
Adit memilih memisahkan diri dari rombongan yang harusnya dia jaga karena satu hal dan lainnya.
dan itu sudah pasti berimbas pada mood Lily yang langsung jelek, dan arkan tak bisa membujuk putrinya itu.
Lily terus cemberut saat menuju ke pantai, karena tadi saat dia ingin ikut Adit tapi di larang oleh Arkan.
"bagaimana tuan, puas melihat putrimu sekarang, kenapa tidak biarkan saja tadi dia pulang dengan Adit, sekarang dia cemberut seperti itu," kata Tasya tak habis pikir
"bukan begitu mi, papi cuma tak mau jika Lily terus bergantung pada Adit, memang Adit tak boleh punya kehidupan sendiri," kata Arkan.
Riya bingung melihat temannya itu, Aryan yang kasihan pun meminta supir berhenti di pinggir jalan.
"pak tolong berhenti pak, kami akan turun untuk pulang duluan," kata Aryan.
"loh Aryan, kenapa kamu kan kepala sekolahnya," kata Arkan kaget.
"kan ada kamu dan istri jadi cukup lah ya buat bimbing mereka semua, kebetulan saya ada urusan penting dan tak tenang, Lily jika mau ikut pulang bareng ayah ayo," kata Aryan.
"Lily pulang ikut ayah," jawab gadis itu yang langsung mengambil tas miliknya.
"pak saya boleh pulang juga, sebenarnya saya kepikiran sama kakek dan nenek setelah kejadian kemarin," kata Riya yang sebenarnya juga tak tenang untuk liburan.
"baiklah, saya pulang bersama mereka, pak Ari saya titip anak-anak,dan Arkan tolong bantu pak Ari ya, anand kamu juga," pesan Aryan pada ketiga pria itu.
"iya ayah, serahkan padaku," jawab Anand yang memang sudah mengerti.
terlebih pemuda itu sudah dapat jatah uang saku lebih dari ayahnya,jadi dia pun setuju-setuju saja.
Uci ingin ikut tapi anand mengeleng karena ayahnya mungkin akan kesulitan saat membawa tiga gadis sekaligus.
bus pun melanjutkan perjalanan, Lily masih terisak lirih, "sudah nduk, kita pulang kamu kenapa masih nangis sih?" tanya aryan bingung.
"semalam Lily tak sengaja dengar jika ayah dan pak Ari membicarakan tentang pernikahan. terus ayah bilang jika kenapa bisa menikah muda kenapa harus menundanya," kata Lily sedih.
__ADS_1
tiba-tiba seorang pria langsung memeluk Lily dari belakang, "sudah ku katakan, jangan menangis, mas akan memikirkan caranya," bisik Adit.
"cah keplek, kalau begitu kenapa gak kalian menikah saja, toh gak ada hubungan darah juga," kata Aryan yang mengejutkan Riya.
"aduh mas kok nyuruhnya gitu sih, mereka masih sembilan belas dan delapan gelas tahun atuh, ya kali nikah semuda itu," kata Riya kesal juga.
tapi Lulu membalikkan badannya dan menangis di pelukan Adit, dia pun ingat bagaimana sikap Adit kemarin malam.
"kenapa kemarin mas diam saat papi mengatakan semuanya, mas Adit aku ingin menjadi milik orang lain," kata Lily menantang Adit.
"aku harus apa, tak mungkin aku menentang orang tua yang sudah membesarkan aku dengan segalanya," kata Adit yang juga tak mau melukai Arkan.
"tapi aku tak mau menikah... terlebih dengan pak Ari..." kata Lily masih terisak.
"sudah-sudah kita jadi tontonan ini, sekarang kita pulang dulu, aku tak menyangka kamu bisa bawa mobil Jeep juga ternyata," kata Aryan.
"sebenarnya itu aku geli tadi saat memutuskan untuk pulang, karena akan sulit menemukan kendaraan," jawab Adit.
mereka memutuskan untuk benar-benar pulang, dan selama perjalanan Lily terus berkirim pesan dengan sang opa.
sedang Adit nampak terus diam, Aryan benar-benar tak menyukai situasi ini.
