Lily

Lily
ucapan terima kasih


__ADS_3

setelah semua aman, Adit masih duduk di atas kap mobilnya, sambil memainkan pisau lipat miliknya.


Lily dan Riya masih di dalam rumah, dan Aryan meminta bantuan beberapa orang untuk mengawasi ruang mereka.


terlebih mereka harus menjalani perjalanan jauh dan menginap jadi setidaknya kedua orang itu bisa aman di rumah.


Adit masih berkutat dengan pikirannya, anand datang dan tak sengaja Adit langsung menodongkan pisau lipat miliknya.


dalam sepersekian detik, pisau itu tepat di leher anand dan bisa saja membunuhnya jika reflek Adit tak bagus.


"mas kamu ingin membunuhku, apa kamu sedendam itu padaku?" tanya Anand yang masih sedikit syok.


"tenang saja aku tak akan membunuhmu jika kamu tak melakukan kesalahan besar," kata Adit yang lompat dari kap mobilnya.


"apa mereka belum selesai?" tambah Adit bertanya.


"sepertinya sudah, Lily hanya sedang berbincang dengan kakek dan nenek dari Riya," terang Anand.


"baiklah, biar aku mengajaknya pulang," kata Adit yang langsung menghampiri adiknya itu.


dia langsung menghampiri Lily yang masih di dalam rumah, "maaf permisi, Lily mas masih ada pekerjaan jika kmu mau ikut pulang ayo, jika mu di sini nanti biar di antar Anand," kata Adit yang menyela pembicaraan.


"aku pulang mas, Mbah kung dan Mbah dok say pamit dulu ya, Riya aku pulang ya, maaf sudah menunjukkan hal mengerikan tadi," kata Lily yang berpelukan dengan tiga setelah menyalami kedua orang tua itu.


"iya gak apa-apa kok, kalian hati-hati ya," kata Riya mengantar kepergian keduanya.


Lily dan Adit langsung menuju ke rumah, setelah itu Adit langsung masuk kamar untuk bersiap sholat Magrib Krena waktu.


sedang Lily menuju ke dapur dan melihat Tasya yang masih sibuk, "mami sedang apa, ini sudah mau Maghrib loh, kenapa masih di dapur," tanya Lily.


"iya, mami sedang membuat ancak untuk di bawa ke mushola, kan ini Kamis malam jum'at, dari pada kamu cuma ganggu, mending bantu mami menata Semuanya," kata Tasya.


"siap mami," kata Lily penuh semangat.


Adit sudah siap dengan sarung hitam, baju Koko hitam dan peci hitam, tak lupa tasbih yang di kalungkan di lehernya.


"mami ancak siap?" tanya Adit.


Lily ingin tertawa melihat penampilan kakaknya itu, "mi ... ada ustadz nyaru dukun mi," kata Lily yang baru selesai menata semua makanan di tempatnya.


"ngawur ae, aku bukan ustadz, aku juga bukan dukun, cuma santri mblarah," kata Adit tertawa.

__ADS_1


"kalian ini bisa saja, kalau kedengaran sama ayah besar kalian bisa kena marah loh, sudah Adit bawa ke masjid, Lily bantu mas mu, Linga ayo cepat itu mas mau berangkat sama mbak," Panggil Tasya pada putra ketiganya itu.


"loh tapi untuk yang lain mami?" tanya Lily.


"sudah di bawa opa dan papi, sudah berangkat sana," kata Tasya.


Linga keluar dengan baju yang sama. dengan Adit, mereka pun sampai di Mushola.


Arkan langsung mengambil ancak yang di pegang Lily, segera pulang, sudah mau petang.


"iya papi," Jawab gadis itu.


Kamis itu keluarga arkan memang selalu mengeluarkan tiga ancak nasi beserta lauknya.


ada jajan pasar dan bubur sengkolo juga, tak lupa dengan kopi dan tehnya.


awalnya mungkin warga di sana heran tapi lama kelamaan mereka pun terbiasa.


bahkan kadang ada yang mengikuti cara mereka dalam melakukan kirim doa.


sholat Maghrib akan di laksanakan saat Arkan dan putranya Adit saling dorong untuk jadi imam.


"mas ayo biar bisa dan siap jadi imam," kata Arkan.


"Ndak papa mas Adit, Monggo silahkan kami suka dengerin mas Adit saat jadi imam kok," saut seorang bapak-bapak.


