Lily

Lily
kamu bukan lawan ku.


__ADS_3

Adit menunggu setiap wali yang akan datang, Rania yang kaget karena di panggil ke sekolah untuk Aslan.


dia sampai bersamaan dengan ayah Raka yang juga datang, baru kali ini dia menginjakkan ke sekolah karena kenakalan anaknya.


biasanya dia datang untuk mendapatkan ucapan selamat atas prestasi anak-anaknya.


pria itu datang dengan wajah dingin seperti biasa, Adit pun menyapa bagaimana pun dia itu adalah kakeknya.


"sebenarnya ada apa ini Adit? kenapa kami di panggil seperti ini, jangan bilang nih dua bocah Nikon ulah ya," kata Rania menunjuk Radi dan Aslan.


"kita masuk dulu, karena salah satu orang tua murid juga sudah di dalam," kata Adit.


mereka masuk dan orang tua yang sudah datang kaget melihat Rania dan ayah Raka


"juragan Raka, ada apa ini dan ke apa juragan juga kesini?" sapa pria itu hormat.


"kalian di panggil kesini karena ketiga siswa ini melakukan sesuatu yang sedikit kurang pantas," kata Adit.


ayah Raka melihat Aluna yang sudah ketakutan, Aslan menariknya dan melindungi gadis itu.


"apa yang mereka lakukan?" tanya Rania yang tak sabar ingin menjewer kedua pemuda itu.


"Aslan dan Reno terlibat pertikaian hingga baku hantam, dan itu di sebabkan oleh video yang Reno ambil bersama teman-temannya, dan itu yang memancing keributan itu," terang Adit.


"tapi apa salah Aluna di sini," kata ayah Raka.


"maaf eyang, sebaiknya anda lihat lebih teliti gadis yang ada di video, Reno menghina Aluna karena video itu, dan ?Aslan tak terima,"jawab Adit lagi.


ayah Raka melotot tak percaya dengan apa yang di lihatnya, putrinya yang di didik dengan agama dari kecil ternyata seperti ini di luar rumah.


"kami selaku pihak sekolah akan memberikan sanksi tegas berupa skors tiga hari, dan anda semua sebagai wali murid untuk melakukan bimbingan di rumah, dan setelah itu mereka di izinkan bersekolah dan di harap tidak melakukan hal buruk itu lagi," kata Adit.


"baiklah kalau begitu, Aluna aku ikut mobil Rania bersama Aslan, ayah k


harus menenangkan diri dulu," kata ayah Raka.


"baik ayah... Aluna minta maaf.." lirih gadis itu yang kemudian si ajak pulang oleh Rania.

__ADS_1


Adit mengerti jika pria itu syok mendapatkan kenyataan dr uruk ini, putri yang dia sayangi malah ikut terseret dengan hal seburuk ini


"apa kamu sudah melihat kejujuran Aluna?"


"sudah eyang, dia jujur, dia hanya mencoba merokok sekali, tapi kemudian dia hanya menemani teman-temannya yang sedang pesta miras," jawab Adit yang menyuguhkan air pada pria itu.


"ya Tuhan... gadis itu terlihat pendiam tapi bisa sejauh ini, terus bagaimana dengan semua murid yang ada di dalam video,"


"dapat hukuman yang sama, karena aku tak ingin membeda-bedakan mereka eyang," jawab Adit dengan tegas .


"terima kasih kalau begitu, sepertinya aku akan memindahkan Aluna ke pondok Faraz saja, setidaknya dia bisa fokus belajar agama," kata ayah Raka.


"jangan begitu eyang, bagaimana jika eyang tanyakan saja dia ingin apa, jika dia ingin mondok maka eyang bisa mengirimnya, tapi jika ingin tetap di sekolah umum biarkan tapi kita harus ekstra menjaga dia," usul Adit.


"baiklah kalau itu menurut mu yang baik, aku akan melakukannya sesuai perkataan mu,semoga aku tak emosi saat sampai rumah," kata ayah Raka.


