Kutemukan Cinta Di Ujung Senja

Kutemukan Cinta Di Ujung Senja
Permintaan Tania


__ADS_3

Cukup lama kami bermain berburu, hingga Tania merasa bosan dan mengajakku keluar dari kamar.


"Mbak bosen, kita makan yuk!" ajak Tania.


Aku hanya bisa menuruti apapun yang Tania inginkan, bagiku senyum Tania saat ini menjadi hal utama yang harus aku ciptakan.


"Tania mau ke mana?" suara Tuan Arka terdengar menggema di telinga mengalihkan perhatian siapapun yang ada si sana.


"Aku mau makan Papa," jawab Tania sambil terus berjalan tanpa memperdulikan Tuan Arka yang terlihat begitu terkejut sengan apa yang baru saja di ucapkan oleh sang putri.


"Tania mau makan apa?" tanya Ibu yang berada tidak jauh dari dapur.


"Apapun yang Bibik masak," jawab Tania penuh semangat sukses membuat rasa penasaran Tuan Arka menjadi-jadi, dia berjalan mendekat ke arah di mana ada aku dan Tania yanh sedang duduk di meja makan.


"Tania semangat sekali mau makan," ujar Tuan Arka dengan senyum yang terlihat jelas di wajahnya.


"Iya Pa, hari ini aku makan mau di suapi Mbak Senja," jawab Tania polos.


"Apa bedanya malas sendiri sama di di api Mbak Senja, Tania? yang di makan juga sama gak ada bedanya," ujar Tuan Arka yang merasa heran dengan apa yang di lakukan oleh Tania.


"Kalau makan sendiri rasanya kurang enak Pa, kalau di suapin itu rasanya enak banget," jelas Tania yang cukup membuatku gelebg-geleng kepala.


"Salah Tania, kalau makan sendiri makan pakai tangan sendiri, kalau di suapin tinggal buka mulut langsung hap!" ujar Tania.


"Nah, ini yang benar," sahut Tuan Arka, sedang Tania hanya tersenyum manis menanggapi ucapanku.

__ADS_1


Apa yang di katakan Tania mungkin ada benarnya juga, buktinya Tania makan dengan lahapnya dan menghabiskan satu porsi penuh nasi yang sempat aku ambilkan.


"Habiss!!" seruku dengan penuh kelegaan setelah melihat Tania menghabiskan satu penuh makanan di piringnya. Sedang Tania hanya mengacungkan jari jempolnya sebagai tanda jika dia telah melakukan sesuatu yang hebat.


"Bu, apa sebentar lagi Ibu pulang?" tanyaku pada Ibu yang kini terlihat sedang membereskan barang yang biasa Ibu bawa pulang.


"Iya, tugas Ibu sudah selesai, jadi Ibu mau pulang, apa tugasmu juga sudah selesai atau masih ada yang harus di kerjakan?" tanya Ibu dengan ekspresi wajah yang terlihat lelah setelah seharian bekerja.


"Sudah Bu, setelah ini saya mau minta izin untuk pulang." Jawabku yang merasa jika sudah waktunya untuk pulang dan sudah cukup merawat Tania hari ini.


"Kalau begitu Ibu tunggu di sini saja, kamu minta izin saja sama Tuan Arka!" ujar Ibu.


"Mbak Senja mau pulang?" tanya Tania dengan ekspresi wajah sendu dan air mata yang mulai menggenang.


"Iya, Tania, sudah waktunya pulang," jawabku dengan senyum yang aku buat semanis mungkin.


"Tania di rumah saja, ikut Mbak Senja mau ngapain di sana? lagi pula rumah Mbak Senja kecil jelek pula, gak sebanding dengan rumah Tania di sini," ujarku berharap Tania tidak ikut bersamaku, aku menolaknya bukan karena aku tidak suka atau tidak mau membawanya ikut bersamaku, tapi aku tidak ingin Tania merasa tidak nyaman dan akan merepotkan Ibuku saat berada di rumah, jika hanya aku yang di repotkan bukan masalah, tapi aku tidak ingin Ibuku juga repot karenanya.


