Lily

Lily
Adit cemburu?


__ADS_3

Adit memilih tak tinggal di rumah Oma utami dan opa Alan, dia sudah memiliki tempat sendiri.


tapi itu membuat Lily dan Linga sedih, "kenapa kita harus seperti ini..."


"hei kan gak elok jika aku calon suamimu tinggal di rumah ini, nanti aku juga akan sering kesini karena ada urusan dengan opa, dan ingat kamu harus kuliah dengan sungguh-sungguh," kata Adit.


"tapi kenapa pisah, dulu opa Alfin pasti juga gak kan?" tanya Lily nrkihat papinya.


"karena dulu opa Alfin itu pulang dari Jepang langsung menikah, sedang sekarang Adit harus tinggal di tempat yang jauh dulu," kata Papi Arkan.


"apa? papi jahat kalau begitu Linga mau ikut kak Adit saja, aku tak mau tinggal dengan papi," kata Linga yang sudah membawa koper miliknya.


"hei... kenapa kamu beneran bawa koper," kata Adit kaget.


"aku takut jika kak adit lari dengan wanita lain dan meninggalkan mbak Lily yang kadang bodoh dan ceroboh itu," kata Linga.


"Linga!!! bocah ini bikin emosi Mulu," kesal gadis itu yang mendengar ledekan dari adiknya.


"sudah biarkan saja, toh Adit akan tinggal di rumah lama keluarga ayah Faraz di samping rumah eyang kalian," kata papi Arkan santai.


"kalau gitu tak jadi,aku takut dengan eyang Kakung," jawab Linga yang langsung menyeret kopernya kembali ke kamar.


"kalau begitu kami tenang, setidaknya eyang uti akan menjaga dan mengawasi kak Adit," kata Lily dengan senyum merekah.


sedang Adit hanya tersenyum mendengar itu semua, ya dia memilih tinggal disana untuk memperdalam ilmu bersama Aditya.


ya pria itu adalah guru yang tepat untuk dirinya yang membutuhkan guru yang tak memiliki belas kasih terhadap musuh.


"baiklah papi, mami, Oma dan opa aku berangkat karena sudah sangat malam," pamit Adit.


"baiklah nak,dan jaga dirimu dan jangan terlalu kejam ya," kata mami Tasya.


"maaf mami,tapi sayangnya itu tak mungkin jika menghadapi orang jahat," kata Adit yang tersenyum dan membawa tasnya pergi.


dia menyalakan motornya dan akan meninggalkan rumah keluarga opa Alan, saat dia melihat ada mobil yang terparkir di depan rumah.


pria itu bersembunyi karena takut jika Adit akan menghajarnya, karena dari tadi dia terus mengikuti mereka.


dia pun menghela nafas lega saat motor Adit sudah pergi, dan diarak menyangka akan tau rumah gadis incarannya.


"aku akan mendapatkan dirimu," kata pria itu.

__ADS_1


tanpa di duga Adit langsung memecahkan kaca mobil itu dengan tangan kosong.


membuat pria yang ada di dalam mobil kaget dan ketakutan, terlebih wajah Adit terlihat marah.


dia menarik pria itu keluar dari dalam mobil. "aku perhatikan kamu dari tadi mengikuti ku, kamu mau apa hah," marah Adit yang langsung membanting pria itu.


tiba-tiba dia mencium aroma yang sangat tak bersahabat, "brengsek..." kata Adit mundur.


sedang pemuda itu masih kesakitan dan mengerang di tanah karena Adit begitu keras membantingnya.


Adit bisa melihat ada sosok yang terlihat tersenyum dari jauh ke arah Adit,"kamu mau musnah," suara batin Adit pada mahluk itu.


mahluk wanita itu menggeleng dan menunjuk ke arah pemuda itu, ia berbalik dan langsung menarik pemuda itu untuk bangun dan kembali menjatuhkannya ke tanah.


"tolong... ada pria gila yang ingin membunuhku!!!" teriak pemuda itu sambil kesakitan.


mendengar suara gaduh di luar, semua orang terpancing untuk datang, tapi saat tau siapa yang berdiri dengan marah mereka memilih diam.


papi Arkan langsung berlari melerai putranya itu,"ada apa Adit?"


"aku tak tau berandalan brengsek ini dari mana, dia dari tadi terus mengikuti kami dari mulai kami pulang dari flyover," jawab Adit dingin.


