
Lily sekarang sedang bersama adiknya Linga dan Adit di dalam mobil yang membawa mereka pulang.
pasalnya Adit tak boleh menunda untuk kembali bekerja, terlebih sudah terlalu lama cuti.
Adit dan Linga turun duluan untuk mengeluarkan barang, sedang Lily membayar taksi online itu.
karena keluarga mungkin akan pulang setelah pemakaman para jenazah keluarga Nino
Adit langsung berada di ruang kerjanya, sedang Linga mulai mengerjakan tugas-tugas dari sekolah karena besok dia harus mulai ke sekolah.
Lily sedang membantu Linga belajar, ya bocah itu sangat kebingungan karena tugasnya sangat banyak.
"pelan-pelan saja Linga, mbak akan membantumu menyelesaikan semuanya," kata Lily duduk di samping adiknya dan tak lupa dia membuatkan cemilan untuk keduanya.
"terima kasih ya mbak," jawab Linga.
Lily mengajari Linga semuanya, hingga tak ada lagi tugas yang tersisa, tapi setelah itu Lily merasa kepalanya sangat pusing.
Linga menoleh dan melihat Lily yang sedikit pucat, "mbak kenapa?" tanya Linga yang sangat khawatir.
"mbak baik-baik saja," jawab Lily.
Ki Dwisa langsung terbangun dari tapa yang sedang dia jalani, ini batu sepuluh hari dari apa yang terjadi.
"tidak, bagaimana kalian ingin membawanya, seharusnya masih ada tiga bulan lagi," kata Ki Dwisa.
"umur manusia sudah di tulis saat mereka di dalam kandungan, bukan di tangan mu yang hanya makhluk yang tak tau diri ingin menentang Tuhan," kata sosok berpakaian hitam itu.
"tidak!!! kalian tak boleh mengambilnya," teriak Ki Dwisa marah.
dia tak ingin Adit menjadi kecewa terlebih Lily adalah kebahagiaan pria itu.
Adit keluar membawa piring kotor, dan dia melihat istrinya sedang tidur di depan tv.
dia pun mendekat dan mencium kening Lily, tapi dia kaget saat bangkit, dia sudah bisa melihat sosok yang tak asing.
"tidak, kenapa kalian satang bukankah istriku sudah sembuh," kata Adit
__ADS_1
kedua sosok itu pun menghilang, dan membuat Adit marah karena Ki Dwisa mengingkari janjinya.
"kenapa dia membohongiku?" gumam Adit marah dan langsung pergi memanggil sosok penjaganya itu.
"kenapa kamu bohong, seharusnya aku menyembuhkan dia bukan, aku sudah mengadaikan semuanya," marah Adit.
"aku tak pernah menanggapi permintaan mu, aku bukan Tuhan, jika aku memang mengambil nyawamu sebagai jaminan, kamu sudah ku buat menjadi budakku dari awal, tapi aku tak melakukannya karena aku tau kamu mencintainya, jadi apapun yang bisa aku lakukan mengambil penyakitnya pun bisa,tapi aku tak bisa memberinya umur karena itu urusan Tuhan," jawab Ki Dwisa.
"argh...." teriak Adit frustasi.
"sudah ku katakan dari awal, dia memang wanita sok tapi bukan wamura yang tepat untuk mu," marah Ki Dwisa.
Adit pun hancur setelah mendengar ucapan dari Ki Dwisa, dia langsung pergi tanpa peduli pada makhluk itu.
dia langsung menatap Lily yang sedang tidur, dia mengusap pipi istrinya itu.
"bagaimana aku bisa hidup tanpa kamu nantinya, tolong jangan tinggalkan aku.."
Linga berdiri melihat Adit yang sedang terduduk menangis di samping Lily.
"ada apa mas..." tanya Linga yang seperti bocah terkejut.
Lily terbangun dan melihat kedua orang itu, "kalian kenapa duduk disini, memang ada apa?" tanya Lily yang heran melihat keduanya.
