
Sungguh hari yang melelahkan, aku merasa begitu sibuk bekerja hingga aku tak punya waktu untuk bermain atau hanya sekedar nongkrong bersama teman-temanku yang lain.
Tin ...
Suara bel dari motor yang biasa aku tumpangi bersama Sam terdengar begitu nyaring di telinga, hingga aku sedikit terkejut mendengarnya.
"Ishhh Sam," keluhku sambil memasang wajah sebal di hadapan Sam, pacar sekaligus orang yang paling mengerti keadaanku.
"Kenapa Sayang?" sahut Sam dengan wajah polos yang justru membuatku semakin sebal karenanya.
"Berisik tahu," jawabku.
Sam tak menjawab ucapanku, dia hanya tersenyum manis ke arahku.
"Sayang," panggil Sam.
"Iya, ada apa?" aku menjawab panggilan Sam dengan sebuah pertanyaan.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu sebelum pulang?" usul Sam.
hari ini memang hari sabtu di mana ada banyak pasangan yang sedang menghabiskan waktu bersama.
"Boleh," jawabku yang memang merasa begitu bosan berada di dalam rumah.
"Emangnya kamu mau ngajak aku jalan-jalan ke mana?" sampingku yang merasa penasaran dengan ajakan Sam yang tiba-tiba seperti saat ini.
"Bagaimana kalau kita ke alun-alun kota?" usul Sam.
"Boleh juga," jawabku menyetujui usulan Sam yang cukup membuatku senang, meski hanya berjalan-jalan di sana.
Sam benar-benar membantuku menghilangkan penat setelah seharian bekerja di hari sabtu yang seharusnya aku pulang sejak tadi siang, semua ini karena temanku yang sakit, aku harus menggantikan dia.
"Sayang, ada sesuatu yang harus aku bicarakan padamu," ujar Sam yang membuatku penasaran, karena dia mengatakannya dengan ekspresi wajah penuh keseriusan yang tak peenah aku lihat sebelumnya.
__ADS_1
"Kamu ingin mengatakan apa? katakan saja semuanya!" jawabku yang meminta Sam mengatakan semua yang ingi. dia katakan tanpa harus ada yang di tutup-tutupi.
"Semua ini tentang rencana pernikahan kita," perlahan tapi pasti Sam mulai menjelaskan apa yang ingin dia katakan saat ini.
"Iya, kenapa dengan rencana itu?" aku kembali bertanya.
"Mamaku memintaku segera menikah, dan aku ingin kamu yang menjadi pasanganku, apa kamu bersedia menikah denganku dalam waktu dekat ini, Sayang ?" ucapan Sam benar-benar membuatku bingung, aku sudah menyayangi Sam, rasa sayang yang memiliki arti berbeda dari sebelumnya, jika dulu aku menyayangi Sam sebagai sahabat, kini rasa sayang itu berubah, aku menyayangi Sam sebagai kekasih, dan jujur saja, aku tak ingin Sam pergi meninggalkanku, atau berpaling dariku.
"Sayang," suara lembut Sam menyapa telingaku, membyarkan lamunan yang sedang aku rasakan, entah bagaimana aku bisa memberikan jawaban secepat ini, sedang aku merasa masih belum siap untuk menyuruh ataupun memenuhi permintaan Sam.
"Beri aku waktu Sam, setidaknya sampai besok, aku akan mengatakan jawabanku besok," jawabku yang tak punya pilihan, aku tak mungkin menolak ataupun menunda lagi, bagiku Sam juga berarti di hidupku, dan aku tak ingin kehilangan dia.
"Aku akan menunggu jawabanmu Sayang," ujar Sam dengan senyum lebar yang sukses membuatku begitu terpesona, Sam memiliki segalanya hingga aku tak mampu menolak apapun yang Sam minta.
Dia tampan, muda, kaya, lembut, penuh perhatian paket lengkap yang memenuhi segala syarat untuk di jadikan seorang suami.
"Ayo buka mulutnya!" titah Sam.
"Sam jangan lakukan itu di sini! aku malu," ucapku yang tak langsung mengabulkan permintaan konyol Sam saat ini.
"Mereka tidak akan perduli dengan apa yang kita lakukan, lagi pula tidak ada yang mengenal kuta di sini, sekarang buka mulutnya!" sekali lagi Sam memaksa aku yang sekarang merasa harus mengikuti keinginan Sam. Perlahan tapi pasti ku buka mulutku memberi isyarat jika aku menyetujui apa yang Sam lakukan.
"Bagaimana rasanya?" tanya Sam, dan aku mengerti bingung dengan pertanyaan yang di ajukan padaku, Sam bertanya rasa nasi goreng yang sama seperti nasi goreng yang aku makan dan aku pesan saat ini.
