
siang itu mereka semua duduk bersama dan makan siang bareng, Aditya terus melihat ponselnya selama makan.
Rania yang melihat suaminya pun sedikit mengerti, "taruh dulu mas, tak enak dengan mas Raka,"
"maaf tapi perasaan ku tak enak," jawab Aditya.
Aditama mencuci tangannya, "Aslan, tolong cuci tangan mu sebentar, dan setelah itu ambillah air wudhu,"
Aslan pun menurut,dia pun kembali setelah mengikuti perkataan Aditama.
Aditama menyentuh pundak dari pemuda itu, "bicaralah, nenek buyut ingin berbincang dengan mu," lirihnya.
semua orang kaget, papi Arkan, Lily tak bisa melihat sosok itu, tapi bagaimana hanya pria itu.
tapi Adit merubah pupil matanya menjadi merah darah, dan perlahan air mata pun keluar.
"assalamualaikum bunda... Aslan kangen bunda..." tangis Aslan melihat ke salah satu pokok rumah.
"bunda juga kangen Aslan, nak jangan sedih, meski kita di pisahkan oleh hidup dan mati, tapi bunda selalu mengawasi Aslan, sekarang Aslan harus mengikuti semua ucapan dari kak Rania ya, dan juga om Raka, karena bunda sudah mau menjemput ayah... maaf kami tak bisa menyaksikan kamu bahagia sampai akhir, kami harus meninggalkan mu sendirian," kata wanita itu.
"tidak... jangan bawa ayah, kalau ayah juga pergi, terus Aslan sendirian disini..." tangis pemuda itu.
Aditama mengulurkan tangannya pada Rania, dan otomatis wanita itu juga melihat sosok wanita cantik itu.
"mbak,aku titip adik mu ya, waktu ku sudah tak banyak, sekarang pulang dan temani ayah kalian,"kata arwah itu dengan suara yang terdengar sedih.
"jangan bunda, Rania belum siap kehilangan ayah...." tangis Rania juga pecah.
Aditama sudah tak bisa menahannya lagi, bahkan kini air mata itu sudah berubah menjadi darah bukan lagi air.
"Aditama biarkan mereka sadar, kondisi ayah kritis," kata Aditya panik.
Adit pun melepaskan tangannya, dan papi Arkan menahan tubuh dari Putranya itu
"kita semua pergi ke sana," kata ayah Raka.
semuanya pun pergi dan meninggalkan rumah begitu saja, tapi dia ingat jika tak baik jika Riya dan umi Kalila ikut.
jadi keduanya di minta menunggu di rumah, dan yang lain pergi ke rumah keluarga Rania
__ADS_1
mereka pun masuk, Aslan sudah menangis mengenggam tangan Adri yang sudah sakaratul maut.
Adit pun mendekat dan membisikkan kalimat syahadat dan perlahan pria itu menghembuskan nafas terakhirnya.
"ayah!!!" teriak Aslan dan Rania.
mereka tak mengira jika Adri hanya bertahan setahun dari kematian Nurul.
sore itu, jenazah akan di makamkan di samping makam istrinya, dan semua berjalan dengan lancar.
saat memandikan jenazah, Aditama, Aditya dan Radi yang memangku jenazah dari Adri.
setelah itu ketiganya langsung berganti pakaian, sedang ayah Raka, papi Arkan dan ustadz Faraz mengkafani jenazah.
sedang Aryan ada di pemakaman desa untuk memastikan semuanya selesai.
ustadz Faraz menjadi imam sholat jenazah untuk yang pertama, kemudian Adit menjadi imam untuk sholat yang kedua karena ada rombongan pelayat yang baru datang.
setelah itu, pukul lima sore keranda pun mulai di angkat dan siap untuk di berangkatkan ke pemakaman desa.
Rania terus menangis melihat kepergian sang ayah, begitu pun dengan Aslan, Radi juga tak bisa menahan air matanya.
"ayah!!! jangan pergi!!!" teriak Asian yang tak bisa melihat segalanya terjadi.