"kakak senior babi hutan," kata Lily yang melihat itu.


"semua kampus sudah tau itu mi, meski dia lumayan tampan tapi dia itu bau banget, dan dia selalu bisa merebut hati wanita-wanita cantik di kampus, dan setelah puas menikmati gadis-gadis itu dia akan membuangnya begitu saja, itu yang aku dengar dari semua mahasiswa senior tadi," kata Lily yang jujur.


"jadi kamu ingin mengincar gadis milikku, kamu bahkan tak akan bisa berjalan lagi mulai sekarang, karena aku akan mematahkan kakimu!!" marah Adit.


"tahan Adit, tenanglah nak jangan seperti ini, lihatlah kamu jadi tontonan warga sekitar sini,lagi pula dia sudah mendapatkan balasan yang pantas," jawab papi Arkan.


"kenapa kamu masih diam seperti orang bodoh, cepat pergi dari sini," usir opa Alan.


Lily langsung berlari ke arah Adit, karena melihat tangan pria itu mengeluarkan darah, "tangan mas Adit terluka,"


"hanya luka kecil, aku pamit pergi papi," kata Adit yang langsung meninggalkan rumah.


Lily kaget melihat reaksi Adit, sedang papi Arkan langsung menelpon orang tuanya.


dan beruntung Amma Wulan langsung mengangkatnya, "assalamualaikum Amma, aku titip Adit, dia sedang marah dan tangannya terluka,"


"...."

__ADS_1


"baiklah Amma, terima kasih, waalaikum salam..." kata papi Arkan.


Adit langsung memacu motornya dengan kecepatan tinggi, dia sedang sangat marah saat ini.


melihat Lily yang di incar seseorang, kenapa dia baru meninggalkan gadis itu sebentar saja, sudah banyak orang yang ingin merebutnya.


Adit pun berhenti di sebuah sawah yang sudah sangat gelap dan sepi, dia berteriak dengan sangat keras hingga suaranya serak.


sedang Lily merasa sedih karena Adit menghempaskan tangannya begitu saja.


"ei... kenapa aku melihat Adit ini seperti Arkan dulu ya, sok jual mahal tapi ujung-ujungnya sangat bucin sekarang," kata opa Alan.


"tapi lihatlah Lily yang seperti terkejut itu, coba lakukan sesuatu," kata Oma utami pada suaminya itu.


pria itu tersenyum dan langsung duduk di samping cucu pertamanya itu.


"Lily tak tidur? esok kamu harus mulai kuliah kan?" tanya opa Alan.


"tidak bisa tidur opa," jawab Lily sedih.


papi Arkan datang dengan coklat panas, "kamu sedih karena Adit, dia tidak marah sayang ku, dia hanya butuh waktu sendiri, dia sepertinya kaget dan marah karena melihat ada pria yang mengejar mu sampai seperti tadi," kata papi Arkan


"bukan marah,lebih tepat di sebut dengan cemburu, pasti kamu juga pernah merasakannya saat rasa marah dan tidak senang melihat orang yang kita cintai malah bersama orang lain,"


Lily mengangguk, "jadi kamu hanya perlu memberinya waktu, aku yakin dia akan segera membaik, jadi jangan sedih lagi ya," kata papi Arkan.


malam ini Lily tak mengira jika kedua orang yang selama ini terlihat sangat tegas, tapi bisa selembut ini.


Lily terus tersenyum senang,"hei kenapa sekarang kok malah senyum begitu?"


"aku tak mengira jika ayah dan opa sangat pengertian dengan ku, bahkan mau menghiburku," kata Lily.


"aduh kamu ini ngomong apa, opa dan papi mu adalah orang yang melihat mu tumbuh dari kecil, terlebih kamu adalah cucu kesayangan opa yang paling berharga," jawab opa Alan.


sedang papi Arkan mengisap kepala putrinya yang tertutup jilbab, Lily pun merasa beruntung memiliki keluarga seperti mereka semua.


sedang di rumah keluarga Rakasa, Amma Wulan sedang menunggu Adit, dan saat pria itu datang.


Adit langsung mencium tangan sang eyang, dan Amma Wulan mengajaknya untuk duduk.


"jangan terlalu marah nak, kalian masih sangat muda, dan tak akan mudah menjadi pasangan suami istri," kata Amma Wulan yang membuat Adit terkejut.

__ADS_1


"maksudnya eyang?"


__ADS_2