"aku hanya sedang lelah dan ingin menangis, apa tak boleh?" tanya Adit yang berbohong.
"hei jangan seperti itu dong mas, kamu membuatku takut saja," jawab Lily yang memeluk suaminya itu.
Adit pun mencium pipi dari istrinya itu, dia pun akan membahagiakan Lily selama kebersamaan mereka.
"dek, selama ini apa keinginan mu, apa mas boleh tau?" tanya Adit yang menahan perasaannya.
"em... keinginan ku adalah menikah dan bersamamu, itu saja cukup dan mungkin umrah bersama keluarga besar kita secara bersamaan, setelah itu baru aku bisa mati dengan tenang, benar kan?" kata Lily.
"apa yang mbak bicarakan, jangan mengatakan hal gila seperti itu," marah Linga yang mendengarnya.
"iya iya, maaf deh, tapi mas Adit mau memenuhi permintaan ku bukan,kita pergi umrah satu keluarga saja, bersama mami,papi,Linga dan kita," mohon Lily.
__ADS_1
"baiklah sayang, aku akan mengatur semuanya untuk keberangkatan kita umrah ya," kata Adit yang mengiyakan semuanya.
Lily pun merasa senang, karena Adit mau mewujudkan Semuanya. dan dengan cepat Adit langsung mengurus segalanya.
dan beruntung mereka semua sudah memiliki paspor jadi akan lebih cepat karena hanya tinggal mengurus visa.
dan dia tak menunggu lebih lama lagi untuk bisa mewujudkan impian dari istrinya itu.
malam itu papi Arkan dan mami Tasya baru pulang dari rumah Nino, mereka langsung memilih beristirahat di rumahnya.
tapi sebelum juga masuk rumah, Ki Sesnag sudah menunggunya di depan rumah dan meninggalkan tanda merah sebagai tanda kemalangan.
papi Arkan diam melihat tanda itu, "tidak... kenapa masih harus terjadi," kata papi Arkan merasa frustasi.
"ada apa papi?" tanya mami Tasya.
pria itu hanya melihat istrinya dan kemudian memeluknya, mami Tasya tak mengerti dengan apa yang terjadi.
suaminya tak akan menjadi selemah ini, tapi dia tau pasti ada masalah besar yang sedang di sembunyikan oleh suaminya.
"ada apa papi, kamu pasti menyembunyikan semuanya dari ku, jawablah atau kamu tau aku saat marah bagaimana jadi jangan bohongi aku," kata mami Tasya mendorong Suaminya itu.
"tapi aku harus bilang apa, aku akan jujur tapi jamu harus kuat dan jangan menunjukkan sikap mu yang rapih di depannya," kata papi Arkan.
mereka berdua masuk dan duduk di ruang tamu, rumah tetap gelap saat papi Arkan mulai bercerita.
setelah semua yang di ceritakan oleh papi Arkan, membuat mami Tasya sangat terkejut, pasalnya dia tak ingin kehilangan lagi.
"tidak, putriku tidak boleh mati, tolong lakukan sesuatu bawa berobat atau lakukan apapun untuknya," kata mami Tasya histeris mendengar semuanya.
"tenang sayang, aku dan Adit sudah melakukan apapun untuk putri kita, dan sekarang kita hanya terus bersamanya dan mewujudkan impian putri kita itu?" kata papi Arkan memeluk tubuh istrinya itu yang makin lemah.
"kenapa harus putriku, setelah mommy yang Tuhan ambil, kenapa sekarang putri ku ingin kamu ambil juga!" teriak mami Tasya.
mendengar itu papi Arkan sangat sedih, dia tau kehilangan anak adalah kesedihan terbesar di dalam hidup orang tua.
di rumah Adit, semua dokumen yang di butuhkan sudah siap, dan mereka akan segera berangkat umrah bersama sesuai dengan keinginan dari istrinya itu.
__ADS_1
dia tak ingin mengecewakan Lily, jadi dia memilih paket yang sangat ekslusif untuk rombongan mereka selama di rumah Allah.