
Arka langsung beranjak dari atas spring bad yang semalam memberi kenyamanan untuknya, Arka langsung masuk ke dalam kamar mandi sambil membanting pintu, entah sudah berapa kali Arka melampiaskan kemarahannya ke pintu kamar mandi yang sebenarnya tak memiliki salah apapun, Arka selalu membanting pintu kamar mandi dan mengguyur dirinya di bawah shower, membiarkan seluruh tubuhnya di tutur air dingin, Arka melakukan hal itu bertujuan untuk meredam amarah yang tengah menguasai dirinya.
"Papa!! Papa!!!" suara mungil nan renyah milik Tania selalu menghiasi pagi penuh emosi Arka.
Tania terus saja berteriak memanggil Arka sambil memggedor-gedor pintu yang kini menjadi penghalang antara dirinya dan Tania.
"Tunggu!" cukup dengan satu kata ampuh mampu membuat Tania diam seketika, dia langsung berdiri tegak di depan pintu dan bersiap untuk menemui sang Papa yang baru saja merapikan bajunya.
"Pagi, Papa," sapa Tania sesaat setelah pintu kar di buka oleh Arka yang langsung tersenyum lebar melihat puteri kesayangannya.
"Pagi, Sayang," sahut Arka yang langsung mencium pipi sedikit gembul Tania.
"Pa, apa Mama masih belum pulang?" pertanyaan yang sangat sering di tanyakan oleh Tania kini kembali di pertanyakan lagi, saat ini Arka tak memiliki pilihan lagi selain mengatakan yang sebenarnya, seribu alasan sudah Arka fikirkan setiap kali Tania bertanya tentang Mama yang tidak pantas di panggil Mama, Angel sangat jarang punya waktu untuk Tania, dia selalu sibuk dengan dunia dan kesenangannya sendiri, dan Arka sudah sangat muak melihat tingkah Angel akhir-akhir ini.
"Belum, Sayang," jawab Aria yang sukses membuat Tania kembali menekuk wajahnya, senyum ceria yang dia tunjukkan tadi berubah menjadi tatapan sendu penuh kesedihan.
"Sayang, bukankah hari ini kamu libur ya?" Arka mencoba menghibur Tania yang tampak bersedih.
"Iya, Pa," jawab Tania, hari ini sampai lima hari ke depan Tania mendapat libur sekolah setelah melaksanakan ujian di sekolahnya, awalnya Tania berfikir dia bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama sang Mama di hari liburnya, tapi keinginan itu kini tidak akan pernah terwujud, karena Mama Tania tetap sibuk dengan pekerjaan dan dunianya sendiri.
"Bagaimana kalau kaku ikut Papa ke kantor?" usul Arka, hari ini ada banyak jadwal meeting dan berkas-berkas yang harus di kerjakan oleh Sam, karena itulah Arka mengusulkan agar Tania ikut bersamanya dari pada harus seharian berada di dalam rumah sendiri, Oma kemarin berpamitan jika dia sedang ada acara di rumah sahabatnya.
"Apa boleh?" tanya Tania ragu, pasalnya selama ini yang Tania tahu sang Papa melarang keras Tania ikut ke kantor, semua yang di lakukan Arka bukan tanpa alasan, Arka khawatir jika Tania nanti mengganggu pekerjaannya.
__ADS_1
"Tentu saja boleh, tapi khusus untuk hari ini," jawab Arka dengan senyum yang sangat jarang sekali di lihat oleh orang lain selain Samsul sang asisten pribadinya.
"Yeaaayyy, aku ikut Papa," seru Tania dengan girangnya dia berucap sambil melompat-lompat.
"Tania, jangan melompat-lompat seperti itu! nanti jatuh," suara Arka terdengar menggema di ruangan.
