Lily

Lily
gadis ceroboh


__ADS_3

Lily keluar dengan memar di kepalanya, Tasya kaget melihat luka itu.


pasalnya Lily tak jatuh semalam, tapi kenapa kepalanya bisa memar hingga membiru seperti itu.


"kamu kenapa, itu kepala kenapa Lily?" tanya Tasya khawatir melihat putrinya itu.


"tentang kami, ini tadi aku ceroboh hingga jatuh terbentur dinding, jadilah begini, sudah tidak apa-apa," kata Lily menenangkan maminya itu.


Oma utami dan yang lain dari mushola pun kaget melihat Lily, tapi dia meyakinkan pada semua orang jika luka itu tak apa-apa.


kini Adit membantu Tasya memasak, sedang Linga ikut opa dan Oma untuk jalan pagi, sedang Lily di awasi oleh Arkan untuk belajar untuk persiapan ujian nanti siang.


"aduh papi ... kenapa soalnya sulit sekali, memang ini semua akan keluar dalam ujian ya," protes Lily.


"sudah kerjakan saja, setidaknya kamu punya persiapan yang tepat untuk menghadapi ujian yang bahkan kita saja tak tau soal mana yang keluar, tapi setidaknya IPA itu ilmu pasti," kata Arkan kesal mengajari Lily.


"iya papi... iya ..."


Adit sudah selesai dengan ayam bakar dan urap-urap bunga pepaya dan tumis kangkung.


Tasya tak mengira sarapan kali ini akan sekompleks ini, bahkan Adit menyiapkan cemilan yang sengaja di bawa.


di rumah Aryan, pria itu si hentikan oleh Riya setelah pulang dari mushola terdekat.


"iya Riya, ada apa kamu memanggilku?" tanya Aryan.


"anu pak, ini saya ingin memberikan lauk, ini cuma makanan sederhana tapi saya memasaknya sendiri, maaf jika rasanya sedikit aneh, tapi ini sebagai ucapan terima kasih sudah memberikan semua hadiah itu," kata Riya dengan malu.


"terima kasih ya, dan lain kali kalau bicara lihat orangnya, karena tak sopan jika kamu bicara menunduk seperti ini, jadi bagaimana aku bisa melihat wajah cantik ini jika kamu tak melihatku," kata Aryan mendongakkan kepala Riya.


melihat Aryan yang tersenyum seperti itu, jantung Tiya rasanya ingin meledak, pasalnya sosok Aryan saat di rumah terlihat muda dan juga sangat tampan.


"aduh... masih pagi udah berduaan saja, awas ada orang ketiga loh," ledek Anand yang sedang menyapu rumah.


"iya ada orang ketiga yaitu setan, sudah selesaikan tugas mu, udah masak nasi belum?" tanya aryan pada putra tunggalnya itu.

__ADS_1


"sudah dong, dan gak lupa untuk memindahkan dari warna ke cook, tidak seperti ayah, dasar pria tua, eh Tiya jangan mau di gombalin ayah, dia itu sudah tua," kata Anand.


"dasar bocah ini," marah Aryan yang di tertawa kan oleh putranya sendiri.


sedang Riya ikut tertawa melihat kelakuan dari dua pria itu, "baiklah kalau begitu pak Aryan, saya pulang dulu, sekali terima kasih atas segalanya,"


"iya Riya, saya juga berterima kasih sudah di bagi lauknya," kata Aryan yang kemudian masuk kedalam rumah.


Aryan itu menjadi salah satu duda incaran di desa itu, meski sudah memiliki anak yang sudah besar, tapi usia Aryan toh tidak tua.


karena dulu dia menikah muda, tapi mendekati Aryan seperti mendekati dinding batu yang tak bisa di ganggu.


tapi entah apa yang membuat dinding itu seakan runtuh perlahan dan bisa di pahat oleh gadis muda yang sepantar dengan anaknya.


tapi jodoh adalah rahasia Tuhan, pagi itu semua sudah siap untuk di jemput.


