Kutemukan Cinta Di Ujung Senja

Kutemukan Cinta Di Ujung Senja
Piknik part 1


__ADS_3

"Aku bukan sopir, jadi, pindah ke depan!" suara Tuan Arka mengusik aku dan Tania yang sedang asyik menata barang bawaan di jok belakang.


"Pa, aku tidak ingin duduk di depan, sempit," sahut Tania.


Saat ini kami sedang duduk di mobil yang menurutku kecil, sebuah h**da j***z keluaran terbaru terparkir cantik di depan rumah, aku dan Tania duduk di belakang, sedang Tuan Arka malah terlihat kurang suka dengan apa yang aku dan Tania lakukan.


"Baiklah, aku akan minta Samsul menyetir untuk kita," ujar Tuan Arka yang langsung menelfon seseorang, dan orang yang bernama Samsul itu datang dengan durasi waktu sepuluh menit saja, entah dari mana dia datang? bisa secepat ini perginya.


Berjalan dan masuk ke dalam mobil lagi, tapi kali ini Tuan Arka malah duduk tepat di samping Tania yang kini berada di tengah-tengah antara aku dan Tuan Arka.


"Ishhh, Papa kenapa duduk di sini?" sebuah pertanyaan yang lebih pantas di katakan keluhan itu keluar dari bibir Tania.


"Biar bisa dekat dengan Tuan Puteri, Papa bahkan meninggalkan sejumlah meeting penting hanya demi dirimu Sayang," ujar Tuan Arka.


"Laku tidak suka Papa terlalu banyak meeting, Papa harus banyak istirahat!" Tania mengusap pelan tangan Papanya kemudian menaruhnya di paha dan menggunakannya sebagai bantal, aku hampir saja lupa jika Tania masih bocah ketika melihat semua sikap dan cara dia berbicara.


"Bagaimana kalau Mbak Senja saja yang pindah?" usulku yang mengerti jika saat ini Tania pasti butuh waktu lebih banyak bersama sang Papa,


"Mbak Senja nau pindah ke mana? tidak usah ke mana-mana! di sini saja, lagian rasanya menyenangkan, aku sudah seperti piknik dengan Mama Papa jika seperti ini," celoteh Tania yang cukup membuatku tegang sekaligus nervous mendengar celotehan Tania yang menurutku tidak masuk akalakal, mana mungkin Tuan Arka yang memiliki segalanya plus tampan itu mau denganku yang udik ini? lagi pula Tuan Arka juga masih punya istri yang sempurna di tambah istri Tuan Arka seorang model terkenal, bukan hanya pintar tapi juga memiliki kecantikan yang tak Main-main.


"Khem," Tuan Arka berdeh, mungkin dia jugaerasakan hal yang sama denganku, dasar bocah tidak tahu apa arti dari Papa dan Mama.


"Kita mau ke mana Tuan?" pertanyaan yang seharusnya di tanyakan sejak tadi tapi baru terdengar sekarang.


"Kita ke kebun raya saja," jawab Tuan Arka.

__ADS_1


"Baik, Tuan," sahut sang sopir yang ku tahu memiliki nama panggilan sama seperti Sam, pacar yang ingin aku lupakan.


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, dengan suasana jalan yang terlihat masih lenggang, hari ini memang bukan hari minggu mungkin karena itulah jalanan tidak terlalu ramai, karena mungkin kebanyakan orang sudah berangkat bekerja.


"Pergilah! dan kembali ke sini nanti, saat aku sudah memberimu kabar," titah Tuan Arka sesaat setelah aku dan dia menurunkan semua peralatan piknik.


"Baik, Tuan," jawab Sam yang terlihat begitu patuh pada perintah yang di berikan oleh Tuan Arka.


Sam langsung masuk kembali ke dalam mobil dan melaju meninggalkan aku dan Tania juga Tuan Arka di kebun raya yang terlihat sedikit sepi, hanya ada beberapa orang yang sedang piknik sama seperti kami, tapi pengunjungnya tak seramai di hari minggu.


