Lily

Lily
pengantin pria


__ADS_3

keesokan harinya Lily sudah selesai di make up, dia bahkan terlihat begitu cantik dengan balutan kebaya putih.


dia beberapa kali terisak karena impiannya menikah sudah hancur begitu saja.


mami Tasya masuk dan menenangkan putrinya itu, pukul delapan pagi mereka berangkat ke tempat acara.


semua orang tampak bahagia,dan berbanding terbalik dengan Lily yang merasa sesak, dia ingin sekali lari dari pernikahan ini.


bahkan rumah baru keluarganya itu akan jadi jenangan paling kelam baginya mungkin.


pernikahan paksa yang tak dia inginkan, tapi dia harus kemana, karena pria yang dia cintai sudah tak memperdulikannya lagi.


Riya pun datang dan melihat teman itu, "sudah dong nanti make up-nya luntur kalau kamu terus nangis, aku jamin kamu akan sangat bahagia nanti, jadi jangan sedih ya, mungkin ini memang jalan Allah," kata Riya.


"tapi pernikahan impianku dan pasangan yang aku cintai dalam sehari semuanya hancur, aku harus bagaimana?" tanya Lily sedih.


"yakinlah pasti akan bahagia setelah ini, sudah jangan menangis, akad nikah akan segera di mulai," kata Riya.


semua data sudah di cocokkan, Adit juga sudah duduk berhadapan dengan papi Arkan.


ustadz Faraz dan Aditya yang menjadi saksi pernikahan, "mas Aditama tolong maharnya apa saja?"


"uang tunai tiga puluh juta, satu set perhiasan emas seberat tiga puluh gram dan juga seperangkat alat sholat dan Alquran," jawab Adit.


"pengantin wanita menerima," tanya pak penghulu.


"menerima karena itu adalah keinginan pengantin wanita pak," jawab papi Arkan.


"baiklah kalau begitu, akan nikah bisa di lakukan, bapak Arkana Rakasa Noviant selaku wali akan menikahkan putrinya sendiri, silahkan di mulai," kata penghulu.


Lily yang berada di kamar pengantin pun harap-harap cemas, dia ingin dengar nama pria yang akan menikahinya.


"bismillahirrahmanirrahim....


Ananda Aditama Cakra Hadikusumo bin Cakra Hadikusumo saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Putri kandung saya Lilyana Arkana Gilbert, dengan mas kawin, uang tunai tiga puluh juta, satu set perhiasan emas seberat tiga puluh gram dan juga seperangkat alat sholat dan Alquran di bayar tunai,"


"saya terima nikah dan kawinnya Lilyana Arkana Gilbert binti Arkana Rakasa Noviant dengan mas kawinnya yang tersebut tunai," jawab Adit dengan lantang.


Lily tak percaya dengan apa yang di dengarnya, tota tersenyum melihat reaksi teman sekaligus keponakannya itu, "selamat menjadi nyonya Aditama, Lily..."


"berarti..." kata Lily masih gagap karena terlalu terkejut.

__ADS_1


"iya nak, Adit yang kamu cintai yang menikahi mu, dan yang mengucapkan ijab Kabul,dan semua yang terjadi dua hari ini adalah ide gila papi mu," kata mami Tasya.


Lily pun masih tak percaya dia menjadi istri dari Adit dengan cara seperti ini.


"sudah kagetnya nanti saja, sekarang kita keluar dan silahkan temui suamimu," kata mami Tasya.


Lily pun di apit oleh mami Tasya dan juga umi Kalila, sedang Riya mengendong bayi Abrar.


dadi kejauhan Lily bisa melihat pria yang dia cintai masih menandatangani beberapa dokumen di depan penghulu.


sedang papi Arkan sudah tersenyum dengan wajah mengesalkan, pasalnya dia tau jika putrinya itu sudah drama dari pagi.


"bagaimana pilihan papi Lily... kualitas unggul nih," kata papi Arkan.


"papi menyebalkan," jawab Lily yang memancing tawa semua orang.


