
"Apa tidak lebih baik kita pergi ke Mbok Min saja?" tawar Sam, dia selalu menawarkan untuk mengantar dan membayar jasa Mbok Min tukang pijat terkenal di daerahku.
"Boleh juga, badanku mungkin akan lebih baik setelah pijat nanti," jawabku yang merasa jika pijat jauh lebih baik dari pada langsung pulang dan tidur.
Sam langsung melajukan motor menuju rumah Mbok Min, yang sudah lama menjadi langgananku.
"Assalamualaikum," sapaku sesaat setelah sampai di rumah Mbok Min.
"Waalaikum salam," jawab Mbok Min.
"Mbok!" aku kembali menyapa sembari mencium punggung tangan Mbok Min yang menyambutnya dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Iya, ada apa, Nak?" sahut Mbok Min yang kini berjalan mendekat ke arahku, Mbok Min memang terlihat begitu tua, tapi kekuatannya untuk memijat masih sangat terasa, meskipun tak sekuat dulu tapi rasa lelah yang menguasai tubuhku bisa menghilang setelah mendapat pikiran dari Mbok Min.
"Ini mbok, Senja mau servis," sahut Sam yang selalu saja saja merasa senang jika sudah menggoda mbok Min.
"Oh Senja, ayo masuk!" Mbok Kin mengajak kamu untuk masuk ke dalam rumah menuju tempat di mana biasa pasien akan pijat.
__ADS_1
"Sudah lama tidak datang ke sini, apa semuanya baik-baik saja, Nak?" tanya Mbok Min saat aku sudah ada di ruangan khusus pijat, sedang Sam duduk manis di ruang tamu menunggumu seperti biasa.
"Alhamdulillah, semuanya baik Mbok," jawabku dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Apa Nak Senja sudah menikah dengan Den ganteng yang setia menunggu di depan?" Mbok Min kembali bertanya.
Pertanyaan Mbok Min membuatku kembali teringat dengan ungkapan hati Sam beberapa hari yang lalu, sungguh pernyataan itu membuatku merasa terbebani, pasalnya sampai saat ini aku masih belum bisa memberinya jawaban.
"Belum Mbok, menurut Mbok Min laki-laki yang ada di ruang tamu itu baik atau tidak untukku?" sungguh aku jadi salah tingkah setiap kali mengingat ungkapan hati Sam, bukan hanya salah tingkah, jantungku juga berdetak lebih kencang dari biasanya.
"Dia laki-laki yang baik Nak, Mbok Min bisa melihat binar cinta dari matanya dan binar itu tak pernah padam ataupun berubah dari dulu sampai saat ini, meskipun Mbok tahu jika ada banyak hal yang pasti sudah kalian lalui, tapi binar cinta yang terpancar dari matanya tak pernah surut atau bahkan berkurang," Mbok Min terlihat begitu serius dan jujur saat mengatakan semuanya padaku dan aku yang mungkin terlalu polos atau tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi hanya diam tanpa tahu yang sebenarnya.
"Jangan terlalu banyak berfikir ataupun memilih, Nak! jodoh itu sudah ada yang ngatur, kita tinggal berdoa dan berharap kepada Allah swt, pasrahkan padanya kita tinggal melakukan yang terbaik untuk hidup ini," Mbok Min sering sekali mengingatkan setiap hal yang memang perlu aku ingat.
Aku yang tak lagi bisa menjawab hanya tersenyum tanpa bisa berucap, dan senyuman yang aku tunjukkan memiliki banyak arti. Mbok Min tak lagi bertanya setelah melihatku diam dan tak lagi menjawab ucapannya, Mbok Min memijatku dengan pijatan lembut dan penuh kehati-hatian, Mbok Min benar-benar ahli dalam hal menyembuhkan setiap sakit yang sedang bertamu di dalam tubuhku.
"Sudah, Nak," ujar Mbok Mon setelah selesai memijatku.
__ADS_1
Aku yang merasa jauh lebih baik langsung duduk dan memakai baju yang tadi sempat aku lepas kemudian mengembalikan sarung yang aku pinjam untuk pijat.
"Rasanya jauh lebih enak'an dari sebelumnya, pijatan Mbok Min memang tidak pernah ada duanya," ucapku sambil tersenyum manis ke arah Mbok Min yang kini ikut tersenyum ke arahku.
"Ini sarennya, terima kasih Mbok," ucapku sambil meraih tangan Mbok Min sambil meneri-' menyelipkan saru lembar uang berwarna biru yang aku berikan bersamaan dengan mencium punggung tangannya.
"Sama-sama," jawab Mbok Min sambil menyimpan uang yang tadi aku berikan.
Aku berdiri setelah memakai seluruh baju yang tadi sempat aku lepas, berjalan keluar kembali bergabung dengan yang lain.
"Apa kamu sudah selesai pijatnya?" tanya Sam yang saat ini masih setia duduk di tempatnya tadi.
"Sudah, sekarang kita bisa pulang," jawabku yang tidak ingin terus-terusan merepotkan anak orang lagi.
Mendengar jawabanku Sam yang sejak tadi menikmati duduk di kursi langsung beranjak berdiri menghampiriku berlagak seolah ingin memberikan upah atas apa yang sudah di kerjakan oleh Mbok Min.
"Sudah, ayo pulang!" Sam yang mengerti kedipan mata yang terlihat di wajahku memilih mengurungkan niatnya untuk memberikan upah yang memang biasanya dia yang memberikannya.
__ADS_1
"Ada apa ini?" tanya Mbok Min saat melihat aku dan Sam sedang berdiri berdampingan dan tengah meributkan sesuatu, Mbok Min yang baru saja keluar dari ruangan di mana tadi aku pijat.