"Loh, tempatnya kok sepi, Pa?" tanya Tania sambil melihat sekeliling.


"Papa memang sengaja memilih hari aktif seperti saat ini, agar kita bisa bebas piknik dan merasa jika kebun ini milik kita sendiri, karena pengunjungnya yang tak terlalu ramai," Tuan Arka menjelaskan tujuan dia mengajak Tania di hari kerja seperti saat ini.


"Papa, mang the best," seru Tania sambil mengacungkan dua jempol ke arah Tuan Arka dengan deretan gigi putih yang hampir terlihat semua karena saking lebarnya dia tersenyum.


"Apa tempatnya sudah siap?" tanya Tuan Arka.


"Sudah, Tuan," jawab penjaga itu dengan penuh rasa hormat, ahh aku lupa jika orang yang sedang berada di hadapanku ini bukanlah orang biasa, dia termasuk orang kaya raya yang bisa melakukan apapun dengan uang yang dia punya.


"Kita mau ke mana Pa? dan yang tadi itu siapa?" tanya Tania yang memang memiliki kebiasaan kepo pada setiap hal yang menurutnya tidak biasa.


"Dia penjaga di sini, Papa sempat pesan tempat untuk kita pikni dan orang itu yang menyiapkan," jawab Tuan Arka yang di tanggapi dengan anggukan oleh Tania.


Kami terus berjalan hingga terlihat sebuah tenda dan alas lantai yang tertata rapi di tepi sungai, dan aku tahu jika sungai yang aku lihat saat ini merupakan sungai buatan yang tidak akan banjir meski hujan deras.

__ADS_1


"Wahhh apa ini tempat kita piknik Pa?" tanya Tania dengan penuh kebahagiaan dan mata berbinar Tania bertanya.


"Iya, apa kamu suka Sayang?" sahut Tuan Arka, sungguh dia terlihat seperti malaikat tak bersayap yang tengah menunjukkan rasa sayangnya.


"Senja!!" suara Tuan Arka mengejutkan ku yang tengah tenggelam dalam pemikiranku sendiri.


"Eh, iya Tuan," sahutku yang langsung menoleh ke arah Tuan Arka yang sedang berdiri di sampingku.


"Aku memintamu ikut bukan untuk melamun, tapi untuk menemani Tania," sahut Tuan Arka yang cukup membuatku mengerti jika saat ini aku harus segera menemani Tania yang tengah berlari mendekat ke arah tenda.


"Mbak Senja, ayo ke sini!" teriak Tania yang terlihat begitu bahagia melihat apa yang ada di hadapannya, melihat kebahagiaan Tania membuatku terpanggil untuk ikut bersamanya.


"Hati-hati Tania!" ucapku sambil terus mempercepat langkah kakiku mendekat ke arahnya.


"Mbak, aku ingin main air, ayo ke sungai!" Tania yang begitu bersemangat langsung menarik tanganku setelah menaruh semua barang yang kami bawa tadi di dalam tenda.


"Tidak bisa Tania," cegahku sambil menahan tangan Tania agar dia tidak terus melangkah masuk ke dalam sungai.


"Loh, kenapa tidak bisa Mbak?" tanya Tania dengan dahi yang terlihat mengkerut karena merasa aneh dengan penolakan yang aku berikan.


"Mbak Senja tidak membawa baju ganti," aku mengatakan alasannya menolak mandi di sungai.


"Tapi aku ingin mandi di sungai itu," rengek Tania dengan wajah cemberut yang terlihat jelas di wajahnya.


Melihat wajah sedih Tania membuatku merasa kasihan dan tidak tega, karena itulah aku terpaksa mengikuti keinginan Tania meskipun aku tahu, nanti aku akan kedinginan setelahnya.

__ADS_1


"Baiklah, ayo!" sahutku yang langsung menuntun tangan Tania untuk masuk ke dalam sungai dan menikmati air sungai yang terlihat begitu menyegarkan.


__ADS_2