
Lily menghubungi semua orang, termasuk opa dan Oma nya yang masih di Jakarta.
mendengar tentang keadaan Adit,semua orang panik bukan main,bahkan Arkan dan Tasya serta anand yang baru sampai di Jombang.
tak peduli mereka lelah, mereka langsung menuju ke rumah sakit, karena mereka merasa bersalah karena tak pulang bersama dengan yang lainnya.
"bagaimana keadaannya?" tanya Tasya yang baru sampai di rumah sakit.
Lily langsung memeluk sang mami, "kondisinya sangat parah, aku minta maaf jika saja dia tak menyelamatkan Shafa,dan membiarkan aku yang pergi," kata ustadz Faraz sedih
"mas ngomong apa, kamu seperti tidak mengenal bocah itu, yang selalu saja keras kepala," kata Arkan menenangkan semuanya.
Aryan pun mengandeng tangan Riya, "kalau begitu aku akan mengantarkan Riya dulu."
"baiklah, hati-hati ya dan ingat jangan apa-apain itu anak orang, goda Arkan yang masih bisa bercanda
"kamu ini bisa-bisanya masih bercanda, Adit di dalam masih berjuang," kata Aryan tak habis pikir.
"aduh kalian lupa ya, aku dan Adit itu memiliki tubuh yang hampir mirip, mungkin akan butuh waktu, tapi aku yakin jika tubuh pemuda akan segera sembuh meski akan meninggalkan bekas yang parah," kata Arkan yang begitu yakin.
dokter yang menanggani Shafa sudah keluar, "keluarga pasien Shafa," panggil dokter.
"iya dokter?" kata semua orang.
"kondisi putri anda semua Alhamdulillah baik, meski dia menghirup asap, tapi beruntung dia di selamatkan tepat waktu," kata dokter itu.
"tapi apa luka lainnya dokter?" tanya ustadz Faraz yang sempat melihat gamis putrinya itu terbakar.
"tidak ada pak, Alhamdulillah putri anda tak ada luka lain,tapi tetap harus tinggal di rumah sakit untuk pemulihan," kata dokter itu.
"tapi bagaimana dengan pria yang tadi radang bersama dengan bocah perempuan itu," tanya Lily yang begitu menghawatirkan Adit
"sebentar lagi dokter yang menanganinya akan keluar," jawab dokter itu sebelum pergi.
ternyata benar, dokter itu keluar dan semua orang langsung menghampirinya.
"bagaimana keadaan putra kami dokter?" tanya Arkan panik.
"Alhamdulillah kondisinya sudah tak kritis lagi, tapi kami harus menempatkan pemuda itu dalam kamar steril karena lukanya bisa saja infeksi," kata dokter itu.
"baik dokter kalau seperti itu," kata Arkan.
dokter pun pamit, "sudah dengar dia baik-baik saja, dan sekarang kalian semua pulang, untuk beristirahat, biarkan aku dan mas Faraz di sini, dan mbak Kalila mending ikut pulang bareng kamu ya dek," kata Arkan.
__ADS_1
"tapi papi..." kata Lily yang tak ingin meninggalkan Adit.
"tidak ada yang boleh membantah, semuanya pulang," kata Arkan dengan tatapan tajam.
Lily pun tak bisa membantah, Tasya merangkul dan meyakinkan putrinya jika kondisi Adit baik-baik saja.
Kalila juga ikut pulang bersama Anand, dan mereka pun pergi bersama, Anand heran melihat motornya.
"kamu yang membawanya?" tanya Anand pada Lily.
"menurut mu,sudah supiri mami dan umi, aku akan bawa motor itu dan terus ikuti aku," perintah Lily.
"baiklah nona," jawab Anand.
mereka pun akhirnya pulang,terlihat Lily begitu cepat dalam mengendarai motor itu.
dan sesampainya di rumah, Lily bahkan tak peduli ada pocong yang sedang berdiri di depannya.
jika dia biasanya dia akan takut, tapi kali ini pocong itu di dorong dengan keras hingga tersungkur.
kuntilanak yang di atas pohon pun tertawa melihat pocong itu tak punya harga diri.
