Lily

Lily
masalah apa lagi


__ADS_3

mereka sampai di kota Jombang, dan Aryan memutuskan untuk tidak mengizinkan mereka pulang ke rumah.


dia tak ingin ada fitnah, terlebih mereka cuma akan berdua saja di rumah.


"kalau begitu kami pulang dulu ya," pamit Riya yang mengajak Lily menginap di rumahnya.


sedang Adit di seret masuk ke rumah Aryan, "sudah kalian bisa ketemu, tapi sebelum semua orang pulang, jangan harap kalian bisa berduaan saja, sudah ayo masuk,"


Adit pun menurut karena Aryan yang lebih tua dan tau segalanya, jadi Adit akan manut saja keputusan dari ayah kecilnya itu.


dia langsung mandi dan merebahkan tubuhnya, tanpa di duga dia malah langsung pulas tidur.


begitupun dengan Aryan yang juga kecapekan sebenarnya, dan hal yang tak jauh berbeda terjadi pada dua gadis itu.


kakek dan nenek Riya hanya bisa tersenyum dan mereka memutuskan untuk membuat makan malam untuk semua orang.


sedang di pantai, beberapa anak terluka ya karena kesalahan mereka sendiri.


akhirnya setelah keputusan bersama mereka pun pulang dari pantai dan mampir di kebun nanas baru memutuskan pulang ke Jombang.


liburan kali ini benar-benar berantakan, karena banyak murid yang sakit, bahkan Arkan beberapa kali harus melakukan pengancaman pada makhluk astral karena beberapa siswa yang bandel.


malam ini, Aryan dan Adit di undang untuk makan malam di rumah Riya,dan ternyata begitu banyak makanan yang di masak.


"ya Allah Mbah,kenapa serepot ini?" tanya Aryan merasa tak enak.


"tidak apa-apa le, saya ingat jika kamu itu suka sekali sama pepes ikan jadi hari ini mbak dok membuat pepes ikan patin, kebetulan bibit yang pernah kamu berikan dulu sudah mulai besar," kata mbah kung Riya.


"Alhamdulillah kalau begitu Mbah," jawab Aryan yang ikut senang.


malam itu dia dan Adit benar-benar bisa menikmati waktu dan makan dengan lahap.


setelah itu, keduanya duduk di teras sambil merokok disana, beberapa warga sempat menyapa kedua orang itu.


Lily dan Riya keluar dengan kopi seta gorengan, "aduh kok malah kayak tamu gini, sudah jangan lagi membuat cemilan, kami kenyang ini," kata Adit.


"ayah belum sepertinya, lihat saja,"kata Lily yang tertawa melihat reaksi Adit kaget.


pasalnya meski makan banyak tubuh Aryan tak banyak berubah, dan yang paling penting perut pria itu tak buncit.


"makanya olahraga dit, biar sixpack perutnya," kata aryan dengan wajah menyebalkan.


pria itu hanya tertawa saja, pasalnya dia tak ingin menjawab ucapan menyebalkan dari Aryan.

__ADS_1


tapi dia kaget saat menerima panggilan dari salah seorang pria yang dia minta mengawasi pondok pesantren dari ustadz Faraz.


"ayah sepertinya kita ke pondok milik ayah besar,karena pondok mengalami masalah," panik Adit.


mendengar itu Aryan langsung mengambil kunci motor dan langsung pergi, tak hanya itu Lily dan Riya juga ikut dengan membawa motor milik Anand.


Lily benar-benar mengendarai sepeda motor itu dengan lancar, bahkan Riya tak percaya jika temannya itu bisa naik motor sport seperti ini.


mereka sampai di pondok pesantren itu yang ternyata di bagian aula yang biasa di gunakan mengaji terbakar.


semua santri membantu memadamkan dengan air seadanya, dan sudah ada tiga mobil pemadam kebakaran juga, tapi api masih sangat besar membara.


