Lily

Lily
perjalanan cukup heboh


__ADS_3

Lily masih bermain ponsel miliknya, sedang Adit memilih mengaji di samping gadis itu.


sedang yang lain melakukan karaoke bersama, dari belakang Adit bisa melihat ada beberapa orang yang sedang nyenyak tidur.


tapi dia hanya tersenyum saat melihat Aryan yang tengah berbincang serius dengan Riya.


Uci memisahkan diri dari dua sahabatnya, karena dia tak ingin malu bertemu Aryan.


"mau kemana?" tanya anand yang menghalangi Uci yang ingin ke area belakang bus.


"mau ke tepat Lily, aku ingin minta maaf," kat Uci yang mencoba menerobos pria itu.


"tidak usah duduk saja di kursi mu," kata anand menahannya.


dia tak ingin Uci marah saat melihat Riya yang duduk satu kursi dengan ayahnya.


"kamu ini kenapa sih, aku hanya mau ngobrol dengan mereka," kata gadis itu sedikit keras.


Adit bangkit dan langsung menghampiri Aryan, dia pun membisikkan sesuatu hingga pria itu pindah ke belakang.


Adit pun mengambil ponsel Lily, "mas Adit balikin..." rengeknya.


"tapi kamu harus duduk di kursi samping Riya dulu, sudah pergi sana," kata Adit menyuruh Lily.


"kenapa sih..."


"sudah duduk dulu," kata Adit mengembalikan ponsel Lily dan dia duduk bersama dengan Aryan di belakang.


Riya kaget melihat Lily duduk di kursi Aryan, "eh ada apa Lily?"


"tak tau, sudah ayo kita Mabar saja yuk," ajak Lily.


keduanya pun sibuk dengan ponselnya, anand melihat Adit yang sudah bersama ayahnya.


"hei... aku melarang mu karena takut kamu jatuh saja," kata anand beralibi.


"aku bukan bocah yang harus kamu jaga, aku wanita dewasa, sudah minggirkan kakimu," Kata Uci yang kembang berada di kursi nomor satu.


dia pun bergegas mundur, dia pun langsung berhenti di kursi Lily dan Riya.


"boleh aku duduk di sini sebentar," kata Uci.


"eh... tentu, silakan," kata Lily yang geser ke tengah.


Aryan pun kini fokus ngopi bersama Adit, pasalnya bus yang mereka sewa ini memiliki kenyamanan yang plus.


"ada apa Uci, kenapa kamu sedih begitu?" tanya Riya penasaran.


"setelah dari liburan ini aku akan menikah dengan juragan yang di jodohkan oleh orang tuaku,jadi mungkin kita tak akan bisa kuliah bareng," kata Uci sedih.


"ah sayang banget padahal kamu udah keterima di universitas PGRI kan," kata Lily.

__ADS_1


"tidak apa-apa demi menurut pada orang tuaku," jawab gadis itu.


"tapi itu bukannya keterlaluan ya,kita masih usia delapan belas tahun," protes Lily.


"ya Allah bocah satu ini,Lily kenapa berisik..." kata Arkan yang kebetulan duduk di samping kursi mereka.


"papi ... ini Uci mau di nikahin, kami kan usianya masih delapan belas tahun," protes gadis itu.


"memang kenapa, itu udah boleh nikah, sudah ayah mau ngopi saja lah," kata Arkan yang pindah ke belakang.


"kalau aku sih gak mau," kata Lily dengan lantang.


"yakin gak mau nikah?" kata Adit yang duduk di kursi Arkan dan memberikan teh untuk Tasya.


"emm.... pikir-pikir dulu lah, sepertinya menikah sambil kuliah itu bagus," kata Lily yang berubah pikiran.


Uci dan Riya pun tertawa, pasalnya Lily akan mudah sekali berubah-ubah pikiran saat bicara pada Adit.


bus mereka semua memilih berhenti di rest area untuk sholat ashar, dan di perkiraan dua jam lagi sampai.


ada yang sholat, ada juga yang duduk menikmati jajanan yang di jual di sana.


karena mushola tak muat, jadi sholat di bagi menjadi beberapa sesi dengan guru pembimbing masing-masing.


pak Ari kebetulan sudah selesai sholat duluan dan memilih membeli pentol yang berjualan di sana.


"kalian mau bisa ambil biar bapak yang bayar," kata pak Ari.


jadilah semua orang berebut membeli pentol itu, dan langsung habis, Adit yang datang langsung mengambil pentol yang ada di tangan pak Ari.


"Alhamdulillah,kebetulan kemarin habis jual satu sapi dan anggap saja berbagi pada anak-anak, toh harta tak di bawa mati juga," kata pak Ari.


