
Mendengar perintah Ibu seolah memberiku sebuah dorongan kuat agar aku mengikuti apa yang Ibu perintahkan, bagaimanapun juga aku harus tetap menyelesaikan masalah yang sudah ada.
'Ceklek'
Aku membuka pintu sebelum Sam mengutuknya.
"Sayang," sebuah senyum manis bercampur bahagia terlihat jelas di wajah Sam saat pertama kali melihatku membuka pintu dan berdiri tepat di hadapannya.
"Duduklah!" bukannya mengajak Sam masuk aku malah mengajaknya duduk di teras rumah, rasanya aku sangat malas untuk mengajak Sam masuk ke dalam rumah saat ini, lagi pula aku juga hanya punya waktu sepuluh menit untuk berbicara dengannya, karena jika aku berbicara lebih lama, maka aku akan terlambat untuk pergi bekerja.
"Sayang, maafkan aku, gadis yang ada di rumah itu teman masa kecilku sekaligus anak sahabat Papa dulu, Namanya Sania," jelas Sam.
"Kenapa dia ada di rumahmu? apa masalah yang kamu bicarakan tadi pagi sebenarnya bukan masalah tapi karena kedatangan Sania, kamu sampai tega ninggalin aku sendiri di taman," aku memberondongi Sam dengan berbagai pertanyaan, meskipun sebenarnya tak masalah jika tadi aku di tinggal, toh ada Tania dan Papanya yang datang menemaniku.
"Bukan Sayang, Sania saat ini meneruskan usaha Papanya, dia memiliki pabrik minuman teh dan aku menjadi pengetik daun teh untuk mereka," Sam menjelaskan siapa Sania dan kenapa dia ada di rumahnya.
Aku sejenak terdiam mencoba mencerna setiap kata dan penjelasan yang di berikan oleh Sam, meski dalam hatiku masih ada banyak pertanyaan yang muncul dalam hatiku, tapi aku tetap berusaha untuk menahan segalanya, mencoba mengerti dan memahami setiap kata yang terucap dari bibir Sam saat ini.
"Sayang, percayalah! aku hanya mencintaimu dan aku tidak pernah berselingkuh, jangankan berselingkuh ataupun berniat untuk selingkuh, terbesit dalam benakku saja tidak pernah," Sam masih berusaha meyakinkan diriku jika apa yang di jelaskan dirinya memang benar dan dia tidak pernah berbohong.
"Kamu mengenalku jauh lebih baik dari siapapun, kamu juga sudah lama bersamaku, apa kamu tidak bisa mengenali sifatku? Sayang, aku tidak pernah berubah sejak dulu baru bertemu denganmu hingga saat ini, aku tetap Sam yang sama, Sam yang terpesona dan mencintaimu dengan segenap jiwa raga, aku mohon Sayang, maafkan aku," Sam kembali memohon, dia sudah berpindah posisi, kini dia berlutut di hadapanku sambil memegang kedua tanganku dan menciumnya penuh dengan cinta.
Aku terdiam, netra mataku tidak pernah lepas dari mata Sam yang terlihat jujur dan tulus, aku tak menemukan kebohongan di dalamnya, sedikitpun kebohongan itu tak tampak, yang ada hanya ketulusan yang aku tahu jika saat ini berusaha dia tampilkan.
__ADS_1
"Baiklah," ucapnya yang langsung mengalihkan pandangan Sam yang kini tertuju padaku.
"Apa itu artinya kamu memaafkanku?" sahut Sam dengan ekspresi wajah penuh harap dia bertanya padaku.
"Apa aku bilang jika aku akan memaafkannya?" aku masih ingin melihat kesungguhan hati Sam padaku.
Sam kembali menunduk mendengar pertanyaanku, sungguh melihatnya seperti saat ini membuatku tak tega dan tak bisa terus seperti ini, Sam memang bersalah telah meninggalkanku sendiri di taman dan bertemu gadis lain di rumahnya, tapi dia sudah pamit dan menjelaskan siapa gadis yang ada di rumahnya itu, meskipun sampai saat ini aku masih belum bisa percaya seratus persen, setidaknya aku akan tetap memaafkannya demi hubungan yang baru saja aku bangun.
"Apa kamu masih belum bisa memaafkanku, Sayang?" Sam kembali bertanya.
"Aku memaafkanmu, tapi aku tidak ingin kamu mengulangi apa yang sudah terjadi, karena aku bukan tipe orang yang punya seribu maaf untuk satu kesalahan yang sama," jelasku yang tak ingin memperpanjang masalah yang sudah ada.
