Kutemukan Cinta Di Ujung Senja

Kutemukan Cinta Di Ujung Senja
Suara Menusuk Hati


__ADS_3

"Senja, katakan saja apa yang ingin kamu katakan!" titah Sam yang terlihat tidak sabar menunggu jawaban dariku.


"Sam, sejujurnya aku meminta pisah darimu karena aku tidak mendapatkqn restu dari Ibu dan Oma kamu Sam," aku berusah mengtakan semuanya dengan jujur dan berharap Sam bisa menerima juga mengerti dengn alasan yang aku berikan.


"Apa? restu? kamu bercanda Senja," sebuah tanggapan yang tak pernah aku harapkan, bagaimana mungkin Sam bisa menanggapi kejujuranku dengan ketidakpercayaan seerti saat ini.


"Sam, aku mengatakan kejujuran padamu, Oma dan Mamau tidak menyukai dan mereka juga tidak menginginkanku menjadi menantu mereka, aku tidk selevel denganmu, Sam, karena itulah aku meminta kita untuk mengakhiri hubungan yang terhalang restu ini, aku tak bisa melanjutkannya Sam," aku kembali mencoba menjelaskan semuanya dengan sejelas-jelasnya berharap Sam mau mengerti dan menerimaku.


"Jangan pernah membuat alasan jika kita tak mempunyai restu Senja, apa lagi kamu memakai nama Mama dan Oma, katakan saja! jika kamu memang sudah tidak memiliki rasa padaku dan katakan saja! jika kamu menginginkan perpisahan kita karena kamu telah menemukan laki-laki lain yang jauh lebih baik dan jauh lebih kaya dariku," sahut Sam yang justru menuduhku berbohong,eski dia tak mengatakannya dengan transparan tapi aku mengerti maksud dari ucapannya, Sam terdengar begitu tega dan seenaknya sendiri padaku.


"Cukup Sam! aku mengatakan semua dengan jujur tanpa ada yang aku kurangi, tapi jika kamu tetap menganggap aku bohong, terserah padamu, tapi kamu harus tahu satu hal! Mama dan Oma kamu hany berpura-pura menerima kehadiranku dan berpura-pura menerima juga merestui hubungan kita hanya jika mereka berada di hadapanmu, tapi ucapan mereka begitu tajam menusuk ke dalam hati jika kamu tidak ada di sampingku," aku mengatakannya dengan emosi yang menggebu-gebu, bagaimana mungkin Sam bisa melakukan hal yang cukup membuatku marah dan semakin sakit hati padanya, kebaikan yang baru saja dia ceritakan seolah sirna sekejab mata, untung saja semua ini terjadi, jika tidak, mungkin aku akan hidup dalam penderitaan, karena Mama dan Oma Sam bersikap buruk saat Sam tak ada dan Sam begitu percaya pada mereka, bukan senyum atau tawa yang akan aku dapatkan jika sudah menikah nanti, tapi air mata yang akan aku dapatkan.


"Aku sudah tidak perduli lagi dengan apa kamu mau mempercayaiku atau tidak, yang harus kamu tahu, aku tidak pernah berbohong sedikitpun padamu, dari awal kita bertemu hingga saat ini, aku berjanji padamu akan mengembalikan uang yang sudah kamu gunakan untuk menebus sertifikat itu, tapi aku tidak bisa membayar semuanya sekarang, aku akan menyicilnya setiap kali aku gajian, dan terima kasih atas semua kebaikan yang sudah kamu berikan padaku dan Ibu, semoga Tuhan memberimu balasannya dan memberikanmu jodoh yang jauh lebih baik dariku dan yang terpenting sepadan denganmu, agar Oma dan Mamami bisa menerimanya," sambungku yang merasa belum puas mengatakan semua yang ada dalam fikiranku.


Sam hanya terdiam tanpa kata, dia menatapku penuh selidik seolah mencari kejujyran yang sebenarny tidak perlu di selidiki lagi, karena aku sudah mengtakan semuanya dengan jujur dan aa adanya.


