Kutemukan Cinta Di Ujung Senja

Kutemukan Cinta Di Ujung Senja
Berusaha Menjauh


__ADS_3

Aku hanya tersenyum lucu memdengar jawaban Reyhan sambil terus berjalan masuk ke salam ruangan Tuan Arka.


"Pak, ini sotonya." Aku menaruh soto yabg di oesan Tuan Arka di atas meja yang ada di hadapan Tuan Arka, bukannya berterima kasih, Tuan Arka malah.


mengernyitkan dahi melihat aku memberikan soto yang masih bersenang - senang di dalam wadah yang tadi aku beli.


"Kenapa, Pak? apa ada yang kurang?" tanyaku bingung melihat reaksi Tuan Arka yang bingung.


"Ambilkan piring di ruang istirahatku!" Tuan Arka tidak menjelaskan apa yang membuatnya bingung tadi.


"Baik, Pak," aku hanya bisa mengiyakan setiap perintah yang di berikan oleh Tuan Arka.


Aku melangkah perlahan masuk ke dalam ruangan yang memiliki sejarah buruh dalam hidupku. Tapi demi membantu Ibu agar bisa hidup lebih baik lagi.


"Maaf, Pak, saya tidak bisa menemuka apa yang bapak minta," ujarku sambil menundukkan kepala.


Tuan Arka tak menjawab ucapanku, dia berjalan mendekat ke arahku dan ikut masuk ke dalam ruang istirahatnya.


"Kemarilah!" Tuan Arka kembali memberi perintah.


Aku yang berada di ambang pintu langsung menoleh ke arahnya dan berjalan mendekat.


"Lain kali kamu harus ingat jika tempat makanku di simpan di sini!" tutur Tuan Arka, meski aura yang dia pancarkan cukup dingin tapi nada bicaranya tak setajam kemarin, kalau seperti ini Tuan Arka terlihat lebih manusiawi dari biasanya.


Tanpa menunggu perintah lagi aku langsung menyiapkan makanan untuk Tuan Arka yang ku letakkan tepat di meja, kali ini aku meletakkan makanannya di meja yang biasa adi gunakan untuk makan bukan untuk bekerja.


"Kamu mau ke mana?" suara Tuan Arka mencegah langkahku.


"Aku mau balik ke party, Tuan," jawabku.


"Duduk dan temani aku makan!" Tuan Arka kembali memberi perintah yang cukup membuatku tercengang sekaligus terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh Tuan Arka.

__ADS_1


"Saya temani makan? apa Tuan tidak salah?" spontanku yang memang terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh Tuan Arka.


"Dan saya tidak suka mengulangi perintah ataupun menjelaskan perintah yang saya berikan," sahutan Tuan Arka cukup membuatku mengerti jika aku tidak bisa menolak ataupun meminta penjelasannya lagi.


Aku langsung melakukan apa yang Tuan Arka perintahkan, meskipun rasanya sangat aneh dan sukses membuatku mati gaya makan di samping Tuan Arka.


Tubuhku langsung tegak merasa tegang bercampur nerves merasakan gerakan sofa yang ku duduki, Tuan Arka duduk tepat di sampingku dan melahap soto yang ku siapkan dengan begitu santainya.


'Apa yang terjadi dengan Tuan Arka? kenapa tiba-tiba dia bersikap seperti ini?' batinku terus mengutarakan tanda tanya dengan perubahan sikap Tuan Arka yang memang membingungkan saat ini.


Tuan Arka terlihat begitu lahap hingga aku bingung dan heran di buatnya.


"Cuci piringnya dan kembalikan ke tempat yang tadi jika kamu sudah selesai makan!" Tuan Arka berdiri dan berjalan kembali ke arah meja kerjanya.


"Habiskan makanan itu! jangan pergi sebeljm makanan yang kau makan habis!" ujar Tuan Arka saat melihat aku hendak berdiri mengemas piring yang baru saja aku gunakan, aku fikir Tuan Arka tidak peduli dengan apa yang ku makan karena sejak tadi dia terlihat menatap lembaran demi lembaran pekerjaannya di meja.


Aku yang berniat pergi mengurungkan niatku dan kembali makan menghabiskan soto yang tadi di belikan oleh Tuan Arka.