"Aku tidak akan melakukan kesalahan lagi, tapi aku minta kamu mengerti dan dengarkan dulu penjelasanku setiap kali kamu salah faham tentang diriku, satu hal yang harus kamu tahu Sayang, aku tidak ingin kita berpisah," jawab Sam, aku yang keras kepala menjadi lunak setiap kali mendengar Sam mengatakan kata mutiara penghancur ego yang selalu dia punya setiap kali aku marah ataupun salah faham padanya.
Sam langsung menyamakan diri kemudian memelukku seolah tak ingin melepaskannya lagi, aku merasa jika saat ini Sam ingin menyalurkan segala perasaan yang ada dalam hatinya.
"Khem," deheman Ibu mengejutkanku dan Sam yang kini sedang mencoba saling memberitahu perasaan kita masing-masing dengan sebuah pelukan yang di berikan untukku.
"Ehh, Ibu, maaf," spontan Sam yang langsung menunduk sambil menggaruk kepalanya yang ku yakini sebenarnya tidak gatal.
"Lain kali jangan lakukan hal yang tadi! ingatlah jika kalian masih belum sah! Ibu tidak ingin kalian melewati batas yang pasti akan terjadi jika kalian berpelukan, apa lagi jika kalian sedang berdua, maka yang berada di sekitar kalian bukan lagi manusia tapi setan penghasut yang akan menjadi orang ketiga di antara kalian," Ibu mulai mengingatkan sesuatu yang memang penting untuk aku dan Sam dengarkan.
"Maaf, Ibu, lain kali aku akan berusaha untuk tidak melakukannya lagi," sahut Sam.
__ADS_1
"Bukan berusaha Sam, tapi kamu memang tidak boleh melakukannya lagi!" Ibu memberi ketegasan atas apa yang baru saja di ucapkan oleh Sam.
Aku daan Sma hanya diam tanpa ada yang berani mengeluarkan satu kata, bagaimanapun aku dan Sam memang salah dan tidak seharusnya kami melakukannya, meski terdengar sepele dan umum di lakukan oleh banyak pasangan, tetap saja berpelukan seperti tadi bukanlah hal yang baik untuk di lakukan, apa lagi jika aku sedang berdua dengan Sam, akan ada banyak bisikan hati dan fikiran yang akan menghasut kita untuk melakukan sesuatu yang lebih dari apa yang kita lakukan saat ini.
"Sudahlah, yang penting kalian selalu ingat pesanku, sekarang cepat antar Senja ke tempatnya bekerja, jika tidak dia akan terlambat nanti," sahut Ibu yang memang harus segera pergi ke tempat dia bekerja.
Aku langsung masuk ke dalam rumah mengambil tas selempang yang biasa aku gunakan untuk bekerja kemudian segera kembali ke teras untuk berpamitan pada Ibu dan berangkat sesuai dengan perintah yang Ibu berikan.
"Bu, Senja berangkat dulu." Pamitku mencium punggung tangan Ibu kemudian berlalu meninggalkannya setelah Sam melakukan hal yang sama.
"Maaf, Senja," sekali lagi Sam meminta Maaf, jika tadi dia meminta maaf karena telah melakukan kesalahan dan harus meminta Maaf, maka berbeda dengan sekarang yang justru membuatku bingung, dia meminta maaf untuk apa?
"Maaf? memangnya kamu melakukan kesalahan apa lagi Sam?" tanyaku sambil mengerutkan dahi bingung dengan permintaan maaf yang kali ini di utarakan oleh Sam.
"Maaf karena aku telah melakukan sesuatu yang tak seharusnya aku lakukan, benar apa kata Ibu, tidak seharusnya aku memelukmu seperti tadi." Sam menjelaskan alasan dirinya meminta maaf lagi kepadaku.
"Sudahlah, toh semuanya sudah berlalu, Lain kali kita harus lebih berhati-hati lagi, agar kita tidak melakukan sesuatu yang tidak seharusnya kita lakukan." Aku tidak ingin menyalakan Sam, karena apa yang kita lakukan tadi bukan sepenuhnya salah dia, karena aku pun juga ikut melakukan hal yang sama.
Sam tersenyum dan naik ke atas motor sambil memberi isyarat padaku agar aku mengikuti langkahnya.
"Terima kasih," ucapku sesaat setelah turun dari motor Sam yang kini terparkir cantik di depan kantor.
"Sama-sama, semangat kerjanya Sayang, " sahut Sam sambil mengepalkan tangan dan mengarahkannnyaa ke atas dengan senyum manis yang cukup membuatku semangat lagi untuk memulai hari.
__ADS_1
Dengan senyum yang tak kalah manis ku balas senyuman Sam kemudian kembali masuk ke dalam kantor seperti hari biasanya. Sedang Sam ku lihat dia berbalik arah dan pulang, aku heran dengan Sikap Sam yang begitu baik dan terlihat tulus mencintai diriku dan mampu menerima segala kekurang yang aku miliki.