
tak terasa sudah tujuh hari kepergian dari Adri, semua orang mulai beraktivitas seperti biasa, begitupun dengan Aslan.
kali ini dia bisa ikhlas dengan semuanya, jika dulu dia ingin mati karena kehilangan ibunya.
kali ini dia pasrah karena kedua orang tuanya sudah bahagia bersama.
Adit sedang sibuk sekali, sudah dua hari ini dia tak menghubungi Lily maupun keluarganya.
"kenapa putri mami yang cantik ini cemberut?"
"itu mi, sudah dua hari mas Adit menghilang, bahkan di tahlilan terakhir yang di adakan di rumah kakek buyut dia tak datang. dan ponselnya selalu sibuk dari pagi, sebenarnya dia itu kemana?" kata Lily dengan sedikit marah.
"wah mas Adit punya yang baru tuh, mungkin dia lelah menghadapi wanita seperti mbak Lily," saut Linga yang sedang sarapan.
"apa sih kok ngomong gitu, memang mbak seburuk itu ya," kata Lily yang tiba-tiba menangis.
Linga yang melihat reaksi kakaknya itu heran, pasalnya Lily biasanya akan langsung mengamuk, "ya elah aku bercanda tapi mbak nangis duluan dong,"
"Linga kok suka sekali sih menggoda mbak mu, sudah Lily mungkin Adit benar-benar sibuk, ini papi kalian juga sudah menghilang dari subuh," kata mami Tasya.
"apa sih mi, papi cuma dari tempat mas Faraz ada sedikit masalah, ini kenapa sudah besar masih cengeng gitu," kata papi Arkan duduk di meja makan.
"mami lihat papi sama saja," kata Lily yang makin terisak.
"sudah kamu tenang dulu," kata mami Tasya yang mencoba membuat putrinya itu diam.
"mbak mu kenapa Linga?"
"sedih karena mas Adit gak bisa di hubungi, ponselnya juga terus sibuk, dan mbak Lily merasa di buang," kata Linga menjelaskan.
papi Arkan hanya mengangguk saja, kemudian dia sarapan baru kemudian mengantarkan Linga ke sekolah.
"nanti pulangnya sama Shafa atau minta jemput mami ya,"
"siap papi, tapi minta tambahan uang saku ya," kata Linga.
papi Arkan pun memberikan uang dua puluh ribu pada putranya itu, dan bocah itu langsung pergi.
setelah melihat kepergian dari Putranya itu, dia pun langsung menuju ke tempat acara besok di laksanakan.
rumah mewah itu sudah siap sedemikian rupa, hari ini adalah acara selamatan rumah baru Adit.
__ADS_1
di rumah itu di adakan khataman Al Qur'an, dan pria itu memanggil catering untuk menghemat waktu.
beberapa warga juga membantunya, "bagaimana semuanya le, apa sudah beres?"
"Alhamdulillah sudah papi, besok juga sudah bisa di lakukan pernikahan secara sederhana, dan aku juga memastikan jika semua surat telah selesai," kata Adit.
"bagus, dan papi tak menyangka kamu akan secepat ini menikahi Lily,"
"lebih baik duluan, dari pada nanti keduluan om Nino dan Tante Husna, bisa nunggu setahun lagi, dan aku tak ingin terjadi karena aku ingin bebas mengajak Lily jalan-jalan kemana pun," kata Adit.
"dasar kamu ini," kata papi Arkan
sore hari sudah mengkhatamkan Al Qur'an sebanyak dua kali, setelah itu semua undangan pun datang untuk membaca tahlil bersama.
dan sekalian melakukan selamatan sebelum acara pernikahan besok, semua orang tak mengira jika pria itu menyiapkan semuanya sendiri.
sedang di rumah lama keluarga papi Arkan juga sudah selesai semua persiapannya.
ya dia tak memberitahu keluarganya jika rumah mereka sudah selesai, dan akan menjadikan pernikahan Lily pertama kalinya di rumah baru itu.
bahkan tenda dan semuanya sudah terpasang dan pelaminan sederhana juga sudah siap di gunakan.
