Kutemukan Cinta Di Ujung Senja

Kutemukan Cinta Di Ujung Senja
Perintah Tuan Arka


__ADS_3

Malam yang sungguh melelahkan, Aku merasa seperti berada di dalam sinetron dan menjadi peran utamanya, baru kali ini aku melihat sisi lain dari Mama Sam yang tak pernah aku tahu sebelumnya, aku merasa dilema dengan semua yang terjadi, apa aku bisa terus menjalani hubungan ini dengan Sam? atau aku harus menyerah dan meninggalkan Sam yang aku tahu dengan pasti jika Sam memiliki perasaan yang tulus padaku.


Merenung menatap langit-langit kamar sambil mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang kini muncul dalam benakku adalah hal terbaik yang saat ini bisa aku lakukan hingga entah sejak kapan mataku terpejam menandakan jika aku sudah lelap dalam tidur.


Malam panjang telah usai berganti pagi yang terlihat begitu cerah, Aku sengaja bangun jauh lebih pagi agar tidak bertemu dengan Sam, setelah semalaman aku berfikir dan menimang segala resiko yang akan terjadi atas keputusan yang akan aku ambil, Aku memilih menjauh perlahan dan mencoba melupakan Sam, pilihan yang menurutku akan jauh lebih baik dari pada harus tetap bersama Sam dengan keluarga yang bisanya berpura-pura baik saja.


"Bu, Aku berangkat dulu." Pamitku setelah selesai bersiap.


"Kok tumben berangkat nya pagi-pagi buta, apa tidak di jemput sama Sam?" tanya Ibu yang aku yakini jika saat ini dia tengah merasa aneh dengan sikapmu yang memang tidak seperti biasanya.


"Tidak Bu, nanti kalau Sam datang bilang aja ada pekerjaan yang mendesak sampai aku harus berangkat jauh lebih pad.


"Ya sudah, hati-hati berangkatnya," pesan Ibu sebelum aku pergi meninggalkannya.


"Siap, Ibu," sahutku kemudian melangkah meninggalkan Ibu dengan langkah cepat aku pergi.


Kepulan asap sepeda motor dan kendaraan lainnya mulai menerpa wajah, mungkin akan sedikit menyesakkan dada bagi orang kaya yang tak biasa bepergian menggunakan angkutan umum seperti diriku ini, berdesakan di dalam bis kota sudah lama tak ku rasakan sejak Sam kembali datang di hidupku, rasanya sudah lama aku mendapat fasilitas antar jemput yang membuatku sedikit lupa akan indah nya sebuah perjuangan untuk sampai di tempat kerja.


"Senja!" suara Reyhan kembali menyapa diriku yang baru saja sampai di lobby kantor.


"Iya, Rey," sahutku ramah, meski hati dan fikiranmu sedang kacau, Aku tak ingin pekerjaan ku juga ikut kacau karenanya, biarlah hatiku saja yang hancur dan galau, tapi jangan sampai mengganggu pekerjaanku.


"Tumben dateng sendiri, pacar setiamu itu mana?" tanya Reyhan sambil celingukan mencari keberadaan Sam yang memang biasanya selalu mengantarku.


"Entahlah, ke laut mungkin," jawabku acuh, sungguh saat ini aku tak ingin membahas Sam dan keluarganya, karena jika aku membahas mereka, maka mood yang ku bangun sejak tadi akan hancur tak berbekas.


"Apa? ke laut?" spontan Reyhan dengan wajah terkejut dia terus berjalan di sampingku mencoba menyamakan langkah kakiku yanh sengaja aku lebarkan.


"Hm," aku hanya berdehem menjawab keterkejutan Reyhan saat ini.

__ADS_1


"Apa itu artinya kalian sudah putus?" tanya Reyhan dengan wajah penuh rasa penasaran dan mata berbinar penuh harap.


Mendengar pertanyaan Reyhan yang sebenarnya belum ku tahu jawabannya itu membuat langkah kakiku terhenti.


"Bisakah kita tidak membahasnya? Aku ingin fokus bekerja sekarang," jawabku dengan wajah penuh harap agar Reyhan bisa mengerti jika saat ini aku benar-benar tidak ingin membahasnya.


"Baiklah, sesuai keinginanmu, aku tidak akan membahasnya lagi," sahut Reyhan.


Aku kembali melangkah meninggalkan Reyhan yang terlihat bingung tapi senang mendengar jawabanku.