"ayah besar," panggil Adit.


pria itu terus berontak di pegangi oleh lima orang santrinya begitupun dengan Kalila yang tengah berontak bahkan tak memperdulikan kandungannya.


"ada apa ayah besar?" tanya Adit di atas kepanikan semua orang.


"Shafa ada di dalam, dia masih di dalam aula," kata Faraz yang terus berontak.


tanpa di duga, Adit mengambil sebuah ember dan menyiram dirinya sambil berlari.


tanpa memperdulikan api yang begitu besar, dia pun masuk kedalam aula yang terbakar itu.


Lily yang baru datang dan tak melihat Adit, dan mendengar suara teriakan suara Adit dari tempat terbakar itu.


Adit masih mencari Shafa, tapi ternya bocah itu sudah pingsan di bawah meja.


Adit langsung menarik gadis itu keluar, Shafa sadar saat berada di pelukan seseorang.


"mas Adit..."


"tebang dek, mas akan membawa mu keluar dari sini," kata Adit yang membungkus Shafa dengan jaketnya yang basah.


saat Adit ingin membawa Shafa keluar, tiba-tiba atap ambruk. semua orang yang di luar pun kaget melihat itu.


"mas Adit!!" teriak Lily yang ingin masuk ke tempat itu.


tapi beruntung Aryan berhasil menangkap gadis itu dan memeluknya erat.


"Shafa!!" teriak Kalila dan semua orang khawatir.


tapi seperti keajaiban dari Tuhan, Adit bersama Shafa bisa keluar dari kobaran api.

__ADS_1


semua orang bahkan di buat tak percaya, jika pria itu seperti tak terpengaruh oleh panasnya api.


Shafa berada di pelukan Adit, dan gadis kecil itu selamat, sedang punggung Adit terkena luka bakar.


ustadz Faraz langsung berlari secepat mungkin untuk mengambil dan melihat putrinya.


"tolong selamatkan dia, sepertinya dia terlalu banyak menghirup asap di dalam," kata Adit memberikan Shafa pada ustadz Faraz.


"dokter tolong keponakan ku," panggil ustadz Faraz yang melihat luka Adit.


tapi pria melihat seseorang di antara keramaian semua orang yang menonton, para tim medis datang tapi saat Adit ingin di obati.


pria itu malah berlari dengan luka bakar di punggungnya yang bahkan seperti tak merasakan sakit.


dia menarik seseorang dan melemparkan ke depan semua orang.


Kalila kaget melihat wanita itu, tapi sekarang itu tak penting, dia dan Lily menahan Adit.


"sudah Adit, biarkan polisi yang menyelesaikan semuanya, kita obati lukamu, dan Shafa sudah di bawa ke rumah sakit," kata Kalila


"terima kasih umi..." kata Adit yang tiba-tiba pingsan membuat semua orang panik.


"mas Adit!!" panggil Lily yang khawatir.


akhirnya dia ambulan membawa kedua korban ke rumah sakit,Adit di tidurkan dengan tengkurap.


dan para tim medis terus menuang cairan infus untuk memberikan rasa dingin pada pria itu.


sekalian membersihkan beberapa bara yang menempel di punggung pria itu.


"dia ini manusia apa bukan?" kata salah satu perawat itu.


"apa maksudmu?"tanya temannya yang juga sedang menuang cairan infus.


"lihat saja begitu banyak bara yang menyala menempel, tapi tadi dia seperti tak merasakan sakit," kata pria itu heran.


"sudah mungkin itu dia tak sadar, buktinya dia langsung pingsan begini," kata pria yang lain.


sesampainya di rumah sakit, Adit langsung di bawa ke ruang penangganan.


tapi perlahan luka sembuh meski tak langsung seluruhnya, tim dokter yang menanggani pun bingung tapi mereka tak bisa membungkusnya karena pasti akan basah.


padahal luka itu sangat parah karena hampir sekujur punggung Adit terluka.

__ADS_1


__ADS_2