Adit mengangguk, dia pun menyelesaikan semuanya hari ini, sedang dari lantai tiga sekolah, ada pak Ari yang tersenyum mengejeknya.


"jangan sampai kamu terpleset jatuh," gumam Adit tersenyum menyeringai.


dia pun memeragakan seseorang jatuh dari lantai tiga dan kepalanya pecah.


"aku bisa membunuhnya, setidaknya dia bisa jatuh dari sana dan kepalanya menghantam pot bunga paten itu lumayan bukan,"


"lakukan itu di luar sekolah, aku tak ingin sekolah ini tercemar lagi, cukup kejadian terakhir kali,"


Ki Dwisa tak mengira jika Adit sedikit berubah, terlihat anak-anak SD sudah mulai pulang.


Linga dan Shafa akan selalu datang ke ruangan BK untuk menunggu jemputan.


Shafa terlihat sedikit berlari, melihat itu Adit bangkit dan menahan Shafa, "ada apa?"


"mas Adit, itu kak Linga bawa kodok, dia menakuti ku," Adi gadis kecil itu.


"tidak mas, tuh tangan Linga kosong," kata bocah itu yang sudah melempar kodoknya ke arah pot bunga.


"Linga kecoa!" teriak Adit yang membuat bocah itu melompat sambil berteriak.

__ADS_1


"mana-mana dimana?" kata bocah itu ketakutan.


Shafa tertawa melihat itu, "kamu itu lucu, sama pocong dan sejenisnya tak takut, masa sama kecoa takut," ejek Adit.


"namanya juga geli mas, itu Shafa jangan peluk mas Adit terus nanti ketahuan mbak Lily dia marah Lo," kata Linga mengingatkan.


"tidak apa-apa, karena Shafa adik mas yang cantik dan baik, tidak seperti Linga ya," kata Adit dengan wajah mengesalkan


Linga langsung memasang wajah jutek melihat Adit mengendong Shafa, "biarin nanti aku laporin ke mbak Lily,"


"ya sudah laporin saja, tapi Linga gak akan dapat cemilan gratis, karena mas punya banyak di ruangan," kata Adit menggoda adiknya.


mendengar kata cemilan, Linga langsung tersenyum, "jangan gitu ya mas, mas Adit ganteng deh... Linga gak bakal aduin kok," jawab bocah itu.


"ha-ha-ha kamu lucu deh, sudah ayo ke ruangan mas, kita makan cemilan di dalam," ajak Adit.


mereka pun masuk dan benar saja ada dua bingkisan Snack yang di jual di pinggir jalan.


"wah aku mau yang cokelat," kata Linga melihat bungkusan itu.


"Shafa mau yang mana?" tanya Adit dengan lembut.


"apa saja mas, Shafa suka semua rasa kok, kata umi tidak boleh pilih-pilih makanan," kata gadis kecil itu.


Adit pun tersenyum, akhirnya ada opa Alan yang menjemput Keduanya pulang.


Adit pun mengantar mereka, dan ternyata pak Ari sudah jatuh dari tangga, "lihat musuh bodoh mu itu, kamu mengatakan sedikit saja, pasti jadi kenyataan,"


"aku tak peduli, toh dia yang menantang ku, karena mulut ku ini lebih tajam dari nata pisau," batin Adit menjawab ucapan Ki Dwisa


ternyata pak Ari jatuh mengelinding dari lantai dua dan kepalanya membentur tembok dan garis di larikan ke rumah sakit.


Adit dan Aditya hanya melihat semua orang panik, pasalnya dia jatuh juga karena kesalahannya sendiri.


"pak bon, tolong bersihkan bekas darah itu, dan pastikan jangan ada setetes pun darah yang tertinggal," kata Adit


"siap pak," jawab pak bon.

__ADS_1


sedang Aryan yang sedang tak berada di tempat juga mendapatkan kabar itu, tapi dia tak terlalu khawatir karena yakin jika pria itu tak akan mati.


__ADS_2