Seperti biasa, Aku memulai pekerjaanku dengan membuat minum untuk para staf di devisi keuangan. Setelah itu mengantarkannya ke ruangan Devisi keuangan.


"Terima kasih senjaku, Sayang," ujar Pak Zul yang selalu memanggilku dengan sebutan lembut di pagi hari.


"Pak, Aku tak suka jadi yang kedua, jadi jangan panggil aku Sayang jika di hatimu maaih ada dia," sahutku sambil mengeringkan sebelah mata ke arah Pak Zul yang di sambut sorak sorai kariyawan lain di devisi itu, kami sudah terbiasa bercanda seperti itu, mereka di devisi keuangan sangat welcome dengan kehadiranku yang notabennya kariyawan baru ini.


"Di rem toh Mbak Riza, kalau terus-terusan ngegas entar nabrak ribet aku, Mbak," sahutku yang sukses membuat tawa seisi ruangan.


Usai mengantar minuman ke divisi keuangan. Aku langsung bergegas melanjutkan pekerjaan membuat minum untuk Pak direktur yang terhormat.


Tok ... tok ... tok ....


Dengan penuh kehati-hatian aku mengetuk pintu ruangan yang paling menyeramkan bagi seluruh karyawan di kantor ini.


"Masuk!" sahut Pak direktur dengan nada tegas yang mampu membuat siapapun takut setelah mendengarnya, dengan langkah kaki penuh keyakinan aku melangkah masuk ke dalam ruangan direktur dengan secangkir kopi di atas nampan yang aku bawa.


"Permisi, Pak, saya mau mengantar minuman," terdengar tahu dan penuh pertimbangan suaraku memang sedang harap-harap cemas, Aku kembali khawatir akan hal yang belum terjadi.


"Tunggu!" suara Tuan Arka kembali terdengar mengalihkan konsentrasiku yang sedang berusaha mengendalikan diri agar tidak jatuh atau salah langkah karena merasa terlalu khawatir.

__ADS_1


"Iya, Pak, ada apa?" jawabku dengan jantung yang kembali berdegup kencang, degupan di jantungku bukan kareba rasa cinta yang mulai tumbuh, tapi karena rasa takut yang semakin menjadi-jadi dan hampir menguasai diriku.


"Belikan aku soto yang ada di sebrang kantor!" perintab Tuan Arka.


Dia menyodorkan satu lembar ung seratus ribuan ke arahku.


"Baik, Pak," jawabku berjalan mendekat ke arah Tuan Arka kemudian meraih uang yang dia sodorkan.


"Beli dua bungkus!" Tuan Arka kembali memberi perintah.


"Baik, Pak," aku kembali menjawab perintah Tuan Arka dengan begitu tegas.


Setelah mendapat perintah dari Tuan Arka aku langsung berjalan keluar dari kantor menuju warung soto yang ada di depan kantor.


'Tumben banget Tuan Arka beli sarapn di sini, bukankah biasanya dia makan di rumah?' batinku mulai bertanya-tanya, selama aku bekerja di rumah Oma, Tuan Arka lebih senang makan di rumah bersama keluarganya, tak seharipun dia lewatkan tanpa sarapan di sana.


"Mbak! ini sotonya," suara sang penjual mengejutkanku yangs edang asyik melamun dan berselancar dalam fikiranku sendiri.


"Terima kasih, Pak," sahutku mengambil alih soto yqng ada di tangannya kemudian kembali masuk ke dalam kantor setelah menerima kembaliannya.


"Widih, tumben amat sarapan di kantor, biasanya sarapan di rumah," sapa Reyhan yang kini berjalan di sampingku.


"Ini punya Tuan Arka," jawabku jujur, entah menapa Reyhan selalu saja berada di dekatku, sudah seperti jelangkung yang datang tak di undang, pulang tak di antar.


"What? Tuan Arka beli sarapan sepagi ini, tumben amat tu orang beli, biasanya selalu sarapaj di rumah, apa pembantunya lagi libur kali ya," seloroh Reyhan.


"Entahlah, tapi kalau kamu penasaran kamu bisa ikut aku ke ruangannya, biar lebuy jelas langsung tanya ke orangnya, bagaimana?" aku sengaja menggoda Reyhan dengan kata-kata smbil menaik turunkan alis agar dia segera pergi dan kembali melakukan tugasnya.


"Kamu pintar sekali bercanda, dari pada aku masuk ke kandang singa, lebih baik aku makan saja di pantry." Ujar Reyhan yang kini langsung berjalan menjauh dariku.

__ADS_1


__ADS_2