juga tidak ada AC seperti di rumahnya, yang ada hanya kipas angin yang menempel cantik di dining untuk menghilangkan rasa gerah yang sering kali aku rasakan.
__ADS_1
"Masuklah, Tania!" ujarku mempersilahkan Tania masuk ke dalam rumah yang lebih mirip gubuk di bandingkan dengan rumah Tania yang terlihat seperti istana.
"Rumah Mbak Senja memang jelek dan panas, apa Tania masih ingin menginap di sini?" aku masih mencoba meyakinkan diri jika Tania memang mau menginap di rumahku.
"Kata siapa? rumah Mbak bersih dan rapi, tidak jelek juga, aku tetap mau menginap di sini," sahut Tania dengan semangat yang sama.
"Kalau begitu masuklah!" titahku yang tak ingin berlama-lama berada si teras rumah, dan Tania yang sejak tadi berdiri di sampingku imut masuk ke dalam rumah mengikuti langkahku.
"Kamar Mbak Senja di sebelah mana?" tanya Tania sambil menengok ke arah kiri dan kanan untuk mencari di mana Kamarku.
"Ayo ikut, Mbak!" tanpa banyak bicara lagi aku meraih jemari Tania kemudian mengajaknya menuju tempat paling nyaman di rumahku, tempat yang selalu aku rindu setiap kali aku pergi yaitu kamar.
__ADS_1
"Wahh kamar Mbak Senja rapi sekali, aku suka di sini, rasanya nyaman," seru Tania.
"Tapi kamar Mbak tak semewah dan sebagus kamar Tania, jadi Mbak harap Tania bisa betah berada di sini," seruku yang tak ingin Tania menyesal ataupun merengek nantinya.