Kutemukan Cinta Di Ujung Senja

Kutemukan Cinta Di Ujung Senja
Di Paksa Berangkat Bersama


__ADS_3

Waktu terus bergulir tanpa terasa Tania sudah seminggu di rumah Senja, dan hari ini Arka mengatakan jika dia akan menjemput Tania dan membawanya kembali pulang, karena suasana sudah aman, sejak sidang perceraian kemarin Arka bilang jika dia sama sekali tidak bertemu dengan Angel dan menurut anak buahnya, Angel pergi berlibur bersama selingkuhannya, karena itulah rka berani mengajak Tania pulang.


Author POV end ....


"Apa semuanya sudah siap?" tanya Tuan Arka saat melihat aku dan Tania selesai berkemas.


"Sudah," jawabku singkat, seminggu lebih tinggal bersama Tania membuatku terbiasa bersama dengannya, rasanya ada yang kosong saat Tania akan pergi, tapi aku tidak ingin egois ataupun memaksakan diri dan mencegah kepergian Tania yang memang bukan anakku.


"Pa," lirih Tania dengan ekspresi wajah penuh kesedihan dia memanggil sang Papa.


"Iya, ada apa Tania?" sahut Tuan Arka yang kini memusatkan perhatian pada Tania yang tengah menunduk lesu.


"Tidak bisakah Tania tinggal di sini lebih lama?" tanya Tania dengan ekspresi wajah yang masih tetap lesu.


"Tania, Oma sudah merindukanmu, lagi pula Tania bisa kembali berkunjung ke sini kapanpun Tania mau," jawab Tuan Arka.


"Tapi Tania ingin tetap di sini bersama Mbak Senja, atau Mbak Senja ikut bersama Tania pulang ke rumah," ungkap gadis kecil itu dengan wajah penuh harap dia yang sudah terbiasa bersamaku mencoba meminta pulang bersamaku.


"Tania, Mbak Senja tidak bisa ikut pulang bersama kita saat ini, jika dia pulang bersama kita, Ibu Mbak Senja bersama siapa di sini? tolong mengertilah, Nak!" sahut Tuan Arka yang terlihat begitu lembut dan sabar menghadapi rengekan Tania saat ini, sungguh dia terlihat sangat jauh berbeda dengan dirinya saat di kantor, aku seperti melihat orang lain dalam diri Tuan Arka, meski berada di raga yang sama, tapi keduanya seperti bumi dan langit jauh berbeda.


"Tania, Mbak Senja pasti akan berkunjung ke rumah Tania jika Mbak Senja sedang libur dan tidak bekerja, tapi untuk saat ini Tania ikut Papa pulang, kasihan Oma sudah sangat merindukan Tania," aku tak bisa hanya diam melihat Tuan Arka kesulitan membujuk Tania yang terlihat bersikeras untuk tetap tinggal bersama denganku.


"Janji," sahut Tania yang langsung menyodorkan jari kelingkingnya ke arahku. Melihat respon Tania membuatku ragu, bagaimana jika nanti aku tidak bisa memenuhi janjiku itu, aku yang tak bisa menjawabnya mencoba meminta bantuan pada Tuan Arka agar dia membantuku menjawab, ku angkat kedua alisku, memberikan kode pada Tuan Arka apa yang harus aku jawab.

__ADS_1


"Mbak Senja akan datang dan bahkan menginap di rumah Tania saat dia libur di hari Sabtu dan akan pulang Minggu sore, bagaimana? apa Tania setuju?" tawar Tuan Arka, dia terlihat biasa saja, tapi aku begitu terkejut mendengarnya, bagaimana mungkin aku menginap di rumah Tuan Arka setiap hari Sabtu dan Minggu.


"Tapi, Tuan ak~" suaraku terpotong oleh ancaman lama yang selalu di gunakan oleh Tuan Arka untuk menakutiku.


"Mau atau kamu akan di pecat dari kantorku?" sela Tuan Arka.


