
Mendengar jawaban Mbak Riza membuatku reflek langsung menoleh ke arahnya, bibirku memang terkunci rapat tapi tatapan mata yang aku tunjukkan penuh arti dan menuntut jawaban.
"Aku sering sekali salah memberikan minuman untuk mereka," jelas Reyhan seolah mengerti dengan tatapan mata yang aku tunjukkan.
Aku hanya tersenyum menanggapi ucapannya, bukannya merasa lucu dan ingin tertawa aku malah diam seribu bahasa tanpa ada niat untuk tertawa karena aku sedang berada di posisinya saat ini, sedang semua orang di Devisi keuangan bersikap sangat berbeda, ada yang tertawa dan ada pula yang hanya bisa menggelengkan kepala kemudian kembali fokus menatap layar komputer di hadapannya, ada pula yang cuek tak menanggapi apa yang di katakan oleh Reyhan.
"Sudahlah, jangan di ingat! masa lalu itu baiknya di kubur bukan di ingat!" ujar Reyhan.
Dia berjalan keluar dari ruangan seraya memberi isyarat padaku agar aku mengikuti langkahnya.
"Karyawan di sini baik-baik semua ya Rey," ujarku setelah kami benar-benar berada di luar ruangan.
"Mereka memang baik, tapi hati-hati jika bicara di sini! karena pemilik perusahaan ini bukan orang yang memiliki sifat sebaik karyawannya," bukannya menanggapi ucapanku, Reyhan malah mengingatkan diriku akan sifat seseorang.
"Benarkah? memang seperti apa sifat pemilik perusahaan ini?" tanyaku yang cukup terkejut mendengar penuturan Reyhan.
"Suatu saat kamu akan tahu dengan sendirinya," Reyhan tak menjawab pertanyaanku, dia malah mengatakan jika nanti aku akan tahu dengan sendirinya.
"Apa kamu sudah buatkan minum untuk pak Direktur?" sambung Reyhan.
"Belum," jawabku jujur, saat ini aku emang belum membuatkan minuman untuk pak Direktur, karena aku tidak ingin minumannya dingin saat sampai di mejanya, karena dalam note di tulis dengan jelas jika minuman yang akan di berikan pada Pak Direktur tidak boleh sampai dingin.
"Bagus, untuk hari ini biar aku yang membuatkan minum, kamu kerjakan yang lainnya! besok kalau mau buat minum langsung kirim ke ruangan Pak Direktur setelah selesai di buat," Reyhan memberi arahan padaku, sungguh dia terlihat begitu baik dan care pada teman, semoga saja dia mendapat balasan yang setimpal atas kebaikan yangdi tunjukkan.
Sesuai dengan apa yang di katakan Reyhan, Aku berjalan menuju taman untuk membersihkan kotoran yang menghalangi keindahan yang seharusnya tampak.
"Senja!" panggil Siska yang baru saja berjalan mendekat ke arahku.
__ADS_1
"Ada apa, Mbak Siska?" sahutku sambil menoleh ke arah Siska yang kini semakin dekat.
"Aku cuma mau mengingatkan kamu agar tidak terlalu dekat dengan Reyhan," ujar Siska dengan nada sedikit ketus menatap tajam ke arahku.
"Reyhan? dekat bagaimana maksud Mbak Siska?" aku yang tidak mengerti dengan apa yang di jelaskan oleh Siska langsung bertanya tanpa ragu.
"Aku kekasihnya, maka jangan berharap kamu bisa merebutnya dariku," Siska menjelaskan apa yang dia maksud.
"Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Siska yang menurutku wajar, siapapun pasti akan melakukan hal yang sama jika memiliki kekasih seperyi Reyhan, dia sangat baik dan ramah, maka bisa di pastikan akan ada banyak gadis jomblo yang akan salah faham dengan keramahannya, lagi pula Reyhan juga terlihat playboy, cara bicaranya saja sudah menandakan jika dia suka memberi harapan pada para gadis.