"Aku tidak apa-apa Mbak, Tania janji tidak akan menyusahkan Mbak Senja ataupun Bibik," Tania terlihat begitu serius mengatakan semuanya padaku, dan aku hanya bisa diam mendengar nya, sebenarnya bukan cuma karena aku khawatir Tania akan menyusahkan aku dan Ibu, tapi aku juga tidak yakin jika Tuan Arka akan memberi izin pada TaniaTania mengingat rumahku sama sekali tidak bisa di bandingkan dengan rumah Tuan Arka yang begitu mewah bak istana, sedangkan rumah ku lebih mirip gubuk reot dalam serial Cinderella.


"Mbak, ayolah! ajak aku. Bukankah besok hati minggu? besok aku libur tidak sekolah, jadi aku boleh donk menginap di rumah Mbak Senja," Tania kembali merengek.


"Bu, bagaimana ini?" aku memang tak bisa mberi jawaban pada Tania, karena itulah aku meminta pendapat Ibu.


"Kalau Ibu terserah kamunya saja, tapi Ibu tidak yakin Tuan Arka akan memberi izin," sahut Ibu.

__ADS_1


Ternyata Ibu memiliki kekhawatiran yang sama denganku, beliau tidak yakin kalau Tuan Arka akan memberi izin.


"Tania izin dulu sama Papa," ujarku pada Tania.


"Kalau aku dapat izin dari Papa, apa Mbak Senja mau mengajakku?" tanya Tania yang terlihat memastikan jika Mbak Senja pasti akan mengizinkan dia ikut pulang, jika Tania tidak memastikannya lebih dulu, maka bisa di pastikan usaha Tania untuk mendapat izin pada Tuan Arka akan sia-sia.


"Tentu saja, Mbak akan mengajakmu ke rumah, tapi dengan syarat mendapat izin dari Oma dan Papa," ujarku dengan senyum yang ku buat semanis mungkin agar Tania bisa kembali tersenyum seperti tadi.


"Baiklah, Aku akan meminta izin sama Oma dan Papa, Mbak Senja temani aku minta izin ya!" pinta Tania dengan ekspresi wajah memelas yang semakin sukses membuatku merasa Iba karenanya.


"Iya, Mbak akan temani Tania," sanggupkah yang kini meraih tangan Tania yang sejak tadi menggantung.


Tania dan aku melangkah mendekat ke arah ruang keluarga di mana ada Oma dan Tuan Arka yang sudah duduk manis di sofa yanga ada di sana, keduanya terlihat begitu serius membahas sesuatu yang entah apa itu.


"Papa! Oma!!" suara melengking khas anak kecil terdengar menggema di ruang keluarga, mengejutkan siapapun yang berada di sana.


"Tania," sahut pma sambil merentangkan tangan tanda jika dia ingin memeluk sang cucu.


"Ada apa, Sayang?" tanya Tuan Arka menatap penuh rasa penasaran ke arah Tania yang berdiri tak jauh dari tempat Tuan Arka duduk.


"Oma, Papa," suara Tania kembali terdengar menggema di telinga siapapun yang mendengarnya dan berada di ruangan itu, meski nada bicaranya sedikit melunak dan tidak sekeras tadi, tetap saja cukup membuat siapapun yang berada di ruangan itu menoleh dan memfokuskan diri pada Tania yang kini duduk tepat di samping Tuan Arka.


"Kamu mau minta apa?" tanya Tuan Arka saat melihat gelagat Tania menunjukkan jika dia menginginkan sesuatu.


"Papa memang paling the best, Papa tahu apa yang aku inginkan," sedu Tania dengan penuh semangat empat lima.

__ADS_1


"Tentu saja, sekarang katakan kamu mau apa dari Papa dan Oma!" titah Tuan Arka yang cukup membuat binar di mata Tania semakin nyata terlihat.


"Aku ingin menginap dan ikut Mbak Senja pulang, apa Papa mengizinkan?" tanya Tania dengan penuh harap.


__ADS_2