Adit pun juga ikut tersenyum, "mas Adit, apa ini bener pengantin wanitanya, mbak Lilyana?"


"inggeh pak penghulu," kata Adit tersenyum ke arah Lily.


mendengar itu Lily pun malu, dia menandatangani semua surat dan kini Keduanya sudah sah.


Adit memakaikan cincin ke jari manis istrinya, "loh kok gak nangis lagi, semalem kamu nangis sampai mogok makan loh," ledek papi Arkan.


"kenapa kok mogok makan, gak mau menikah dengan ku ya," kata Adit berbisik.


"habis mbak Lily gak mau nikah soalnya, calon suaminya tua, jelek dan pendek terus perutnya buncit," saut Linga.


"benarkah,aku seperti itu di mata mbak mu dek?" kata Adit yang tak kalah iseng.


"ya Allah... itu karena kalian menipu ku, papi bilang aku mau di nikahkan sama temannya," jawab Lily.


Adit pun tersenyum dan mengusap kepala Lily, "maaf ya, habis mas ingin membuat kejutan,"


Adit mulai berdua sambil memegang kepala Lily dan kemudian dia mencium kening Lily.


setelah itu malah Arkan yang menangis sambil memeluk istrinya, "papi kenapa?"


"putri kita ilang mi, di ambil Adit..."


"astaghfirullah hal adhzim Arkan, malu sama umur woy, sumpah bukan adikku," kata ustadz Faraz malu.

__ADS_1


pernikahan pun berlanjut dengan resepsi pernikahan yang di bilang sederhana oleh Adit dan Arkan adalah pesta dengan pelaminan berukuran dua belas meter dan lebar lima meter, ada hiburan organ tunggal dan semua makanan ada sepuluh jenis.


"bagaimana kalian berdua menyiapkan ini?" tanya mami Tasya yang masih penasaran.


"semua serba bisa kalau ada uang sayang," jawab papi Arkan.


ternyata Oma utami dan opa Alan datang dan bertindak sebagai orang tua adit.


setelah semua tamu datang, dan menikmati acara yang berlanjut hingga malam hari.


karena semua tamu undangan datang, ya Adit dan papi Arkan bukan orang biasa.


bahkan tamu rata-rata orang kaya dan juga kalangan atas, pukul sebelas malam akhirnya tamu pun usai.


Lily sudah mencoba berganti baju karena baju yang dia kenakan sore itu adalah gaun yang begitu berat dan besar.


Lily masih tak percaya jika dia susah menikah dengan Adit, dan yang mengejutkan semua teman kuliahnya datang.


bahkan jajaran petinggi di kampus juga, dan hari itu banyak yang patah hati karena gadis paling cantik di kampus sudah menikah.


Adit baru masuk kedalam kamar dan melihat Lily kesulitan, "butuh bantuan dek?"


"boleh mas," jawab Lily.


setelah merasa bisa sendiri, dia pun langsung masuk kedalam kamar mandi, sedang Adit tak mengira jika kamar Lily di hias secantik ini.


"papi ini benar-benar kok... sudah di bilang kamarnya tak usah di hias," gumamnya mengambil bunga mawar di vas bunga.


Lily keluar dengan mengenakan gamis yang sederhana dan jilbab yang terlihat pantas untuk gadis itu.


"kamu cantik dek,"


"terima kasih mas, lebih baik mas ganti baju, biar aku membereskan semuanya ini dulu," kata Lily.


dia pun mulai merapikan semua gaun pengantin dan semua hantaran pernikahan yang di berikan Adit.


bahkan semua isi hantaran adalah barang-barang kesukaannya semua, "mas Adit memang tak mengecewakan aku sebagai istrinya,"


Adit keluar dengan sarung dan kaos oblong biasa, tapi pria itu malah terlihat begitu maskulin.


"mas mau di ambilkan makan," tanya Lily.

__ADS_1


"tentu, tapi lebih baik kita makan bersama ya," jawab Adit yang mengandeng tangan istrinya itu untuk keluar.


__ADS_2