"bapak benar sih, tapi lumayan loh dan ya ampun gadis ini malah ngambil banyak banget," kata Adit melihat Lily.


setelah menjewer kuping adiknya itu, lily pun duduk bersama menikmati cemilan sambil menunggu teman yang lain.


dua bus sudah berangkat duluan karena memang sudah di berikan arahan tentang lokasi homestay.


mereka pun melanjutkan perjalanan,dan pak Ari memberikan satu juta pada pedagang pentol itu.


sebenarnya pak Ari itu juga bukan orang biasa, dia itu memiliki peternakan sapi pedagang yang cukup besar dan dia juga terkenal baik.


akhirnya setelah dua jam perjalanan mereka sampai, tapi pak Ari tak langsung mengizinkan para muridnya keluar.


"semuanya sebelum keluar pastikan tidak ada sampah berserakan, ingat..." kata pria itu.


"udah di beresin pak," jawab semua siswa.


Adit pun membuka pintu belakang, begitupun dengan pak Ari, dan pengemudi bus tak mengira hal itu.


"mas Toni maaf jika masih ada sampah yang kececer ya," kata Adit saat sudah melihat semua anak-anak murid turun.

__ADS_1


"gak papa mas, sudah biasa," jawab pria itu.


semua pun di arahkan oleh pak Ari menuju homestay dan sudah memiliki warna bendera sesuai dengan warna perkelas.


"kalian bisa mencari ruangan masing-masing untuk beristirahat, selamat malam," kata pak Ari.


"malam pak," jawab semua murid.


kebetulan kamar yang di tempati Lily berhadapan dengan kamar yang di tempati Anand.


jadi itu seperti tempat kos-kosan yang bisa disewa dan Adit menyewa untuk liburan kali ini.


semua siswa menempati satu kamar untuk berempat, di kamar Lily ada dua, Riya, Uci dan Rika.


gadis itu sangat pendiam dan tak sering bicara, bahkan di kelas pun dia lebih suka menyendiri di banding bersama dengan yang lain.


"Rika kamu tak keberatannya jika nanti kita tidurnya dempet-dempetan kan, karena kasur cuma satu meski pun luas," kata Lily.


"tak masalah kok," jawab gadis itu.


setelah mereka semua selesai mandi, Adit membunyikan sirine untuk mengumpulkan para siswa.


"hari ini kita akan ada kegiatan api unggun, sebelum nanti jam dua mengadakan acara samit, bagi yang ikut tolong koordinasi pada guru pembimbing atau bisa ke saya," kata Adit.


"baik pak," jawab semua siswa.


kebetulan samit kali ini akan di bimbing Aryan, Adit, Tasya, Arkan dan Aditya dan guru yang lain akan tetap tinggal dan akan menyusul besok saat matahari sudah tinggi.


ternyata yang ikut samit cuma beberapa murid, dan itupun hanya sekitar lima puluh orang.


"mereka tak tau kebahagiaan mendaki gunung untuk melihat matahari terbit," kata Arkan yang melihat semua murid antri dengan tertib untuk makan.


"sudah papi, setidaknya satu orang akan mengawasi sepuluh murid dan itu tak akan jadi masalah nantinya," kata Adit yang akan memberikan beberapa pesan pada murid yang akan ikut mereka.


para gadis akan di bimbing Tasya, dan Lily adalah ancaman besar makanya gadis itu akan bersama Adit.


bukan apa, yang di takutkan adalah jika Lily melihat sesuatu atau bahkan tanpa sengaja melakukan hal yang menyinggung penghuni di gunung itu.


acara api unggun berjalan dengan lancar, bahkan berjalan cukup meriah karena permainan yang menyenangkan.


Adit masih duduk menikmati rokok miliknya, "kamu tau ad penjual di sekitar sini gak, rokok ku habis nih," kata aryan pada keponakannya itu.


"sudah tutup kali ayah, ini jam dua sebelas malam, sudah tidur saja besok kita cari,"kata Adit.


"aduh bisa anyep ini naik tapi gak punya rokok," gumam Aryan


"salah sendiri sudah tau mau ke gunung gak stok bawa rokok banyak," ledek Adit.


Aryan pun mengambil rokok Adit, "memang kamu bawa banyak?" tanya Aryan penasaran.


"tentu,aku bawa dua pres, lumayan kan," jawabnya ringan.

__ADS_1


mendengar itu Aryan batuk, dia tak mengira jika Adit perokok berat, "kamu mau mati merokok segitu banyak?"


"ya gak di nikmatin sendiri, memang ayah kira aku separah apa," kata Adit tersenyum dan Aryan mengerti maksud dari pria itu.


__ADS_2