"jam delapan mas, karena pernikahan mulai jam setengah sembilan, semuanya tinggal berangkat, karena semua hantaran sudah di sediakan, dan seragam ya mas Mali dan mbak Retno tolong bagikan seragamnya untuk semua yang ikut besok," kata Adit.
semua pun merasa senang pasalnya itu adalah seragam untuk pernikahan Adit, meski pria itu bilang acara pernikahan sederhana.
tapi dari apa yang di bagikan mungkin itu tak akan sesederhana yang terlihat.
sedang di rumah papi Arkan, pria itu membuat putrinya menangis dan istrinya itu marah besar.
"bagaimana papi melakukan ini, Lily hanya akan menikah dengan pria yang dia cintai, bukan perjodohan seperti ini, mami akan membawa Lily pergi jika papi terus memaksanya," suara mami Tasya.
"silahkan saja, jika kalian berani keluar dari sini berarti aku sudah menjatuhkan talak tiga padamu, dan Lily tugas sebagai seorang putri itu menurut pada orang tuanya, dan Deni seorang pria yang tak jelas asal usulnya kamu berani menentang papi sampai sejauh ini?"tanya Arkan.
"tapi papi, papi tau jika aku hanya mencintai mas Adit, tolong jangan lakukan ini padaku Pi," mohon Lily.
"papi tak mau dengar lagi, jika kamu tak mau menikah besok, jangan berani memanggil ku papi lagi, dan kamu seharusnya jadi istri juga tau batasan mu Tasya," kata papi Arkan
mami Tasya pun diam, dia tak mengira jika Suaminya itu sangat keras kepala.
"mami..."
__ADS_1
"sepertinya memang kita tidak bisa melakukan apapun lagi Lily, kita harus ikuti semua keinginan dari papi," jawab mami Tasya.
"tapi mami... aku hanya ingin menikah dengan mas Adit..." kata Lily sedih
sebuah pesan masuk dan itu adalah seorang gadis yang mengirimkan foto Adit sedang berdiri dan tersenyum bahagia bersama dengan seorang wanita.
"maaf Lily, dia sudah menjadi milik seseorang, dan sepertinya kamu di buang ya, jadi lupakan saja..." pesan itu.
Lily pun jatuh pingsan setelah membaca pesan itu, mami Tasya kaget melihat putrinya itu,"papi...."
Adit pun datang dan kaget melihat putrinya, dia langsung mengendong Lily dan menaruhnya di kamar gadis itu.
dokter di panggil untuk memeriksa kondisi Lily, dan terpaksa papi Arkan jujur pada istrinya karena kondisi sudah sedikit keos.
mami Tasya memukuli suaminya kesal, dia tak mengira jika ini semua hanya prank tapi malah membuat Lily syok.
"dokter bagaimana kondisi putri saya?" tanya papi Arkan.
"dia hanya terkejut, tapi tolong jangan membuatnya tertekan, dan minta dia istirahat, dan ini resep yang harus di tebus,"
"terima kasih dokter," jawab papi Arkan.
Lily perlahan sadar, mami Tasya memeluknya, "mami... dua meninggalkan ku, aku harus apa sekarang..."
"ikuti permintaan papi mu, karena kamu bisa membalasnya seperti ini, karena dia sudah menghina keluarga kita,"
"iya mami... tapi bagaimana jika aku tak mencintai pria pilihan papi?"
"lihat mami dan papi datang,dulu jami juga tak saling mencintai tapi hanya cinta sepihak, tapi karena kesungguhan mami akhirnya papi mu menyerah, dan mami yakin kalian akan jadi pasangan yang sempurna,"
Lily pun mengangguk, Adit yang mendapatkan kabar tentang Lily sedikit khawatir.
tapi dia dan papi Arkan sudah merencanakan semuanya jadi tak boleh ada yang salah.
jadi sekarang dia hanya bisa menahan diri saja, Lily benar-benar tak nafsu makan dan tak bisa tidur.
tapi beruntung Linga satu-satunya adiknya yang pengertian, bocah itu membawakan semua makanan pinggir jalan kesukaan Lily.
"mbak makan ya, kan gak lucu jika mbak menikah dan pingsan, terus apa mbak bisa melihat papi dan mami malu ..."
"iya iya... dasar cerewet," jawab Lily.
__ADS_1