Anand dan Riya sedang menunggu jemputan, tak lama mobil Adit datang, Lily sudah duduk di belakang.


"ayo naik, nanti telat," panggil gadis itu.


tapi saat dia turun untuk mengunci gerbang rumah, dia di kagetkan dengan Uci yang datang ke rumahnya Agi itu, "ada apa Uci, Kenapa kamu ada di sini, bukannya ke sekolah," kata Aryan heran.


Uci berlari ke arahnya, "tidak baik Uci, jangan melakukan hal yang bisa menimbulkan fitnah!!" bentak Aryan menahan gadis itu.


"pak Aryan untuk sekali saja, aku ingin memeluk mu, karena setelah wisuda nanti aku akan di nikahkan oleh orang tuaku," mohon gadis itu


"maaf aku tak bisa, dan jangan melakukan hal aneh," marah Aryan yang tak menyukai tingkah gadis itu.


"lebih baik cepat berangkat, sebelum aku kehilangan kesadaran dan aku akan lupa siapa kamu!!!" marah Aryan.


Uci pun mau tak mau pergi dari tempat itu, meski dia seakan tak rela tapi Aryan sudah terlalu marah.


dia pun pergi dengan hasil yang tak seperti dia inginkan, Aryan bahkan memijat kepalanya yang sakit.


"ya Tuhan, gadis sekarang makin Hila saja, bahkan mereka seperti tak peduli dengan kehormatan mereka sendiri," gumamnya.

__ADS_1


dia baru pergi setelah Uci tak terlihat, tapi sayangnya ada beberapa orang yang melihat adegan tadi dan mereka adalah orang suruhan dari calon suami Uci.


di sekolah, wanita yang kemarin mengirimkan pelet terus melihat ke arah Adit.


wanita itu kira peletnya sudah berhasil, jadi dia dengan percaya diri menyapa Adit.


"selamat pagi pak Adit," sapa gadis itu dengan senyum merekah.


"pagi Bu Astri, maaf saya sedang sibuk," jawab Adit cuek.


karena pria itu membawa kaos yang akan di kenakan oleh para murid sat ke gunung Bromo agar tak hilang.


Bu Astri tak percaya dengan apa yang di lihatnya, bukankah dia sudah berhasil memelet pria itu.


tapi kenapa pria itu masih cuek, "apa ini pengaruh karena aku di sekolah sialan ini, pasalnya ilmu ku tak berguna di sini karena sekolah ini di Pagari ghaib," kesalnya.


Adit benar-benar sibuk membagi semua baju sesuai kelasnya, Krena dia tak ingin ada keributan nantinya.


cukup lama mobil Aryan baru sampai, dan pria itu membawa kue yang tadi di ambilnya untuk suguhan di ruang guru.


bahkan semua pengawas ujian tak mengira jika sekolah ini memiliki penyambutan yang begitu heboh.


pasalnya mereka tak mengira jika menyediakan kue dan nasi untuk pra pengawas.


Aryan juga membeli kue terpisah untukmu dan Adit, karena dia sadar jika keponakannya itu tak suka berkerumun dan memakan kue yang terlalu di pilih-pilih oleh orang.


ya mungkin keponakannya itu risih atau bagaimana tapi dia tak ingin bertanya dan membuat Adit kesal padanya.


karena hal yang paling di hindari di keluarga besar mereka adalah menghindari Faraz, Adit dan Aditya saat mereka marah karena itu seperti mereka menyetorkan nyawa.


tak lama semua murid mulai masuk kelas dan mulai ujian di hari keempat dan hari terakhir.


itulah kenapa mereka semua terlihat semangat dan tak sabar karena akan segera liburan.


"ayah, bagaimana dengan bus untuk acara lusa? apa sudah siap?" tanya Adit yang khawatir.

__ADS_1


"tebang saja, aku sudah memastikan semuanya aman, dan mengunakan bus baru," jawab Aryan.


__ADS_2