Lily

Lily
melepaskan kekuatan seluruhnya


__ADS_3

keesokan harinya, Adit sudah bangun lebih dahulu karen dia tadi menerima telpon dari ayah mertuanya.


ternyata kedua orang itu sudah ada di depan rumahnya, "ada apa ini, Kenapa mami dan papi sepagi ini datang kesini, padahal tiket dan visa baru selesai lusa besok,"


"terserah kamu Adit, tapi bagaimana pun lihatlah mami mu," kata papi Arkan yang sangat sedih


pasalnya mami Tasya terlihat sangat sedih, Adit menahan wanita itu, "tolong jangan seperti ini mami, jika mami begini, bagaimana bisa Lily bertahan, meski kita sedih tapi jangan menunjukkannya mi," mohon Adit.


"tapi dia itu putriku, bagaimana bisa kamu mengatakan itu, apa kamu bisa mengerti hati seorang ibu," kata mami Tasya marah.


"aku memang tidak bisa mengetahui kesedihan seorang ibu, tapi aku juga merasa sedih karena istriku yang saat ini sedang mengalami hal seburuk ini, jadi jika mami sedih karena Lily putri mami, tapi dia belahan jiwaku, aku susah bersama dengannya dari kecil, aku juga sedih mami... jadi tolong mami aku mohon..."


mami Tasya pun mengangguk, bagaimana dia bisa lupa jika tidak hanya dirinya yang akan kehilangan.


"maafkan aku, aku akan mengikuti semuanya, tapi tolong biarkan aku sering memeluk putriku..." mohon mami Tasya.


"tentu mami, dia tetap putrimu, dan kita akan melakukan perjalan untuk berdoa, di tanah suci," kata papi Arkan.


Adit dan papi Arkan menanggalkan semuanya, bahkan mereka melepaskan semua khodam milik mereka untuk bersiap pergi.


dsn dengan bantuan dari ustadz Faraz untuk melakukannya, jika tidak itu akan mempengaruhi ibadah mereka nantinya.


Adit merasa tubuhnya sangat sakit bahkan tubuh Adit sekarang sangat panas.


bahkan dia terus berteriak dan berdesis secara bergantian dan akhirnya Adit muntah darah dan setelah itu terkapar tak berdaya.


bukan hanya Adit, ustadz Faraz juga sampai kesakitan karena membantu Adit membuang semua kekuatannya.


"bagaimana bang?"

__ADS_1


"Alhamdulillah akhirnya mata batin Adit tertutup, dan dia akan hidup seperti orang normal," kata ustadz Faraz.


"terima kasih sudah membantunya, karena aku tak ingin dia melihat bagaimana saat nanti Lily pergi meninggalkan kami," gumam papi Arkan.


"ikhlaskan Arkan, aku yakin ini semua sudah yang terbaik dari Allah ya," kata ustadz Faraz.


Adit pun perlahan sadar dari pingsan, tapi tubuhnya sangat lelah dan remuk redam.


Shafa yang melihat Adit bangun, gadis kecil itu datang dan memberikan air pada Adit.


"minum kak," kata Shafa yang ternyata sedang mengenakan pakaian yang di belikan oleh Adit.


bahkan gelang yang di berikan Adit pun juga dia kenakan. "kak Adit butuh sesuatu?"


"tidak Shafa, terima kasih... huk.."


mendengar Adit yang akan muntah, Shafa mengambil tong sampah, dan membantu dengan memijat bagian tengkuk belakang Adit.


untuk meminta kesembuhan Adit.


dan beruntung pria itu perlahan mulai membaik, "kakak istirahat ya, biar aku panggil Abi dulu,"


gadis kecil itu langsung berlari dan dari gelangnya terdengar suara gemerincing.


ustadz Faraz datang dan melihat kondisi Adit yang terlihat sangat lemah.


"duduklah dulu, kamu mau kemana, istirahat dulu oke," kata ustadz Faraz


"tapi aku takut membuat Lily khawatir, terlebih karena kita akan pergi umrah, jadi kami berencana untuk belanja," kata Adit yang menahan kesakitan.

__ADS_1


"sudahlah, papi mu sudah nenghendel semuanya, jadi kamu harus tenang sekarang, lihatlah apa yang di bawakan gadis cantikku ini, bawa apa sayang?" tanya ustadz Faraz.


"aku bawa minuman yang selalu umi berikan saat aku terkena panas, rebusan labu yang panjang itu loh Abi," kata Shafa.


Adit mengambil air itu dan meminumnya, "kak Adit masih panas!" kaget Shafa.


tapi Adit tak merasakan hal itu, ustadz Faraz mencubit tubuh Adit dengan sangat keras hingga luka.


tapi aneh pria itu tak merasakan sakit, "apa kamu tak merasakan apapun?"


"tidak, memang apa yang ayah besar lakukan?" tanya Adit merasa heran.


"ya Allah apa ini, bagaimana bisa kamu tak merasakan sakit sedikitpun, sepertinya tubuh mu harus mulai beradaptasi terlebih dahulu," kata ustadz Faraz yang membacakan doa.


sedang Shafa terus mengawasi Abi dan kakak sepupunya itu,dua penasaran karena sekarang dia juga tak bisa melihat hal ghaib seperti dulu.


bahkan dia pun tak bisa mengatakan apapun saat ini, Adit perlahan mulai merasa normal dan bisa bangun.


"kakak mau makan, tadi umi memasak ayam bakar kecap kesukaan mu loh kak," kata Shafa yang merasa kasihan.


"kamu yakin mau menawariku, jika aku makan maka jatah mu dan Abi mu akan habis dan kamu makan apa cantik?" tanya Adit tersenyum mengusap jilbab lebar Shafa.


"tidak apa-apa kok kak, Shafa terbiasa puasa jadi tak masalah untuk menunggu umi masak lagi," jawab gadis kecil itu.


Adit hanya tertawa, bagaimana bisa gadis itu begitu mudah mengatakan hal seperti itu.


"sudahlah jangan mengatakan hal mustahil, sudah ayo gabung dengan kaki,nanti papi mu akan datang kesini untuk menjemput mu, setelah selesai berbelanja bersama keluarga mu," kata ustadz Faraz.


mereka pun makan bersama, Shafa tak melepas cadarnya kali ini karena ada Adit di rumahnya.

__ADS_1


tapi gadis kecil itu sudah terbiasa jadi dia tak kesulitan untuk makan.


bahkan adit tak mengira jika keluarga ayah besarnya begitu baik padanya seperti ini.


__ADS_2