"Hm," sahut Tuan Arka singkat.


Mendengar Tuan Arka sudah menyahuti ucapan terima kasihku atas sarapan tak terduga yang dia berikan aku langsung pergi meninggalkan ruangan Tuan Arka dan kembali ke pantry untuk melanjutkan pekerjaanku.


"Ekkkhhhh," suara tak terduga keluar dari mulutku, untung saja tak ada orang di dalam pantry, jika tidak aku pasti akan malu karenanya, hari yang sangat aneh dan tidak masuk akal.


Aku melakukan pekerjaan dengan baik hari ini, hingga jam pulang telah tiba, kini aku bersiap untuk pergi dan kembali pulang untuk mengistirahatkan tubuh yang terasa begitu lelah.


"Sayang tunggu!" suara Sam sukses menghentikan langkah kakiku yang ingin kembali pulang dan menunggu bis lewat.


"Sam," lirihku, rasanya sangat sulit menolak kehadiran Sam yang memiliki hati bak malaikat, tapi saat aku ingat setiap kata yang terucap dari bibir manis Mama dan Oma Sam membuatku takut untuk terus melangkah bersamanya.


"Hey, Sayang!" sekali lagi Sam mencoba mengalihkan perhatianku yang sejak tadi sibuk dengan pemikiranku sendiri.

__ADS_1


"Eh, iya," sahutku yang kini mulai memfokuskan fikiran dan harapanku ke arah Sam yang berdiri di hadapanku.


"Kamu kenapa? apa ada masalah?" tanya Sam seraya menatap lekat ke arahku, melihat tatapan Sam membuatku yakin jika saat ini Sam sedang meneliti kejujuranku.


"Aku tidak apa-apa," jawabku seraya mungkin, sungguh saat ini adalah saat paling sulit dalam hidupku, rasanya begitu berat mengacuhkan seseorang yang sangat aku Sayang dan begitu baik padaku.


"Jangan pernah berbohong padaku Senja!" Sam mengingatkan diriku.


"Aku tidak pernah berbohong padamu," jawabku dengan wajah yang ku buat sedatar mungkin, meskipun terasa sangat sulit dan aku tak yakin jika wajahku terlihat datar, Aku harus tetap berusaha.


"Tadi pagi kenapa kamu tidak menungguku?" Sam mulai mengintrogasi diriku yang memang sedang berusaha menghindarinya.


"Aku ada pekerjaan pagi tadi, jadi aku tidak bisa menunggumu," aku memberikan alasan yang sudah aku bilang ke Ibu tadi pagi.


"Bukankah kamu bisa menghubungiku? kenapa langsung pergi tanpa bilang?" Sam yang ku tahu selalu menuntut sebuah jawaban yang menurutnya akurat terus saja bertanya.


"Aku tadi buru-buru karena pekerjaannya mendadak, jadi tidak sempat menelfonmu," aku terus berusaha memberi alasan yang tepat agar Sam percaya padaku.


"Terus kenapa tadi kamu bengong saat aku panggil?" Sam kembali bertanya.


"Aku tidak bengong, aku hanya lelah dan ingin segera sampai rumah untuk beristirahat," jawabku.


"Lain kali kamu harus menghubungiku jika ada sesuatu, aku tidak ingin terjadi hal buruk padamu," ujar Sam yang kini berjalan mendekat dengan helm di tangannya.


"Ayo pulang!" ajak Sam setelah memasangkan helm di kepalaku. Dan aku tidak bisa menolak apa yang Sam lakukan padaku.


Aku hanya pasrah mengikuti langkah kaki Sam menuju motor yang dia bawa, kemudian duduk manis di sana.


"Apa tidak sebaiknya kita makan dulu?" tawar Sam sesaat setelah motor melaju.


"Aku sudah kenyang Sam," sahutku yang berharap Sam tak memaksaku untuk ikut makan bersamanya.

__ADS_1


Sam tak lagi bersuara, dia memilih untuk diam dan kembali fokus menatap jalanan yang ada di hadapannya, sedang aku sibuk melihat pemandangan sekitar agar tidak terpancing oleh Sam.


__ADS_2