
Adit sedang membaca buku, Lily keluar dengan penampilan barunya, dan membuat semua orang kaget.
pasalnya dia keluar dari dalam kamar dengan gamis lebar dan juga hijab yang menutup auratnya.
"sayang kamu sangat cantik," puji mami Tasya melihat putrinya itu.
"terima kasih mami... sekarang aku ingin belajar menjadi seseorang yang lebih baik lagi, tapi dimana suamiku kok tidak kelihatan?"
"tadi setelah duduk bersama opa dan membicarakan pekerjaan, dia duduk di teras sambil membaca buku sepertinya."
"terima kasih atas informasinya mami, aku panggil mas Adit dulunya," kata Lily.
dia pun berjalan mengendap-endap ingin mengejutkan suaminya itu, tapi dia lupa di kakinya ada gelang kaki yang bisa berbunyi gemerincing.
"mau apa kamu sayang, ingin mengejutkan suamimu ini?" tanya Adit yang menoleh dan kaget melihat penampilan Lily.
"aku memang selalu tak bisa mengejutkan mu," kata Lily dengan nada kesal
"karena suara gelang kaki mu itu, bukankah sebaiknya di lepas,"
"tapi aku menyukainya tapi aku akan membuat gelang kaki itu tak gemerincing lagi di kaki tapi di pinggang bagaimana, gabis itu kan hadiah dari mas Adit," kata Lily.
"terserah kamu, tapi jujur aku jadi selalu tau kamu di sekitarku karena gelang kaki itu," kata Adit menarik tubuh istrinya itu hingga jatuh ke pangkuannya.
"maaf nih ya mami ganggu, mami mau ke rumah sakit karena sepertinya Oma kalian harus melahirkan dengan operasi sesar, dan titip Linga ya, dia tidur dan mami tak enak membangunnya," kata mami Tasya.
"siap mami," jawab Keduanya.
mereka berdua pun memutuskan untuk sholat isya' berjamaah di apartemen.
setelah itu tak lupa Adit dan Lily mengaji sebentar, tapi saat keduanya sedang membaca Alquran.
tiba-tiba Lily mimisan dan itu cukup banyak dan membuat Adit kaget, "kamu kenapa dek,"
dia pun mengambil tisu untuk Lily, "sepertinya aku kelelahan saja mas, karena belakangan ini kuliah ku cukup padat,"
"kita ke rumah sakit ya," mohon Adit melihat kondisi Lily.
"tidak usah, aku baik-baik saja, lagi pula aku sudah terbiasa seperti ini dari kecil, sudah tenang mas jangan panik begitu," kata Lily mencoba membuat Adit lebih tenang.
dari kejauhan ada Ki Dwisa yang menang selalu ikut Adit kemana pun, "sayang aku boleh bertanya sesuatu?"
__ADS_1
"apa itu mas,"
"apa kamu benar-benar tidak bisa melihat sosok-sosok di sekitar mu lagi,"
"ah itu ... sepertinya sebelum kita menikah aku sudah tak pernah lagi bisa melihat sosok makhluk astral deh," jawab Lily yang tersenyum saja.
akhirnya mimisan pun berhenti, dan Adit mengajak Lily pulang ke apartemen miliknya bersama Linga.
"kamu tidur di kamar ya, mas mau menidurkan Linga dulu," kata Adit.
"ah aku akan menunggu mu," jawab Lily.
setelah menidurkan Linga, keduanya pun masuk kedalam kamar, Lily tidur di dada Adit.
"mas sebenarnya aku ingin bilang ini, aku ingin cuti kuliah dan fokus menjadi istrimu, jika kita sama-sama sibuk bagaimana kehidupan rumah tangga kita," kata Lily yang merasa tak enak
"tak masalah dek, aku akan mencoba sebaik mungkin mengatur waktu ku untuk mu, tapi jika itu keinginan mu, aku akan meridhoi semua pilihan mu," bisik Adit.