"Enak," satu kata yang ku harap bisa membuatnya senang.
"Hanya enak saja?" sahut Sam yang membuatku semakin bingung karenanya.
"Hmmm, jauh lebih enak dari sebelumnya," aku mencoba memberikan jawaban yang akan membuatnya senang.
"Tentu saja jauh terasa lebih Enak, karena aku yang menyuapkan makanan itu, makanya rasanya terasa jauh lebih enak," ujar Sam penuh dengan rasa bangga yang terlihat jelas di wajahnya. Dan akibatnya tersenyum menanggapi ucapan Sam.
"Sam, ini sudah larut, ayo pulang!" ajakku saat melihat jam tangan yang melingkar indah di pergelangan tanganku menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.
__ADS_1
"Masih setengah sepuluh Sayang," sahut Sam.
"Ibuku akan semakin bingung jika aku tidak pulang sekarang, jadi bisakah kita pulang," aku memberikan alasan diriku yang mengajak Sam untuk pulang sekarang juga, sungguh tidak mungkin bagiku untuk tetap berada di tempat ini lebih malam lagi, meski aku sudah berpamitan tadi, tetap saja aku tak bisa pulang terlalu malam.
"Baiklah, ayo pulang!" Sam yang selalu menuruti keinginanku kini kembali melakukan hal yang sama, dia selalu saja bisa membuatku senang dan bahagia saat berada di sisinya.
"Pegangan!" titah Sam saat kami sudah berada di atas motor.
Entah mengapa aku yang biasanya risih untuk berpegangan, kini malah ingin memeluk erat perut ramping milik kekasihku ini, aku lupa dia bukan hanya seorang kekasih tapi calon suamiku ini.
Angin malam berhembus dengan pelan, tapi hawa dingin yang tercipta karena hembusan itu cukup membuat hatiku mendorong diriku untuk memeluknya lebih erat lagi, rasanya begitu nyaman, mengendarai sepeda motor dengan kekasih di malam hari sambil berpelukan cukup membuatku merasa bahagia. Dan aku yakin Sam juga merasakan hal yang sama, buktinya sesekali dia menggenggam erat jemariku yang melingkar indah di perutnya, aroma maskulin menyeruak dalam hidung, sungguh Sam begitu membuatku tenang, nyaman, dan terpesona karenanya.
"Apa udaranya begitu dingin, Sayang?" tanya Sam.
"Hmm, sangat dingin," jawabku yang memang merasa kedinginan di belakang Sam, padahal aku sudah memakai jaket yanh cukup tebal, tapi udara dingin yang kini berhembus pelan mampu menembus jaket yang aku pakai.
Tanpa ada kata, Sam langsung menuntun jemariku agar masuk ke dalam kantong jaketnya, dan aku cukup terkejut dengan apa yang dia lakukan, tapi satu menit kemudian aku mengerti maksud dari Sam tanpa perlu mendengar penjelasannya.
Awalnya tanganku terasa begitu dingin berada di perut Sam, tapi rasa dingin itu menghilang setelah Sam memasukkannya ke dalam kantong jaket yang dia pakai.
"Apa sekarang sudah merasa lebih hangat?" tanya Sam.
"Jauh lebih hangat dari sebelumnya, terima kasih," jawabku sambil kembali memper erat pelukannya.
"Ishhh kau sungguh membuatku terlena Sayang, setelah ini aku harus mandi di cuaca dingin karenamu," ujar Sam.
"Kenapa harus mandi di cuaca dingin seperti ini? dan kenapa juga karena aku? apa aku ini kotor? sampai kau harus mandi," tanyaku yang merasa bingung denga apa yang Sam katakan.
"Semua itu bukan karena kau kotor, aku tidak bisa menjelaskannya padamu sekarang, nanti kamu akan tahu sendiri alasannya." Jawaban yang sungguh membuatku semakin bingung.
Aku yang merasa jika apa yang aku lakukan bisa membuat Sam susah, perlahan mengurai pelukan agar Sam tidak perlu mandi di malam hari seperti saat ini.
"Kenapa di lepas?" tanya Sam bingung.
__ADS_1
"Aku tidak ingin membuatmu sengsara hingga harus mandi di malam dingin seperti saat ini," jawabku.
"Sudah, jangan fikirkan apa yang aku katakan tadi! sekarang ganti posisimu seperti tadi!" pinta Sam yang membuatku semakin bingung, tapi aku yang memang merasa nyaman dalam pelukannya kembali memeluknya tanpa berfikir kedua kalinya, karena berada di pelukan Sam adalah hal yang cukup memberi kenyamanan untukku.