"ayah..." akhirnya pemuda itu jatuh pingsan.
Rania juga tumbang, akhirnya suasana di rumah cukup riuh, Amma Wulan tak mengira akan kehilangan salah satu dari orang yang sangat di tuakan dan menjadi penasehat terbaik di rumah.
kini semua yang sepuh sudah di panggil sang pencipta, dan kini dia memiliki dua anak lagi yang harus terus mendapatkan bimbingan.
terlebih Aslan yang memang masih sangat muda, dan dia akan membantu membesarkan pemuda itu bersama Rania.
sampai di pemakaman, Papi Arkan, Aryan dan Aditya yang turun ke liang lahat untuk menerima jenazah, setelah itu tanah di turunkan.
akhirnya pemakaman pun selesai, mereka semua kembali ke rumah dan terlihat sosok Rania dan Aslan yang masih sangat terkejut dengan kematian ayah mereka.
papi Arkan memberikan air minum yang sudah di doakan dan ustadz Faraz mendoakan keduanya.
malam itu Acara tahlilan akan di adakan selama tujuh hari kedepan, Adit dan Lily membeli kue untuk suguhan para warga yang datang untuk mengikuti acara tahlilan.
__ADS_1
mama Wulan juga tetap tinggal di rumah itu bersama dengan ayah Raka.
sedang ustadz Faraz pulang untuk mengantarkan Puti dan istrinya terlebih dahulu, begitupun dengan Aryan.
suasana sedih sangat terasa, Adit dan Lily terus menjadi orang yang di suruh-suruh.
mereka juga tak mengira jika usia dari opa mereka akan secepat ini menghadap sang pencipta.
"kamu sedih dek?"
"iya mas, aku tak mengira akan menyaksikan kakek buyut pergi, kasihan mas Aslan," kata Lily yang sedang duduk di samping Adit.
Adit mengajak keluarganya pulang dulu untuk kemudian ke sana lagi untuk mengikuti pembacaan doa bersama.
sedang Lily mungkin tak akan bisa membayangkan bagaimana dirinya akan bisa hidup saat di tinggalkan pergi oleh kedua orang tuanya.
terlebih dia dan Linga tak siap jika hanya hidup berdua, malam itu semua orang yang mengikuti tahlilan terlihat begitu khusyuknya.
setelah selesai, semua keluarga laki-laki memilih untuk begadang, dan tadi semua teman Aslan datang untuk mengucapkan belasungkawa atas kepergian ayah teman mereka.
"sudah Aditya, jangan larut dalam kesedihan, karena kepergian dari ayah mu mungkin sudah waktunya, setiap makhluk hidup pasti akan meninggal dunia, tapi saat kapan itu hanya sang pencipta yang tau, dan kita yang sebagai anak serta cucunya hanya bisa mengirimkan doa untuk semuanya," kata ayah Raka.
"iya mas, saya mengerti, dan saya akan menjaga amanah dari ayah mertua, Aslan tak sendiri, dia miliki aku dan Rania sebagai keluarganya,"
ayah Raka mengangguk dan dia yakin Aditya akan siap mengemban tugas menjadi orang tua dari Aslan.
saat beberapa orang mulai tidur, Aslan berlari ke arah makam desa, Adit yang tak sengaja melihatnya pun berlari mengejarnya.
dan ternyata pemuda itu tidur di antara kedua makam orang tuannya, dan terlihat begitu tenang.
Adit mengunakan saring yang dia kenakan dan menyelimuti pemuda itu, dia pun duduk dan menemani Aslan.
karena dia tau benar bagaimana perasaan kehilangan, setidaknya Aslan masih memiliki keluarga, sedang dia dulu tak memiliki siapapun.
"kami semua akan menjaganya, kalian bisa pergi dengan tenang," gumam Adit.
kedua orang itu kemudian pergi, Adit bisa melihat ada pasar hantu tapi dia tak menggubrisnya.
karena keselamatan Aslan nomor satu, karena pemuda itu bisa saja terluka jika Adit meninggalkannya sendiri.
__ADS_1