"baiklah kalau begitu, terima kasih ya mas," jawab Lily yang ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan suaminya itu.
malam itu Adit dan Lily sudah beristirahat dengan nyenyak, Lily bahkan tak ingin jauh dari suaminya itu.
"jadi siapa nama bayi tampan ini?" tanya mami Tasya.
"Mikhael Djanuar Gilbert," jawab opa Alan.
"maaf nih ya, kenapa namanya berunsur nama asing semua yah?" tanya papi Arkan.
"seperti halnya Lily, dia adalah pewaris Gilbert Corps, jadi dia akan menjadi kebanggaan ayahnya,"
"ayah kenapa mengatakan pada bayi yang baru lahir seperti itu, jika di dengar musuh ayah, bukankah itu akan membahayakan dia," kata mami Tasya mengingatkan.
"iya maafkan ayah, bukan niatnya seperti itu, ayah hanya tak mengira akan mendapatkan hadiah terbaik dari Tuhan setelah semua yang di lalui."
"iya ayah," jawab keduanya.
baby Mike kemungkinan besar akan di boyong ke Singapura oleh opa Alan dan istrinya.
karena mereka ingin semua yang terbaik untuk untuk putra dari keluarga Gilbert itu.
Tasya tak keberatan dengan Kebahagiaan yang sedang di rasakan oleh ayahnya
__ADS_1
terlebih dia dan papi Arkan juga sudah bahagia dengan semua yang dia sudah memiliki.
Lily terbangun saat pukul satu malam, dia mengambil beberapa obat dan meminumnya.
Ki Dwisa memperhatikan gadis itu yang sepertinya menahan rasa sakit yang sangat besar.
"apa kamu sakit?" kata Ki Dwisa.
"entah di sini ada siapa aku tak bisa melihat kalian, tapi tolong jangan mengatakan hal apapun pada mas Adit, aku hanya sakit kepala saja, dan tolong jangan membuatnya menahan beban berat lagi," kata Lily begitu saja.
"mbak Lily ngomong sama siapa?" kata Linga yang baru bangun dan mengosok matanya.
"kamu kok sudah bangun, memang ada apa? apa kamu merasa lapar?" tanya lily pada adiknya itu.
pasalnya Linga tadi tidak ikut makan malam karena sudah tertidur karena kelelahan
dia menemani Linga makan malam itu, Lily bahkan juga sempat makan sesuatu juga.
setelah itu dia kembali ke kamar untuk istirahat sedang Linga merasa aneh dengan ki Dwisa
"apa anda lapar, masih ada ayam goreng," tawar bocah itu.
"tidak, aku pergi dulu," kata siluman ular itu.
keesokan harinya, Adit sudah siap pulang bersama Lily dan Linga, pasalnya mereka harus mulai kembali ke kesibukannya masing-masing.
sedang Linga juga harus sekolah jam tujuh pagi ini, jadi Adit memutuskan pulang sebelum subuh setelah mengabari kedua orang tua mereka yang memutuskan untuk menginap sehari lagi.
mereka pun sampai pukul enam pagi di rumah Adit, karena Linga akan tinggal bersama mereka selama mami Tasya dan papi Arkan berada di Surabaya.
"mau beli sarapan apa pagi ini?"
"tak usah beli, di kulkas ada bumbu pecel tinggal mengaduknya dengan air panas, dan ada juga daging ayam tinggal goreng, jadi simpel kan," nata Lily.
"baiklah nyonya rumah, tolong buatkan suamimu ini dan adik mu, sarapan yang sehat ya," kata Adit
"tentu mas, ayo kalian siap-siap ke untuk berangkat ke sekolah, dan aku nanti mungkin akan mengajukan izin cuti sedikit siang," kata Lily.
"tunggulah aku pulang,aku akan mengantar mu karena kebetulan aku nanti akan ada urusan di kampus juga," kata Adit.
"baiklah mas, kalau itu perintah anda, aku akan ikut," jawab Lily.
__ADS_1