"Jika sudah tak ada yang di bicarakan lagi, aku permisi." Pamitku yang merasa jika Sam tidak akan berbicara karena dia tetap diam, seeprtinya Sam masih berperang dengan fikirannya sendiri, dia pasti masih terkejut dan tak percaya dengan apa yang terjadi, tapi inilah kenyataan yang harus dia terima.

__ADS_1


Dengan langkah lebar aku meninggalkan cafe beserta Sam yang masih diam menatapku dengan penuh rasa heran.


"Sungguh aku tak menyangka jika Sam akan mengatakan hal itu, dia sama sekali tidak percaya dengan apa yang aku katakan, bagaimana jika hal ini terjadi saat aku dan dia sudah menikah? aku pasti akan berada dalam dilema besar dan aku pasti akan menderita karenanya," gumamku sambil berjalan menyusuri trotoar.


"Senja!" suara Tuan Arka yang sekarang sudah familiar dalam benakku terdengar menggema di telinga meski saat ini aku berada di luar ruangan, tapi suaranya begitu jelas terdengar.


"Tuan Arka," lirihku menoleh ke arah Tuan Arka yang sedang berjalan mendekat ke arahku.


"Kamu sedang apa di sini?" tanya Tuan Arka.


Tuan Arka tak menjawab atau merespon ucapanku, dia terlihat bingung mendengar jawabanku yang mungkin terdengar puitis, Tuan Arka malah mengerutkan dahi bingung mendengar jawaban yang aku berikan.


"Aku baru saja selesai menemui mantan pacar Tuan," sambungku, kali ini aku yakin Tuan Arka pasti mengerti apa yang aku katakan.


"Oh, pantas saja sejak keluar dari cafe kamu terlihat menggerutu sendiri," sahut Tuan Arka yang cukup membuatku terkejut karenanya, Tuan Arka memperhatikan apa yang aku lakukan sejak tadi.


"Apa aku terlihat seburuk itu?" tanyaku yang tahu dengan pasti jika menggerutu di pinggir jalan bukanlah hal yang baik untuk di lakukan.

__ADS_1


"Cukup buruk, bagaimana kalau kamu ikut aku ke rumah? Tania pasti senang bisa bertemu denganmu dan dia pasti akan makan dengan lahap kalau kamu ikut makan malam bersama," tawar Tuan Arka.


"Aku harus pulang Tuan, Ibu pasti akan mencariku jika aku tidak pulang tepat waktu," ujarku dengan ekspresi wajah tak enak aku berucap.


"Ibu kamu pasti belum pulang, hari ini ada acara syukuran yang Oma adakan, sekarang Ibuku pasti sedang membersihkan sisa acara tadi pagi," sahut Tuan Arka.


"Acara syukuran, kenapa Ibu tidak bilang padaku?" lirihku yang merasa aneh dengan apa yang baru saja di katakan Tuan Arka, Ibu biasanya akan cerita jika ada acara atau dia akan pulang telàt, tapi kenapa hati ini Ibu tidak bercerita.


"Mungkin Ibuku lupa, lagi pula acara yang Oma buat hari ini cuma acara syukuran biasa yang mengundang anak beberapa anak yatim untuk datang ke rumah, semacam makan bersama dan memberikan sedikit bingkisan untuk mereka," Tuan Arka kembali menjelaskan acara apa yang di adakan Oma di rumah yang lebih mirip istana itu.


Sejenak aku berfikir, jika aku ikut Tuan Arka sekarang, aku bisa membantu pekerjaan Ibu sekaligus menemani Tania.


"Baiklah, aku ikut," jawabku.


Aku berjalan beriringan menuju mobil yang terparkir tak jauh dari tempatku berhenti tadi.


"Kamu mulai pintar berbohong Senja, memakai nama Oma dan Mama sebagai alasan perpisahan kita, tapi kenyataannya kamu memang memiliki laki-laki lain," suara Sam terdengar menusuk hati.

__ADS_1


__ADS_2