"Siap Papa," sahut Tania yang mengubah cara jalannya, kini Tania berjalan menuju kamarnya untuk bersiap ikut dengan sang Papa, Tania menggunakan mini dress berwarna pink lengkap dengan tas selempang dan sepatu yang berwarna senada, sungguh Tania saat ini terlihat begitu lucu tapi anggun dan cantik, paras wajah Tania memang sangat cantik, perpaduan antara Arka dan Angel yang memang memiliki paras tampan dan sangat cantik, Tania juga memiliki tubuh yang cukup tinggi, seperti Papa dan Mamanya, sungguh perpaduan yang sempurna.
Di rumah Senja ...
Sam melajukan motor dengan kecepatan sedang menuju tempatku bekerja.
"Aku berangkat dulu." Pamitku pada Sam yang kini mengulurkan tangan ke arahku. Sedang aku yang tak mengerti dengan maksud Sam hanya mengernyitkan dahi bingung dengan maksud Sam.
"Salim dulu!" ujar Sam.
"Sekarang kamu sudah resmi menjadi calon istriku, karena itulah kamu wajib salim pada calon suamimu ini," jawab Sam yang membuatku tersenyum, sungguh Sam terlihat begitu serius dengan hubungan yang sedang kita jalani.
"Assalamualaikum," ucapnya sambil meraih tangan Sam kemudian menciumnya, tapi Sam tak melepas tanganku yang masih menggenggam jemari Sam.
"Waalaikum salam," sahut Sam, tapi tangannya masih saja merekat di tanganku.
"Kenapa tidak di lepas?" tanyaku menatap aneh ke arah Sam yang tak kunjung melepas tanganku.
__ADS_1
"Oh ya, lupa," Sam menjawab pertanyaanku sambil nyengir kuda.
"Tunggu Sayang!" cegah Sam saat melihatku hendak pergi masuk ke dalam kantor.
"Ada apa?" aku kembali bertanya ketika Sam mencegah langkahku.
"Ini untukmu." Sam memberikan beberapa lembar uang kertas berwarna merah ke arahku.
"Untuk apa?" aku terus saja bertanya karena aku benar-benar tidak mengerti dengan maksud Sam.
"Bekal, sudah ambil saja!" Sam menarik tanganku dan menaruh uang yang tadi dia ulurkan di tangan.
"Tidak usah! uang yang kamu beri waktu itu masih ada," aku berusaha menolak pemberian Sam, semua aku lakukan bukan karena bersikap sombong, aku hanya menjaga diri agar tidak di cap sebagai gadis mater yang suka meminta pada kekasih yang belum halal untuknya.
"Ambil atau aku tak akan melepas tanganmu?" ujar Sam yang sukses membuatku terpaksa menerima apa yang di minta Sam karena saat ini Sam sedang memegang erat tanganku yang sedang menempel di tangan Sam berniat mengembalikan uang yang tadi dia berikan.
"Baiklah, aku berangkat dulu." Dengan terpaksa aku mengambil uang yang di berikan Sam karena waktu sudah menunjukkan jam tujuh kurang sepuluh menit yang itu artinya aku harus segera masuk.
Sam tersenyum puas melihat aku tak bisa melakukan apa-apa selain menuruti apa yang dia inginkan. Sedang aku berjalan masuk ke kantor.
"Mbak Senja!!!" suara renyah gadis kecil yang dulu menjadi majikanku kini terasa begitu familiar di telinga, pasalnya dia sering sekali muncul di manapun aku berpijak.
"Tania," lirihku sambil menatap heran ke arah Tania yang justru berlari kencang ke arahku kemudian langsung memelukku erat.
__ADS_1
"Aku senang sekali bertemu Mbak di sini," seru Tania yang semakin erat memelukku. Sedang aku masih bingung harus bagaimana? pasalnya saat ini aku sedang berada di kantor dan ada banyak pasang mata menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya, sedang Tuan Arka hanya diam tanpa ekspresi, dia justru terlihat santai tak terusik sedikitpun dengan sikap sang putri yang kini memblok di badanku.
"Kenapa Papa tidak bilang kalau Mbak Senja ada di sini?" protes Tania tanpa mau turun dari gendonganku, sekarang dia menempel seperti bayi koala dan terlihat enggan lepas dariku.