"sebenarnya kasus kalian ini tak masalah, karena pakde Alfin dan bude Aira juga melakukan hal ini, menikah saat pakde Alfin di angkat anak oleh Mbah kung, tapi bedanya, Mbah kung orang yang baik dan bisa melihat siapa yang di cintai putrinya, tapi nih orang satu kayaknya agak buta karena tak bisa melihat pengorbanan dan semua yang sudah kalian lewati bersama," kata Aryan gemas sendiri
"sudah ayah aku akan memilih diam, bagaimana pun aku tak mau melawan papi, aku bisa di minta membunuh seratus pria, tapi aku tak akan mampu mengangkat tangan ku pada pria yang mengulurkan tangannya padaku saat aku sendirian," kata Adit dengan suara sedih.
Lily pun tak kalah sedih, dia juga tak mau jadi Putri yang durhaka terhadap orang tuanya.
tapi ini masalah kehidupannya, dan jika Arkan memaksanya mungkin pilihan terbaik Lily adalah memilih meninggalkan dunia ini daripada harus menikah.
Tasya kini melihat suaminya khawatir, "kenapa, bukannya ini keinginan papi, kamu jelas tau benar bagaimana tingkah putrimu itu, dia akan melakukan apapun untuk dirinya sendiri, tak peduli itu melukai dirinya atau tidak, tapi yang jelas aku katakan jika Lily bisa berbuat nekat," kata Tasya.
"tapi akan salahku, kan aku tak menyuruhnya menikah, aku hanya bilang jika dia mau aku akan setuju, tapi kenapa putrimu itu seperti dia di paksa saja," kesal Arkan.
__ADS_1
"hei tuan,dia itu juga putrimu,bahkan sikap angkuhnya itu menurun dari siapa, aku memang keras kepala dan bakal, tapi yang angkuh itu kamu ya, aku jadi ingat siapa dulu yang sok-sokan gak mau sama gadis urakan, tapi pas nikah di sosor juga," kata Tasya tak habis pikir.
mendengar itu Aryan langsung memeluk istrinya, "aduh nyonya, kan kamu yang bikin aku dag dig dug... sampai yang di bawah ikut pusing kalau kelamaan di tahan," kata Arkan yang berhasil memancing tawa Tasya
suaminya itu memang tidak bisa bohong kalau masalah itu, jadi Tasya pun tersenyum saja.
"baiklah kalau begitu, tak usah di bahas, sekarang kita nikmati saja perjalanan ini,ya lumayan untuk cuci mata," kata Tasya.
bus akhirnya sampai di pantai yang di tuju, sedang mobil Jeep itu sampai di kota Mojokerto karena Aryan cukup cepat dalam mengemudikan mobil itu.
sebelum ke Jombang mereka berempat memilih sholat kemudian mengisi perut dulu, terlebih Riya baru bilang jika Lily tadi tak sarapan.
"sekarang kita makan nasi dulu ya, Lily jangan makan sambal kamu bisa sakit nanti," kata Adit yang sudah memesankan nasi rames.
sedang Aryan datang membawa onde-onde hangat, "loh Adit kenapa pesenin ayah es, kan ayah gak minum es," kata Aryan.
'ah itu es milik Riya, sepertinya dia sedang ke toilet tadi," kata Adit yang menyuapi Lily yang nampak ogah-ogahan.
setelah dapat setengah Lily pun melanjutkan makan sendiri, Adit benar-benar tak tau tempat untuk menunjukkan kasih sayangnya.
persis seperti Arkan dan Tasya, Aryan hanya tersenyum saja, "seandainya aku juga bisa memiliki istri yang bisa membuatku bahagia seperti Arkan,"
Riya datang dengan membawa sesuatu, "saya tau jika mas gak bisa makan tanpa kripik ini," kata gadis itu menaruh kerupuk putih.
"aduh terima kasih, kamu tau saja," kata Aryan merasa senang.
"emm... itu jika tak suka dengan buncis tikar sama punyaku, tadi buncisnya sudah ku makan duluan, itu pun juga kalau mas Aryan gak keberatan," kata Riya.
Aryan pun hanya tersenyum menukar piringnya, dan yang membuat makin terkejut adalah, saat Riya yak segan memberikan lauk miliknya pada Aryan.
"mas Aryan harus menyetor jadi makan yang kenyang," kata Riya tersenyum.
Aryan pun rasanya meleleh, karena batu kali ini dia dapat perhatian seperti ini.
__ADS_1