Lily pun memutuskan untuk mandi dan kemudian langsung tidur, sedang Tasya membantu Kalila yang nampak masih syok.
"sudah ganti baju dulu, dan tak usah sedih,aku yakin jika semuanya akan baik-baik saja, dan untuk Adit pria itu lebih kuat dari yang kamu kira," kata Tasya.
"iya mbak, kalau begitu aku izin menginap ya," kata Kalila yang sudah sangat lelah juga.
Tasya juga tidur bersama Kalila, untuk memastikan jika wanita itu baik-baik saja.
Lily berjalan di lorong gelap tanpa ada cahaya sedikit pun, tapi saat dia terus berjalan tanpa arah.
dari kejauhan terlihat ada secercah cahaya yang terlihat dari kejauhan, dengan cara lari, gadis itu mengejar-ngejar cahaya itu.
hingga dia pun menembus cahaya itu dengan cepat dan menyilaukan.
untuk sesaat aku terpaku saat melihat taman yang begitu indah. bahkan rasa geli yang aku rasakan di kakiku begitu nyata.
aroma wangi yang aku cium si seluruh tempat itu sangat menenangkan.
"ah tempat apa ini... aku dimana?"
aku berjalan tanpa henti, aku mrkigat sungai yang mengalir dengan begitu tenang.
__ADS_1
dan yang membuat aneh adalah, ikan yang berenang di dalamnya bisa terlihat karena air yang begitu bening.
bahkan rasa dingin langsung menyerang tangan ku saat aku memasukkan tangan ku kedalamnya.
"kami di sini Lily..."
suara itu, pria yang selalu ku sebut dalam doaku, pria yang selalu menjadi pilihan pertama ku.
aku menoleh dan melihat dia dengan baju putih sedang tersenyum kearah ku.
"mas Adit di sini, sudah sembuh mas?"
"iya dek, kemarilah aku akan mengajakmu berjalan-jalan menikmati kebun bunga ini," ajaknya.
aku yang mendengar itu pun merasa senang dan meski, terlebih saat tangan besar itu mengenggam tangan ku.
aku dan dia terus berjalan dengan angin yang terus menerpa rambut panjang ku.
"kamu sangat cantik dek, tapi sayang tipe wanita mas adalah gadis yang menutup auratnya,"
"apa maksud mu mas, berarti selama ini..."
Lily menatap sedih kearah Adit, "tentu saja gadis yang tertutup, seperti dia," kata Adit menunjuk seorang wanita yang menutup seluruh tubuhnya.
"mas jangan lakukan ini, aku mohon..." kata Lily yang terus mencoba menahan pria itu.
tapi Adit melepaskan tangan Lily dan berjalan mendekati wanita bercadar itu dan memeluknya di depan Lily.
"tidak!!! mas Adit!!" teriaknya hingga terbangun dari tidurnya.
dia langsung menangis sesenggukan setelah tersadar, Tasya langsung berlari dan memeluk putrinya itu.
"ada apa Lily, kenapa kamu berteriak?" tanya wanita itu khawatir.
"aku mimpi buruk mami, mas Adit..." tangis Lily yang tak bisa menceritakan apa yang dia impikan.
Tasya pun melihat jam dinding yang sudah jam empat pagi, setelah menemani Lily tidur.
dia pun memilih untuk mulai memasak untuk semua orang yang berada di rumah sakit.
dan tak lupa dia membuatkan pepes ikan kesukaan Adit yang memang suka ikan gabus.
pukul enam pagi mereka semua sarapan bersama sebelum berangkat ke rumah sakit.
__ADS_1
tak lupa Tasya membawa cukup banyak untuk sarapan semua orang, terlebih kedua orang tuanya dan Linga akan pulang juga, pasti akan langsung menuju ke rumah sakit.