"Baiklah, Mbak Senja akan menginap di rumah Tania setiap hari Sabtu," menyerah sudah, semua terasa tidak ada gunanya, melawan Tuan Arka sama saja mencari masalah, aku masih butuh pekerjaan itu dan tidak mungkin meninggalkannya, karena itulah aku memilih untuk mengikuti apa yang Tuan Arka mau, aku masih butuh uang untuk membayar kontrakan rumah ini, harga rumahku di kampung yang aku kontrakan tidak seberapa, jadi aku harus cari uang lebih untuk menutupi kekurangannya.


"Baiklah, aku akan menunggu Mbak Senja di hari Sabtu, dan Mbak Senja harus datang!" ujar Tania.


"Iya, Mbak akan datang," sahutku mencoba meyakinkan gadis kecil itu.


"Terima kasih untuk segalanya, nanti aku akan transfer uang yang aku janjikan padamu," pesan Tuan Arka sebelum dia pergi.


"Tidak usah Tuan, aku ikhlas merawat Tania, lagi pula aku merasa bahagia bisa bersama dengan Tania, aku hanya minta gajiku di kantor jangan di potong! meskipun sudah seminggu aku absen," ujarku jujur.


'Dasar aneh,' batinku menatap penuh rasa heran ke arah Tuan Arka yang langsung berjalan keluar dari rumah bersama Tania yang kini sedang berjalan di sampingnya sambil memegang tangan Tania.


Seperti hari sebelumnya, kini aku mulai melakukan aktifitas seperti biasa, pagi yang sibuk bersiap memulai bekerja di kantor Tuan Arka setelah seminggu mengambil cuti, ahh ini bukan cuti tapi beralih pekerjaan tapi tetap bekerja di orang yang sama.


"Bu, aku pamit berangkat dulu." Pamitku sebelum pergi meninggalkan rumah.


"Iya, hati-hati di jalan!" sahut Ibu sambil tersenyum ke arahku dan mengusap lembut kepalaku.

__ADS_1


Aku melangkah menuju jalan raya di mana aku biasa menunggu bus lewat, entah mengapa hari ini terlihat begitu sepi, padahal biasanya jam segini sudah ada banyak orang yang menunggu bus sama seperti diriku, tapi suasana tetap sepi tidak ada satu orang pun yang menunggu di halte bus.


"Apa aku telat ya?" gumamku saat melihat suasana sepi.


Aku terus saja memikirkan apa yang sebenarnya terjadi hingga sebuah mobil mewah yang terkenal memiliki harga fantastis berhenti tepat di hadapanku.


"Bukankah ini mobil yang biasa di gunakan oleh Tuan Arka?" aku kembali bergumam saat melihat mobil itu benar-benar berhenti di hadapanku.


"Iya, aku yakin sekali ini mobil Tuan Arka," sambungku sambil terus menatap mobil di hadapanku, hingga kaca mobil mewah itu terbuka dan benar saja, wajah Tuan Arka terlihat di sana.


"Ngapain diam saja? ayo masuk!" suara Tuan Arka terdengar jelas membuat lamunanku buyar.


"Tapi aku tidak bisa ikut Tuan, maaf," sahutku yang kini sudah berdiri tidak jauh dari mobil Tuan Arka.


Tanpa aku duga Tuan Arka langsung keluar dari dalam mobil dan menarik tanganku, sedikit memaksa agar aku ikut bersamanya.


"Jangan membantah! ini perintah dariku," ujar Tuan Arka yang tak bisa aku tolak.


Aku tak lagi bisa menolak perintah dari Tuan Arka, berjalan masuk ke dalam mobil mengikuti langkahnya merupakan pilihan yang paling tepat untuk saat ini, meski rasanya begitu canggung, tapi aku tetap masuk ke dalam kobil dan duduk manis di samping Tuan Arka.


"Jalan!" titah Tuan Arka sesaat setelah aku duduk di kursi.


"Tuan," lirihku.

__ADS_1


"Hm," sahut Tuan Arka dengan posisi yang masih sama, menoleh ke depan.


"Bisakah aku turun di ujung jalan sebelum masuk ke area kantor?" tanyaku dengan nada pelan karena takut aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya.


__ADS_2