"Mbak Siska tenang saja! Aku sudah punya kekasih, jadi tidak mungkin berpaling dan mencintai orang lain, karena kekasihnya yang terbaik bagiku," aku mencoba menjelaskan keadaanku pada Siska, agar dia tidak berfikir buruk tentangku.
"Meski begitu aku harus tetap mengingatkanmu, sebelum kamu melakukan hal yang pasti akan merugikan dirimu sendiri," Siska masih tidak puas dengan apa yang aku katakan barusan.
"Kalau Mbak Siska tidak percaya, Mbak bisa lihat bagaimana harmonisnya aku dan kekasihku, agar Mbak Siska tidak berfikir yang aneh-aneh terhadapku," kelasku yang tak ingin terus-terusan di curigai, lagi pula aku juga tidak berminat dengan Reyhan, meski wajahnya lumayan dan orangnya juga perhatian, tetap saja Sam jauh lebih baik di bandingkan dengannya.
"Amin," aku mengamini doanya dengan senyum sumringah agar Mbak Siska bisa bersikap sedikit santai dan baik terhadapku.
"Jangan G R aku berdoa seperti itu agar kamu tidak putus dengannya, karena aku khawatir kalau kamu putus dengan pacarku itu, kamu akan mencari sandaran baru, jika sudah begitu, tidak menutup kemungkinan kamu akan mendekati Reyhan sebagai pelampiasan," ujar Mbak Siska.
Aku seperti seseorang yang tadinya di sanjung setinggi langit kemudian di jelaskan ke dasar bumi, sakitnya tuh di hati.
"Astaga, ternyata ada maksud di balik do'a yang dia ucapkan," lirihku yang hanya mampu di dengar oleh telingaku sendiri, sedang Mbak Siska sudah melenggang pergi meninggalkan diriku yang masih heran dengan sikapnya.
Inilah dunia kerja, tak selamanya yang baik benar-benar baik dan tak selamanya yang buruk benar-benar buruk, terkadang ada manusia yang berpura-pura baik demi keuntungannya sendiri ada juga yang berpura-pura buruk demi kebaikan seseorang.
"Senja!" panggil Mbak Sifa sesaat setelah aku selesai merapikan semua barang yang aku bawa tadi pagi.
__ADS_1
"Iya, ada apa Mbak?" tanyaku seraya mengalihkan pandanganku ke arahnya.
"Bagaimana pekerjaan hari ini? lancar?" tanya Mbak Sifa.
"Alhamdulillah, lancar Mbak," jawabku dengan senyum yang mengembang di pipinya.
"Syukurlah jika semuanya lancar, kamu pulang sama siapa?" Mbak Sifa kembali bertanya.
"Aku di jemput sama pacar Mbak," jawabku jujur.
"Wah ternyata kamu punya pacar, aku jadi iri," sahut Mbak Sifa.
"Iri kenapa Mbak?" aku yang bingung dengan ucapan Mbak Sifa kembali bertanya.
"Aku iri karena sampai saat ini aku masih jomblo sedang kamu yang aku yakini pasti jauh lebih muda dariku tapi udah punya pacar," Mbak Sifa terlihat jujur saat menjelaskan alasan dirinya yang iri padaku.
"Mbak Sifa bisa saja, lagi pula aku tidak semuda yang Mbak lihat, umurku juga sudah delapan belas tahun," ujarku yang tak enak hati mendengar penjelasan Mbak Sifa.
"Aku sembilan belas tahun, tetap saja lebih tua aku," beo Mbak Sifa.
"Cuma beda setahun Mbak," ujarku.
"Tetap saja aku yang lebih tua," Mbak Sifa tidak terima, dia lebih suka menyebut dirinya lebih tua dari pada seukuran denganku, dan aku tersenyum menanggapi ucapan Mbak Sifa yang tidak mau kalah denganku.
Tin ... tin ... tin ....
Suara bel sepeda motor CBR milik Sam terdengar, siang ini dia memakai sepeda motor biasanya dan aku senang melihatnya.
__ADS_1
"Apa itu pacarmu?" tanya Mbak Sifa sambil menunjuk ke arah Sam yang berada di luar gerbang dengan helm teropong yang masih menempel indah di kepalanya.