Adit pun tak bisa berkutik, dia melepaskan tasbihnya dan mulai berdiri di tempat imam.


suara Adit mulai mengalun indah membaca ayat suci Alquran dalam sholatnya.


suasana musholla sangat syahdu terasa, sedang di desa lama Adit ada santri yang di kirim khusus oleh Faraz sesuai permintaan dari keponakannya.


ada beberapa orang baru datang dan ikut sholat di mushola, setelah tiga rakaat shalat selesai, kini Adit mulai membaca ahli kubur yang di kirimkan doa.


setelah itu mereka semua membaca tahlil bersama untuk mendoakan para keluarga yang sudah meninggal dunia.


setelah selesai, Nino langsung menyalami Arkan dan membisikkan sesuatu, seorang pria berbadan kekar itu terus melihat Adit yang masih berdoa.


pria itu bersalaman dengan Arkan, "mas Adit pak Arkan mari ikut makan dulu," panggil takmur mushola.


"Nino dan mas Agra Monggo ikut makan dulu, Adit masih lama, karena dia akan berdoa cukup panjang," kata Arkan.

__ADS_1


mereka pun bersama-sama menikmati beberapa ancak nasi yang ada.


Linga duduk di samping Nino dan terus tertawa menganggu pria itu, tak lama Adit selesai dan langsung menghampirinya Arkan.


Arkan mengakhiri makannya,segera membersihkan tangannya, setelah itu dia duduk langsung menerima sungkem Adit dan tak lupa dia juga mendoakan putranya itu dan mencium kening Adit.


semua tak terkejut karena Arkan memang seperti itu dengan anak-anaknya.


"kalian ini keluarga yang harmonis ya, cuma sayang ini bocah kenapa nyebelin banget sih," kata Nino pada Linga.


"apa sih om, orang Linga gak ngapa-ngapain kok, om ini sentimen amat dih sama bocah ganteng kayak aku," kata Linga yang membuat Adit gemas.


"ya Allah dek," kata Adit menepuk punggung dari Linga.


"mas..." kata bocah itu menyuapi Adit dengan tangan kecilnya.


melihat hal itu, Agra kini tau dari mana kebaikan dan keberanian pemuda yang telah menyelamatkan istri dan juga putranya.


setelah selesai, Adit membantu membersihkan mushola bersama Linga, sedang Arkan berbincang di luar bersama kedua pria itu sambil menunggu sholat isya'.


"jadi mas ini?"


"saya datang ingin mengucapkan terima kasih, berkat mas Adit, istri dan anak saya selamat, karena kata istri saya, dia sudah hampir tak kuat karena ada sebuah sepeda motor yang menjepit badannya, dan istri saya bilang, dia melihat seorang pemuda datang menyelamatkan dia bahkan mengunakan tubuhnya untuk melindungi istri saya saat truk gandengan itu kembali berjalan," kata Agra dengan air mata yang jatuh.


"Alhamdulillah kalau begitu, karena sebagai manusia kita harus saling menolong sesama," kata Arkan tersenyum.


"tapi yang membuat kami makin terkejut adalah,saat dokter mengatakan jika mustahil bayi kamu selamat, di saat itu istri saya membaca sebuah tasbih dan dia bilang itu di ingatkan putra anda, dan seperti keajaiban putra kami menangis, meski dia mengalami memar karena perut istri saya terbentur sepeda motor, tapi dokter bilang jika tak ada yang perlu di khawatirkan," kata Agra.


Arkan pun mengerti karena Adit sudah mengatakan hal baik maka dia akan menyertakan tasbih bersama dengan setiap ucapannya.


"kemari le, ada yang ingin bertemu dengan mu," panggil Arkan


Adit pun duduk di samping Arkan bersama Linga, "mas terima kasih karena mas, istri dan anak saya selamat," kata Agra yang langsung ingin bersujud di kaki Adit.


"astaghfirullah hal adhzim, jangan mas, sujud hanya pada yang maha pencipta, saya cuma manusia, dan tugas saya mfnolong setiap orang jadi mas tak usah seperti ini," kata Adit dengan ramah.


Arkan melihat Nino, "piye... anak ku ya..." katanya dengan wajah menyebalkan.


"gak uros awak mu cok ... Cok..." kata Nino yang kesal.


plak, sebuah tangan memukul bibirnya, Linga yang melakukannya.

__ADS_1


"ya!!! bocah Iki ngolek perkoro!!" kata Nino kesal karena Linga yang selalu usil padanya.


__ADS_2